Doa menetes dari langit
seperti atap bocor di Biara Mont-Saint-Michel,
airnya asin—
barangkali laut yang ikut sembahyang
tanpa imam.
Aku bersujud di trotoar Fifth Avenue,
aspal mengucap amin dengan suara knalpot,
dan lututku bergetar
seperti lilin-lilin kecil di katedral Köln
yang kehabisan malam.
Puasa bukan menahan lapar,
membungkam mesin
yang terus memerintah hasrat.
Hutan Black Forest berzikir
lebih khusyuk daripada mulutku.
Meditasi adalah luka
yang duduk diam.
Ritual memarut waktu
menjadi serpih-serpih sunyi.
Aku melihat tasbih
dibuat dari plastik industri,
dan Tuhan tersenyum getir
di balik kabut Sungai Seine—
ibadah terlalu sering
menjadi kebiasaan,
jarang menjadi gentar.
Maret 2026
Oleh: Fileski Walidha Tanjung








