Api menjilat etalase seperti lidah serigala yang lapar emas.
Jakarta berubah menjadi kitab hangus yang dibaca angin dengan suara gemetar.
Di jalan-jalan, ban-ban terbakar seperti matahari kecil yang dikutuk asap.
Dan langit menggantung rendah, hitam seperti paru-paru para buruh.
Perempuan-perempuan berlari membawa bayi dan kenangan.
Kaca-kaca pecah seperti doa yang dilempar dari mulut kelaparan.
Di sudut kota, seorang lelaki mencium televisi rusak seperti mencium makam ayahnya.
Sementara toko-toko roboh pelan, seperti gajah tua yang kehabisan hutan.
Jakarta menjadi hutan tanpa burung.
Gedung-gedung menari dengan tulang api di jendela mereka.
Orang-orang menjarah beras, mie instan, dan rasa takut.
Seolah perut lebih suci daripada kitab-kitab hukum.
Di atas semuanya, langit diam.
Terlalu banyak asap memasuki tenggorokan malaikat.
Dan Tuhan—barangkali—sedang memalingkan wajah-Nya sebentar, agar manusia melihat sendiri rupa haus yang dipeliharanya berabad-abad.
(terinspirasi Kerusuhan Mei 1998)
Oleh: Fileski Walidha Tanjung








