Aku adalah tanah di bawah kaki anak-anak yang melompat riang,
tanah tempat nenek moyang dibaringkan tanpa batu nisan.
Di hutan yang dicabut dari akarnya sendiri,
masyarakat adat duduk seperti patung yang lupa bahasa
Kami tidak bersuara,
karena kami bukan mikrofon, bukan televisi, bukan baliho.
Peluh kami mengaliri sungai yang
menghidupi kota-kota yang kini melupakannya.
Tiap nyanyian kebangsaan terdengar asing,
karena kami punya lagu sendiri,
yang dinyanyikan oleh burung-burung
yang kini ditembak demi meriahnya parade.
Agustus 2025
Oleh: Fileski Walidha Tanjung







