Luka Batin?

oleh -1637 Dilihat
banner 468x60

Israel lebih mengasihi Yusuf. Saudara-saudara Yusuf membenci ayah dan saudara bungsu mereka. Pilih kasih picu luka batin? Bisa ya bisa tidak.

Yang jelas sikap ‘lebih mengasihi’ telah membuat luka di hati, marah di mulut, niat jahat di kepala, kasar di badan. Bisakah luka batin disembuhkan?

Israel lebih mengasihi Yusuf, tidak sama dengan tidak atau kurang mengasihi anak-anak lainnya. Beberapa tahun kemudian, walaupun Yusuf dibuang dan dijual oleh karena luka batin saudara-saudaranya, ia tetap mengasihi mereka. Cinta mengalahkan segalanya.

Dengan mengampuni, Yusuf membaharui perspektif persaudaraan. Bahwa marah itu, efeknya “sedarah pun bisa menjadi berdarah-darah”. Yusuf memadamkan letupan api emosi negatif dari saudara-saudaranya dengan siraman kasih sedarah dari keturunan mereka.

Nah, ketika kasih dirasakan, maaf diberikan, pelukan menghangatkan, ucapan meneguhkan, senyuman meneduhkan. Baik pengampun dan yang diampuni memiliki hati yang “plong”.

Seringkali kita menuntut kasih yang penuh dari orang yang kita percaya. Namun seringkali juga kita lupa hak orang itu untuk memilih siapa yang harus dikasihi.

Kemarahan, kebencian, dendam, kesepian, trauma dan termasuk galau akut justru timbul dari rasa menuntut dikasihi daripada harus mengasihi.

Kita butuh kata maaf. Entah memaafkan atau dimaafkan. Maaf itu butuh ikhlas. Ikhlas berarti diam. Jika bicara berulang tentang luka, itu iklan.

Luka batin? Ya ada di dirimu dan diriku ketika rutinitas kita terpusat pada menghitung jumlah luka dan angka trauma yang kita alami.

*Luka batin? Kalau mau sembuh, bersedialah disembuhkan.

Oleh: Sintia Bili
Penulis adalah Mahasiswa Semester IV Prodi IKom Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang. San Juan Penfui.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.