Di sudut taman kota, ibu duduk termangu.
Entah kagum atau bungkam dengan panorama
ruang yang terlampau lapang. Semesta direkayasa
dengan aneka rasa dan juga cita rasa. Ibu hanya termangu.
Maklum, ibu baru tahu bahwa anak-anaknya sudah mahir
berdandan, tanpa perlu tahu tampan.
Ibuku bisu, melihat bocah tengil itu tersenyum simpul
padanya, sembari menanti lambai jari dari yang berhati.
Konon, ibu dan bapaknya sedang mempercantik hidup
di beranda sebelah. Ibuku bisu, ketika kota penuh tumpukkan
luka, asupan asap air mata dan para bocah yang setia
meminta-minta tawa wali kota. Ibuku bisu:
“karena kota sudah sumpek dengan sumpah serapah”.
Oleh: Lobio Amin
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang








