Di senja yang menggulung cahaya ke pelukan langit, dua jiwa masih berdiri di tepian waktu. Tak lagi muda, namun tetap utuh, seperti lentera yang tak padam meski diterpa musim.
Langkah mereka tak selalu ringan, namun selalu searah. Di bawah langit yang tak selalu cerah, mereka tetap saling menjadi teduh.
Tak ada tanya tentang abadi, tak ada ragu tentang setia, tanya gema dari janji yang dulu terucap, masih bergetar di antara detik yang tak pernah lupa.
Pelukan tak lagi memburu, namun menjadi tempat pulang yang paling sunyi. Tangan yang dulu menggenggam dengan ragu, kini erat dalam kehangatan yang tak pernah pudar.
Canda tak lagi riuh, namun tetap menjadi nyanyian yang jujur. Segala yang berlalu tak menjadi penghalang, untuk saling memberi dalam kesederhanaan.
Biarlah waktu menjadi saksi, yang kelak mengisahkan pada anak dan cucu: Bahwa selepas gelap, selalu ada cahaya yang menunggu.
Biarlah hari-hari tetap seperti ini, dengan meja makan yang tak pernah sepi, dengan tawa kecil yang mengisi ruang, dengan cinta yang tak perlu alasan.
Dalam detik yang menjelma tawa, tertulis kisah tentang dua insan yang tak pernah menyerah. Nyaman bukan karena sempurna, melainkan karena saling menyempurnakan.
Pada ujung waktu yang terus berjalan, masih ada cinta yang tak ingin pergi. Masih ada pelukan yang tak ingin lepas. Masih ada janji yang tak perlu diucap ulang.
Biarkan waktu bernyanyi, melukis kisah ini di kanvas kehidupan. Tentang hangat dan setia yang menjadi pondasi, bagi generasi yang akan datang.
Selamat ulang tahun pernikahan ke-27, untuk cinta yang telah menjaga cahaya, dan menjadikannya rumah, yang tak pernah kehilangan arah.
Oleh: Bernardus Badj







