Bukta -Langwo (bahasa Kamang/Alor), Bukta artinya di Gunung atau dataran tinggi, dan Langwo artinya di dataran rendah atau pantai (pesisir laut).
Istilah Bukta -Langwo atau Gunung-Pantai dalam komunitas masyarakat adat Kamang, khususnya di Bukapiting kecamatan Alor Timur Laut, kabupaten Alor merupakan harmoni ekosistem sosial budaya.
Mulanya masyarakat hidup dan menetap di dataran tinggi daerah gunung dalam kampung leluhur masing-masing. Hidup dalam kesatuan budaya agraris, bertani ladang berpindah dan berburu hewan liar (babi dan rusa).
Pada masa Swapraja mereka terikat dalam Tamukung Atoita dan Kamengmi masuk swapraja/kerajaan Kolana. Setiap Ketamukungan membawahi beberapa kampung leluhur atau kampung adat yang mandiri dan eksis, diperkirakan sudah ada sejak masa prasejarah.
Tamukung Atoita meliputi kampung Atoita, Sumang, Saimang, Takaikul, Puiwela, Maumang, Maning, Susimang, Tariki, Puimota, Atomang, Pugeng, Leimang, Sinokila dan beberapa kampung sekitar.
Tamukung Kamemgmi meliputi kampung Pemako, Kamengmi, Puimang Laufa, Woikurong, Umang, Watelubui, Molimpui, Timomang Kamangwo, dan beberapa kampung sekitar.
Setiap kampung memiliki keteraturan masing-masing, ditandai dengan setiap kampung leluhur ada Mezbah (Maita – Kameng) sebagai simbol kekuasaan dan kekuatan yang masih terawat hingga kini. Dan memiliki struktur sosial adat dalam kampung.
Pada 1970-an, Masyarakat di dua Ketamukungan gunung hijrah ke dataran rendah (pantai) di Bukapiting mendiami tempat itu dengan membentuk beberapa kampung, seperti Nailang, Sidongkomang, Dingsinang, Puma’i dan Kilakawa.
Program pemerintah memindahkan masyarakat dari pegunungan ke dataran rendah agar lebih dekat akses transportasi dan terjangkau pembangunan. Di dataran Bukapiting saat itu, sudah ada akses jalan Belanda yang menghubungkan Kalabahi dan Maritaing, kini sudah dibangun jalan negara hotmix.
Bersama masyarakat beberapa kampung di dataran rendah yang masuk dalam Tamukung Petingpui yaitu kampung Petingpui, Labapang, Molpui, Supai, Kaumo, Maupai, Kamana dan beberapa kampung membentuk desa Woisika kecamatan Alor Timur saat itu.
Di tanah nan subur, tumbuh mekar berbuah beberapa desa yaitu Kamot, Nailang dan Air Mancur yang mulanya menginduk di desa Woisika sebagai yang pertama dan tertua.
Latar belakang gunung-pantai membentuk corak kehidupan masa lalu, kini dan nanti. Mayoritas masyarakat bergantung pada sektor pertanian. Hidup dalam dua tipologi lahan usaha yaitu lahan basah di sebagian dataran rendah, dan lahan kering di dataran rendah dan dataran tinggi.
Di lahan basah mereka membuat sawah menanam padi, jagung, palawija dan hortikultura sepanjang musim. Padi sawah bisa panen tiga kali setahun, demikian pula palawija dan hortikultura.
Sementara di lahan kering dataran rendah menanam tanaman musiman saat hujan dan tanaman umur panjang seperti pinang, kelapa, jambu mente, kenari, asam dan lainnya.
Di lahan kering pada dataran tinggi ditanami aneka jenis tanaman umur panjang seperti kemiri, kopi, cengkeh, vanili juga tanaman musiman seperti padi ladang, jagung, kacang dan ubi.
Hidup selaras alam gunung dan pantai, dua ekosistem yang saling menopang dan menunjang. Gunung menjadi tempat menyimpan air dikala musim hujan agar banjir bandang tak menerjang dataran rendah.
Sebaliknya pantai menyangga gunung agar tidak tergerus runtuh oleh abrasi laut yang kian mengganas akibat pemanasan global yang mencairkan es di kutub utara sehingga naiknya volume air laut ditambah eksploitasi pasir yang berlebihan.
Harmonisasi orang Kamang di Bukapiting yang berjumlah sekira 5000 jiwa menghidupi Bukta-Langwo, Gunung dan Pantai. Ada kearifan memanfaatkan sumber daya tanah dan air dengan rasa tanggung jawab. Hidup selaras alam, manfaatkan sesuai fungsi dan waktunya.
Pusat aktivitas keseharian ada di pantai dan sesekali ke gunung. Ada musim bekerja di pantai dan bekerja di gunung. Musim hujan menanam dan merawat tanaman umur panjang. Saat kemarau memanen hasil kemiri dan vanili.
Kini saatnya liburan sekolah, mengemas perkakas dan mendaki gunung mencari hasil komoditi yang kebanyakan kemiri untuk dijual ke pedagang pengumpul dengan harga yang fluktuatif antara Rp15.000 sampai Rp30.000 per kilogram kemiri bersih. Meskipun pernah menembus angka Rp40.000 lebih pada belasan tahun silam.
Sehabis menukar buah kemiri dengan rupiah, anak-anak dan orang tua bergegas ke pantai untuk keperluan pendidikan dan melanjutkan asa di tanah datar ladang dan sawah yang meranggas saat kemarau.
Siklus kehidupan yang terus dijejaki saban hari, selagi asa masih terjaga di sanubari. Harmoni hidup gunung dan pantai. Kita tidak bisa menghidupi pantai tanpa merawat gunung dan sebaliknya. Berdiri di atas kedua kaki yang kokoh. Bukta-Langwo, Sikomang-Simane, Tolkon Woba Kangda. (Tim Redaksi)









