Urgensi Etika Lingkungan, Membangun Kesadaran Mahasiswa Terhadap Kelestarian Alam

oleh -168 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Efrem Yoseph Riwu

Persoalan yang menjadi trending topik dan menjadi hal yang sudah terbiasa untuk dibicarakan dunia dewasa ini yakni masalah lingkungan. Fenomena ini seringkali menjadi pemicu bagi semua orang dan menjadi keresahan sebagian orang akibat kerusakan lingkungan yang sering terjadi. Coba perhatikan di sekitar kita atau fenomena yang sering kita temukan, kotak plastik berserakan di mana-mana, kotak makanan maupun minuman menumpuk di sudut-sudut taman dan spanduk bertuliskan Go Green masih terpampang gagah di dinding. Ironi dan fenomena seperti ini bukanlah hal biasa bagi semua orang.

Mahasiswa yang merupakan agen generasi penerus masa depan dan berpikir kritis serta lebih dikenal dengan dunia intelektual justru mengabaikan persoalan seperti ini. Hal ini menjadi sebuah pertanyaan bagi semua orang, di mana letak kepedulian kaum terdidik? Banjir yang menjadi suatu fenomena yang sering terjadi, tumpukan sampah plastik yang mencemari laut adalah tanda bahwa krisis lingkungan sudah menjadi hal yang dibiasakan oleh setiap orang. Ketika menghadapi persoalan seperti ini, banyak orang menganggap bahwa persoalan-persoalan seperti ini adalah urusan pemerintah, aktivis, dinas lingkungan, ataupun pihak yang berwenang. Seolah-olah masalah seperti ini hanya ditangani oleh pihak-pihak tersebut.

Aturan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam setiap tuntutan dan pekerjaan. Larangan untuk membuang sampah dan berbagai sanksi yang diterima diperlukan oleh semua orang. Namun, aturan hanya diterapkan ketika pihak yang berwenang turun langsung ke lapangan atau ada yang mengawasi. Tuntutan etika dalam bekerja menumbuhkan kesadaran setiap orang untuk menjaga lingkungan bukan karena takut ditegur tetapi karena yakin bahwa merawat bumi dan merawat lingkungan merupakan suatu hal yang sangat penting demi menyelamatkan semua orang dan menjadi pewaris bagi generasi masa depan.

Dalam hal ini mahasiswa yang merupakan tonggak dan fondasi intelektual mestinya berada pada garda terdepan untuk menyuarakan persoalan-persoalan seperti ini. Mengapa hal ini penting, pertama, mahasiswa lebih banyak mengakses ilmu pengetahuan dan mampu untuk mengolah ilmu pengetahuan tersebut dengan tujuan untuk suatu hal yang merujuk pada kebaikan. Mampu membaca data, melakukan riset, penelitian dan menyadari bahwa konsekuensi jangka panjang dari kerusakan lingkungan. Ilmu yang sudah diperoleh tersebut jika tidak diterapkan dengan baik akan menjadi suatu hal yang bobrok.

Kedua, mahasiswa adalah calon pemimpin masa depan. Sebagai orang yang membawa agen perubahan dan memperoleh gelar sarjana mestinya akan terus menerapkan suatu kebiasaan seperti ini. Mahasiswa yang sering mengabaikan persoalan seperti ini akan sulit untuk menjadi pemimpin. Ketiga, mahasiswa memiliki daya pengaruh yang kuat. Satu teladan akan membawa pengaruh bagi orang lain.

Etika lingkungan mesti dibangun dari kesadaran dan kebiasaan setiap orang. Mulailah dari hal-hal kecil. Pada level pribadi, mahasiswa semestinya membawa botol, membawa makanan dengan tempat nasi, memilah sampah dan mengurangi pemakaian plastik dan kertas. Pada level yang kedua di bidang organisasi. Aksi bersih atau seminar tentang lingkungan hidup merupakan hal yang mesti dijalankan. Pada level yang ketiga di bidang kampus. Kampus perlu menyediakan fasilitas pemilahan sampah, menerapkan kebijakan hemat energi, rutin melakukan kegiatan seminar berkaitan dengan lingkungan hidup dan menerapkan mengadakan bakti kampus. Dosen pun perlu menjadi teladan, sebab mahasiswa belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan tetapi dari apa yang dilihat.

Lingkungan di sekitar tidak memerlukan seorang mahasiswa yang hanya pandai berorasi dan sering melakukan seminar tanpa aksi nyata. Lingkungan memerlukan mahasiswa yang peduli dan menjadikan kepedulian itu sebagai kebiasaan yang senantiasa membawa perubahan. Kelestarian alam bukan warisan yang kita terima dari nenek moyang, melainkan titipan yang kelak harus kita pertanggungjawabkan kepada generasi berikutnya. Maka sebelum menuntun dunia berubah mulailah dari hal-hal kecil untuk peduli terhadap lingkungan sekitar.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.