Kehidupan Kekerasan: Tantangan Pendidikan Anak di Indonesia

oleh -738 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Hermanus Sandyawan No’om

Pendidikan adalah gerbang utama untuk mencapai cita-cita. Di Indonesia, sekolah diharapkan sebagai tempat untuk belajar, berkembang, dan meraih masa depan yang lebih baik. Pada sebagian anak, meski kehidupan orang tua tidak menjanjikan apa-apa dan bersekolah merupakan kemewahan, cita-cita akan hidup yang baik atau sukses, tetap menjadi harapan yang bisa digapai dari sekolah. Namun, kehidupan yang keras diluar jam sekolah secara tidak langsung membuat anak menginterpretasikan nilai-nilai keadilan setara dengan kekerasan.

Salah satu contoh nyata yang menunjukan kekerasan yang dialami anak sekolah adalah kasus yang sangat tragis yang terjadi di Bajawa tepatnya di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ceritanya seorang anak sekolah dasar (SD), yang berusia 10 tahun ditemukan mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Sebelum kejadian, anak tersebut meniggalkan sebuah surat perpisahan kepada ibunya yang ditulis dalam bahasa daerah Bajawa. Dalam surat tersebut, anak itu mengungkapkan kekecewaannya terhadap ibunya yang tidak bisa membelikan perlengkapan sekolah seperti buku dan pulpen.

Peristiwa ini, menakutkan atau mengguncang masyarakat karena dapat menunjukan bahwa tekanan ekonomi dan kondisi keluarga dapat berdampak sangat besar terhadap psikologi anak. Dalam kasus ini dapat dilihat bahwa kehidupan diluar sekolah lebih keras daripada kehidupan didalam sekolah. Kasus ini terjadi karena hidup dalam kemiskinan, kurangnya perhatian keluarga, dan tekanan sosial yang dapat mengalami beban emosianal yang berat bagi seorang anak sehingga merasa putus asa dan sendirian.

Dalam paper dr. Doddy Haryadi menyatakan bahwa “padahal kita sekalian sudah tahu, pendidikan itu tak hanya di sekolah, tetapi juga di rumah dan di tengah masyarakat. Artinya orang tua juga berperan besar untuk mendidik atau memperhatikan anaknya”. Kasus di Bajawa ini dikarenakan minimnya perhatian keluarga terhadap pendidikan anak. Peran orang tua bukan sekadar memenuhi kebutuhan fisik, melainkan juga harus mengikuti perkembangan seorang anak didalam sekolah dengan cara memperhatikan dan memenuhi apa yang dibutuhkan anaknnya seperti kebutuhan pokok anak sekolah yaitu buku dan pulpen. Di luar semua itu, banyak masyarakat yang protes terhadap pemerintah Indonesia.

Masyarakat meminta perhatian dari pemerintah supaya memiliki arah pendidikan yang jelas dan komitmen yang tinggi terhadap masa depan anak-anak pendidikan di Indonesia. Hal ini bisa dilakukan dengan cara pemerintah harus memperhatikan dan menyumbangkan bantuan pendidikan kepada masyarakat yang kurang mampu (miskin), supaya arah pendidikan anak di Indonesia jelas dan menuju masa depan yang cerah.

Menurut saya, kasus di Bajawa, Kabupaten Ngada, NTT ini bukan hanya kesalahan dari keluarga si korban. Hal ini juga merupakan sebuah kesalahan terbesar bagi pemerintah Indonesia yang tidak memperhatihan masyarakat-masyarakat yang miskin malah membuat program membagi makanan gratis bagi masyarakat yang dimana ini menurut saya merupakan program dungu atau bodoh atau tidak terlalu penting yang dibuat oleh pemerintah Indonesia.

Kasus di Bajawa ini, jika menggunakan perspektif progresif atau komunitarian, kasus ini menunjukan bahwa pemimpin negara dan masyarakat memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi anak-anak. Dalam hal pendidikan negara atau masyarakat seharusnya tidak hanya menyediakan ruang belajar, tetapi juga menjamin bahwa kebutuhan dasar anak-anak pendidikan di Indonesia terpenuhi seperti buku dan pulpen. Jika seorang anak pendidik tidak mampu membeli perlengkapan sekolah yang sangat sederhana, seperti kasus di Bajawa tidak mampu membeli buku dan pulpen, hal itu menunjukan adanya ketimpangan sosial yang serius dalam sistem pendidikan.

Kehidupan kekerasan yang dialami anak-anak di luar sekolah tidak boleh dianggap sebagai hal biasa. Hal tersebut menjadi perhatian serius bagi pemerintah Indonesia maupun masyarakat. Program bantuan pendidikan, beasiswa, serta perlindungan anak menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang menuju masa depan yang baik.

Sementara itu, dari perspektif konservatif atau liberal, kasus di Bajawa ini, mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam membangun emosional yang kuat dengan anak. Dukungan, perhatian, dan komunikasi yang baik dari orang tua sangatlah penting agar anak tidak merasa sendirian ketika menghadapi kesulitan hidup. Peristiwa tragis di Bajawa ini, dilihat sebagai tanda bahwa si korban mengalami tekanan emoional yang tidak terpenuhi dengan baik (tidak mampu membeli buku dan pulpen).

Oleh karena itu, perspektif konservatif menekankan pentingnya komunikasi yang lebih dalam dengan keluarga, penguatan nila-nilai moral, serta pendampingan orang tua dalam kehidupan anak. Sementara itu, perspektif liberal, peristiwa tragis di Bajawa ini, lebih pada menekankan hak individu serta pentingnya perlindungan sosial dari negara dan masyarakat sekitar. Pemimpin negara diharapkan hadir melalui berbagai program sosial agar anak-anak tidak merasa tertekan oleh karena kondisi ekonomi atau lingkungan yang sulit. Baik perspektif konservatif maupun perspektif liberal memberi cara pandang yang berbeda tetapi saling melengkapi. Kasus di Bajawa ini, menjadi pengingat anak-anak pendidikan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak seperti keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara agar dapat tumbuh dengan harapan dan rasa aman dalam menghadapi kehidupan.

Dengan demikian, kasus tragis di Bajawa kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak bisa dipisahkan dari kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Kehidupan di luar sekolah juga dapat mempengaruhi perkembangan anak. Oleh karena itu, harus memperbaiki sistem pendidikan disertai dengan perhatian terhadap kesejahteraan keluarga, kesehatan mentas seorang anak, serta dukungan dari masyarakat. Kasus ini juga sebagai bahan refleksi bagi para pemegang kekuasaan saat ini, untuk tidak asyik bergumul dengan politik praktis sesaat dan hanya ngorok di kursi empuk, tetapi harus lebih memperhatikan nasib bangsa ini yaitu bangsa Indonesia sekarang dan ke depan.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.