Warga Baduy

oleh -100 Dilihat
banner 468x60

Bersama para santri aku menelusuri perkampungan Baduy, bersahabat dengan mereka sebagai manusia beriman dan berketuhanan Yang Maha Esa. Meski tak jarang manusia modern menilai mereka sebagai liyan yang dianggap marjinal. Mereka tak punya kekuatan apa pun, meski ada saja yang menganggap “musuh” yang merecoki dan membahayakan.

Padahal, mereka telah merawat lingkungan, khususnya kelestarian hutan sebagai paru-paru dunia. Namun, manusia pos-industrial kadang tak menyadari bahwa mereka sendirilah yang telah membabat hutan lindung; menebangi kayu-kayu tropis untuk membuat segala perabot yang menjejali rumah-tangga mereka; yang belum tentu dimanfaatkan sebagai peruntukan primer yang membawa maslahat.

Selama ini, manusia modern merasa diri selaku pembangun peradaban bahkan khalifah di muka bumi. Namun, boleh jadi Tuhan menggolongkan mereka sebagai makhluk-makhluk buas, pembakar dan pembabat hutan-hutan, perusak alam dan lingkungan. Mereka menciptakan pembatas karena memberhalakan sistem yang mereka ciptakan sendiri; suatu berhala psikologis yang bersemayam dalam imajinasi mereka sendiri.

Mereka menganggap warga Baduy seolah T-Rex atau Alien, atau sejenis Yakjuj dan Makjuj, sebagai simbol yang dibangun oleh halusinasi dan ketakutannya sendiri. Padahal sejatinya, merekalah yang melindungi gunung-gunung hijau dan pepohonan, memberdayakan alam lingkungan, serta membuat ekosistem bagi makhluk hidup tetap terjaga kelestariannya. ***

Oleh: K.H. Ahmad Rafiuddin

(Ketua Tanfidziyah PBNU Jakarta, Pengasuh Pesantren Tebuireng 09, Rangkasbitung, Banten, juga menulis esai dan puisi keislaman di berbagai media nasional luring dan daring)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.