Ayah,
laut tempat kau ajari aku berenang
telah menjadi telaga lumpur.
Ikan-ikan yang dulu kau juluki “kawan kecilmu”,
kini tinggal gambar di buku paket sekolah.
Kau bilang tanah ini milik nenek moyang,
lalu kenapa kau jual tanpa menggelar tikar warisan?
Ibu menangis diam-diam,
karena suara tangis tak bisa menembus
konferensi pers.
Ayah,
jika langit murka,
bukan karena petir,
tapi karena seorang anak
telah kehilangan rumah
yang dulu kau sebut laut.
Juni 2025
Oleh: Fileski Walidha Tanjung








