Upah yang Tak Pernah Cukup

oleh -214 Dilihat
banner 468x60

Di pagi buta mereka sudah berjalan mengejar waktu yang tak pernah ramah.

Keringat jadi bahasa paling jujur di negeri yang sering lupa mendengar.

Mesin-mesin berdetak lebih keras, lebih keras dari hati, target lebih tinggi dari mimpi.

Tangan bekerja tanpa banyak tanya tapi hidup tetap saja terasa sempit.

Janji-janji datang seperti hujan deras di awal, hilang tanpa bekas, nama pemimpin berganti tiap masa.

Nasib kaum buruh tetap di garis yang sama, harga naik pelan-pelan menikam. Sementara upah diam di tempat.

Mereka menghitung dengan cemas antara makan hari ini atau bertahan esok

Di jalan, suara mereka kadang menggema spanduk dibentang, harapan diangkat.

Tapi sering kali hanya jadi tontonan, lalu hilang ditelan berita sesaat.

Kupang, 1 Mei 2026

Oleh: Aprianus Gregorian Bahtera

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.