Di bawah langit kelabu, darah mengalir memenuhi reruntuhan
Menjadi bukti kekejaman dan penyiksaan
Air mata, rasa sakit dan luka adalah teman akrab mengisi hari-hari, meninggalkan kepingan tragedi.
Rumah-rumah hancur mengubur mimpi, bagi tiap jiwa-jiwa yang syahid dipanggil sang Illahi.
Anak-anak kecil menatap nanar, mencari orang tua mereka dengan suara isakan dan tubuh gemetar.
Berlarian di antara puing-puing bangunan menangis menunggu uluran tangan dan keadilan.
Suara bom menggema sepanjang hari, mengguncang kemanusiaan, menghilangkan nyawa orang-orang yang berusaha bertahan di tengah kepungan kesedihan.
Bau darah dan debu memenuhi udara, mengirim bayangan kematian di atas kepala mereka.
Kabar duka telah lama menjadi sahabat bagi sanak saudara, kerabat dan teman-teman yang telah syahid di jalan-Nya.
Masihkah kita bungkam akan kejahatan paling keji dan kejam dari orang-orang yang berhati bengis, menghancurkan sesama tanpa belas kasih dan rasa iba?
Masihkah kita bungkam akan penderitaan yang memeluk erat saudara kita di bawah bayangan kekerasan dan senjata?
Masihkah kita bungkam akan penindasan yang menimpa mereka?
Gaza lagi-lagi berdarah, berubah menjadi lautan merah.
Lamongan, 9 April 2025
Oleh: Lusa Indrawati








