Kususuri sepanjang pantai indah di daerah Anyer dan Carita yang masih tergenang air laut karena tsunami dan meletusnya Anak Krakatau. Kulihat orang-orang lalu-lalang membagikan mie instan di tenda-tenda penampungan. Tak berapa lama, terjerat sebagian dari mereka dalam kasus korupsi bantuan bencana alam.
Para korban bencana disatukan dalam satu bangsal, dengan ratusan anak-anak SD yang keracunan makanan bergizi. Keesokannya, berdatangan para wakil rakyat mengunjungi korban sambil membawa kamera dan ponsel-ponsel merek termahal. Mereka mengaku banyak jasanya lantaran sibuk membangun jembatan di wilayah Puncak yang tahu-tahu kebanjiran, serta mengerahkan regu pemadam kebakaran di wilayah hutan-hutan hijau belantara Kalimantan.
Sementara itu, di layar teve terpampang para mubalig dan penceramah yang senang ditertawakan karena guyonan dan lelucon yang menggembirakan. Ceramah agama yang menghibur ribuan jamaah terlantar bergelimpangan, bagaikan ayam-ayam di dalam lumbung yang kuyu dan mati karena kelaparan.
Sepulang dari lapangan aku merebahkan diri di atas sofa, menyaksikan tayangan ulang tentang maraknya korupsi di badan yudikatif dan kejaksaan; mantan presiden yang merakyat namun keranjingan dinasti kekuasaan; juga perihal sang presiden baru yang berjoget senang setelah memenangkan kontestasi di panggung kekuasaan.
Ia berpidato di depan publik tentang bangsa Indonesia sebagai rakyat marjinal; kaum inlander yang pantas jadi kacung dan kuli babu yang diperas tenaganya bagi kaum majikan dan bangsawan. Sedangkan, para alim ulama ikut cium tangan, setelah mendapat mandat dan kedudukan dalam kursi pemerintahan.
Seketika itu, para pengusaha dan pemodal bersuka-cita, karena prospek kapitalisme yang siap tinggal landas, demi masa depan ekonomi yang dikira akan mencerahkan.
Ya, selalu saja dari zaman ke zaman, para penguasa, pengusaha, dan tokoh-tokoh agama, menjadi kolaborasi tritunggal demi untuk melestarikan agenda dan cita-cita yang berseberangan dengan jalannya kebenaran dan keadilan, bagi segenap rakyat yang lagi-lagi dijadikan korban landasan. ***
Oleh: Hafis Azhari
(Penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten)







