Para tetangga Fulan memberi peringatan, “Untuk apakah kau menanam pohon apel itu? Bukankah sebentar lagi akan datang hari kiamat?”
Dengan tekun dan cekatan pohon-pohon apel itu tetap ditanam Fulan dalam keadaan gelap, karena asap-asap dukhan berdatangan menyelimuti langit.
Keesokan pagi di hari Jumat, tepat sekali dugaan mereka, Malaikat Israfil meniup sangkakala, hingga bergelimpangan umat manusia menghembuskan nafas terakhirnya.
Tak berapa lama, Fulan terbangun dari tidurnya, serta menemukan dirinya tersadar di sebuah balai-balai tempat peristirahatan, dikelilingi pohon-pohon apel dengan buahnya yang ranum dan matang.
Sedangkan di kejauhan sana, tampak para tetangga Fulan terbangun di sekitar pohon-pohon ilalang yang kering, tanpa sebatang pun pohon berbuah di sekeliling mereka. (*)
Oleh: Mu’min Roup
(Dosen dan peneliti pada Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, juga menulis prosa dan esai di berbagai media nasional cetak dan online)









