Ibu selalu bergegas pagi-pagi buta
Kami pun acapkali terburu-buru
Tersedak air pun tak sempat mengunyah
Lalu kami berangkat pagi-pagi
Di sekolah hanya ada tukang kebun
Kami pulang ke rumah
Dan kami tunggu ibu sampai senja
Bertahun-tahun
Kami lupa bau keringat ibu
Yang kuingat hanyalah teriakan yang memekakkan telinga ‘sana pergi, ibu capek sekali’
Lalu kalau ibu capek
Kenapa tidak berhenti saja
Lantas
Kami lihat bapak termangu di depan jendela
Terkadang terkantuk-kantuk
Tak jarang membenturkan wajahnya yang dulu gagah merebut ibu dari yang lebih mapan
darinya
Ibu lama sekali
Seragam kami tak cukup lagi
Maret 2025
Oleh: Fileski Walidha Tanjung








