Aku berdoa seperti sungai kecil yang lupa arah di bawah bayangan katedral Notre-Dame yang batu-batunya berdehem, menahan abu sejarah.
Sajadahku terbuat dari debu industri, bau solar, dan ingatan hutan pinus Skandinavia yang ditebang tanpa sempat mengucap amin.
Doa menguap seperti uap espresso di Piazza Navona, ritual tinggal gerak tubuh tanpa roh, tanpa luka.
Puasa menjadi jadwal, meditasi seperti aplikasi yang macet di jalan Fifth Avenue tempat Tuhan antri bersama manusia yang kelelahan menyebut nama-Nya.
Aku menyembahbukan karena suci, melainkan karena takut kepada sunyi yang tak bisa dijelaskan kitab.
Ibadahku gagap, seperti lidah Babel yang pecah sebelum sempat sampai langit.
Desember 2025
Oleh: Fileski W. Tanjung








