“Harapan Baru” di Tangan Yohanes Hans Monteiro, Uskup Terpilih Larantuka

oleh -1510 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Anselmus DW Atasoge

RD. Dr. Yohanes Hans Monteiro, seorang imam Keuskupan Larantuka, alumni doktoral dari University of Vienna, Faculty of Catholic Theology. Ia boleh terbilang sebagai ‘pribadi’ yang menyalakan api intelektual dan pastoral di Flores. Sebagai dosen di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, ia menempatkan liturgi lebih dari sekadar ritus, melainkan ruang perjumpaan antara iman, budaya, dan kehidupan umat Allah.

Dalam karya-karyanya, mulai dari kajian tentang Semana Santa Larantuka hingga refleksi tentang teologi migrasi, Romo Hans Monteiro menegaskan bahwa liturgi adalah memoria passionis, ingatan akan misteri Kristus yang terus hidup dalam denyut sejarah manusia. Seperti dikatakan Santo Agustinus, Gereja adalah Corpus Christi totus, tubuh Kristus yang utuh, di mana setiap anggota berfungsi demi keselamatan bersama. Romo Hans Monteiro menghadirkan gagasan ini dalam konteks lokal, menjembatani universalitas Gereja dengan partikularitas budaya Flores.

Sebagai pembimbing calon imam di Rumah Formasi Interdiosesan di Ritapiret dan para mahasiswa calon imam yang studi filsafat dan teologi di Ledalero, Romo Hans Monteiro menekankan bahwa panggilan selalu menampilkan dua wajah yakni soal formasi intelektual dan pembentukan hati yang siap melayani.

Akan hal ini, Paus Fransiskus pernah menegaskan bahwa tugas seorang Uskup dan imam adalah meneguhkan iman, kasih, dan kesatuan. Romo Hans Monteiro menghidupi pesan ini dengan menghadirkan liturgi sebagai doa yang bersemi di hati umat, harapan yang menari di jiwa, dan syukur yang mengalir dalam budaya. Dalam semangat Konsili Vatikan II, khususnya Lumen Gentium (no. 23), ditegaskan bahwa para Uskup adalah “tanda kelihatan dari kesatuan Gereja dalam iman dan kasih.” Gagasan ini menemukan gema dalam karya Romo Hans: liturgi dan teologi yang ia ajarkan membangun kesalehan pribadi, serentak pula meneguhkan kesatuan Gereja universal dengan Gereja lokal.

Kini, Romo Yohanes Hans Monteiro dipercaya sebagai uskup terpilih Keuskupan Larantuka, sebuah penunjukan yang menandai babak baru bagi Gereja lokal yang dikenal sebagai pusat devosi Semana Santa. Sebagai imam sekaligus akademisi, ia telah lama menekuni bidang teologi liturgi, contextual theology, dan teologi vokasi, dengan karya-karya yang konsisten menghubungkan liturgi dengan konteks sosial dan budaya lokal.

Karya-karyanya seperti Die Osternachtfeier in der römischen Liturgie (University of Vienna, 2020), Die Covid-19-Pandemie in Indonesien: Ein Ruf zum “hygienischen“ Gottesdienst (Aschendorff, 2020), Teologi dan Liturgi Sakramen (2020), Semana Santa di Larantuka (2020), Pendidikan Calon Imam di Flores dalam Paradigma Misi Inter Gentes (2024), dan Memoria Passionis dalam Perayaan Ekaristi sebagai Dasar Teologi Migrasi (2025) menunjukkan komitmen Monteiro untuk menghadirkan refleksi teologis yang relevan dengan kehidupan umat.

Dalam karya Semana Santa di Larantuka, Romo Hans Monteiro menegaskan bahwa perayaan tersebut tidak dapat direduksi sekadar sebagai ritual budaya, melainkan harus dipahami sebagai bentuk partisipasi iman yang menghubungkan umat dengan misteri sentral iman Katolik, yakni sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus.

Penekanan ini menunjukkan orientasi teologis yang menempatkan liturgi sebagai locus perjumpaan antara tradisi dan aktualisasi iman, di mana umat tidak hanya melestarikan warisan religius, tetapi juga menghidupinya dalam konteks sosial dan historis yang terus berubah. Di titik ini, Romo Hans Monteiro tampil sebagai figur yang sekaligus menjaga kontinuitas tradisi dan menghadirkan pembaruan, melalui penafsiran liturgi yang relevan dengan dinamika zaman serta kebutuhan pastoral umat.

Sebagai uskup terpilih, Romo Hans Monteiro tentu akan membawa visi yang berakar pada pengalaman akademis dan pastoralnya. Ia memahami bahwa liturgi di satu sisi merupakan ‘perayaan sakral’, tetapi juga di sisi lain merupakan ‘ruang perjumpaan iman’ yang membentuk identitas sosial dan budaya umat.

Dengan latar belakang Flores Timur yang kaya akan tradisi, Romo Hans Monteiro diharapkan mampu menjaga kekayaan iman sekaligus membuka ruang pembaruan agar Gereja tetap hidup dan relevan. Gaya kepemimpinannya diperkirakan akan menggabungkan kedalaman akademis dengan kepekaan pastoralnya. Di sana, dari satu sisi ke-menggereja-an, Keuskupan Larantuka dapat terus menjadi pusat devosi yang berakar secara lokal, tetapi juga memiliki resonansi universal.

Dalam konteks ini, Romo Yohanes Hans Monteiro layak disebut sebagai ‘teolog kontekstual’ yang kini dipanggil untuk menjadi gembala umat di Keuskupan Larantuka. Kita berharap agar Romo Hans hadir sebagai jembatan antara tradisi Gereja dan konteks lokal, seorang imam-teolog yang menulis bukan hanya dengan pena, tetapi dengan kehidupan yang berakar pada tanah Flores dan berpaut pada kesatuan Katolik yang tak terputus. Harapan baru kini bersemi di tangan uskup terpilih Larantuka, yang akan menuntun umat menuju pembaruan iman yang lebih mendalam, sambil menjaga nyala tradisi Semana Santa sebagai warisan iman yang terus hidup dalam denyut sejarah.

Salam hormat dari Kota Pancasila, Ende buat Mgr. Hans Monteiro.****

Penulis adalah Warga Keuskupan Larantuka, Tinggal di Ende

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.