Etika Manusia dalam Bertuhan dan Bertauhid 

oleh -65 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Hafis Azhari

Berbagai macam reaksi dan respons manusia Indonesia (dan dunia) ketika ujian dan musibah melanda kehidupan mereka. Tampaknya di akhir zaman ini, ujian hidup tengah dipergilirkan, secara merata di mana-mana. Sungguh Maha Membalas dan Maha Adil Tuhan atas segala keputusan-Nya.

Pada hakikatnya, Tuhan kita adalah sama dan satu (Esa). Saya menghamba atau mengabdi pada Tuhan yang sama dengan Anda, begitu pun seisi alam semesta ini menghamba pada Tuhan yang sama. Tuhannya orang Indonesia, Iran atau Israel, juga menghamba pada Tuhan yang sama. Begitu pun kaum Muslim, Kristiani, Budha, Hindu, Kong Hu Cu, juga kaum Yahudi, semuanya menghamba pada Tuhan yang sama.

Bahkan Tuhannya Nabi Adam, Ibrahim, Muhammad, juga bertauhid pada Tuhan yang sama, begitu pun dengan Iblis, para setan, jin, dan segala makhluk gaib yang tak kasatmata di seluruh jagat raya ini.

Ketika mendapat musibah dan ujian hidup, Islam memerintahkan umatnya agar bersabar dan mendirikan salat (manifestasi rasa syukur), karena baik musibah maupun kenikmatan, sama-sama merupakan ujian hidup yang dipergilirkan oleh Tuhan.

Adab penghambaan seorang Muslim, ketika kesuksesan diraihnya sesungguhnya itu adalah anugerah Tuhan. Sebaliknya, ketika musibah dan kegagalan didapatnya, ia harus menyadari, bahwa hal tersebut bersumber dari kesalahan dirinya sendiri. Nabi Adam mendapat pengampunan Tuhan, karena beliau menyalahkan dirinya sendiri, dan tidak menyalahkan pihak lain, apalagi menyalahkan takdir Tuhan. Meskipun sudah tercatat di dalam Lauhul Mahfudz (kotak pandora), apa-apa yang sudah dan akan dilakukan oleh Nabi Adam dan seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Ketika giginya tanggal saat terhempas anak panah dalam Perang Uhud; juga ketika berlari menghindari kerumunan dan dilempari batu oleh kaum Thaif, Nabi Muhammad tidak menyalahkan Tuhan, meskipun beliau sudah tahu bahwa semuanya itu adalah bagian dari rencana dan agenda-Nya. Justru Sang Nabi berdoa menyatakan penghambaan dan keterbatasan dirinya sebagai manusia yang sarat kekurangan dan kelemahan. “Ya Allah, hanya kepada-Mu, aku mengadukan keterbatasan dan kelemahan kekuatanku.”

Doa Nabi Muhammad disampaikan dalam persembunyiannya di kebun anggur milik dua bersaudara (Utbah dan Syaibah). Sampai kemudian, Malaikat Jibril menghampirinya seraya menawarkan dua gunung (al-akhsyabain) agar ditimpakan kepada penduduk Thaif, sebagaimana kaum terdahulu yang durhaka kepada Allah. Namun kemudian, Nabi Muhammad menolaknya sambil menyatakan, “Semoga keturunan mereka kelak menghamba pada Allah.”

Suatu fase dalam sejarahnya, Rasulullah hidup dalam kemakmuran dan kebahagiaan, dilengkapi pelayanan setia dari sang istri yang muda belia nan cantik jelita (Aisyah). Sikap Nabi yang tetap rendah-hati (tawadlu) menimbulkan tanda-tanya bagi sang istri: “Untuk apa melakukan salat, bukankah sudah ada jaminan surga bagi Rasulullah?”

Jawaban Rasulullah menjadi cermin dan teladan, bukan saja bagi istrinya melainkan bagi kita selaku umatnya: “Bukankah aku menghendaki sebagai hamba Allah yang selalu bersyukur?” ujar Rasulullah.

Menjadi khilaf dan lalai, hingga manusia melupakan peran Tuhan yang menganugerahi kenikmatan, adalah perkara serius yang dapat mencelakakan hidup manusia. Bahkan, jika pun manusia hanya sedikit mengingat Tuhan, serta sedikit bersyukur, hal itu pun dapat menggelincirkan manusia, hingga lebih cenderung pada urusan duniawi yang fana, ketimbang negeri akhirat yang abadi dan sejati.

Dengan demikian, secara intensif “menghamba” pada Allah adalah keniscayaan bagi hidup manusia yang lemah, terbatas, dan sarat kekhilafan. Karenanya, kesalahan yang dilakukan Nabi Adam dapat dimaafkan lantaran beliau dengan legowo mengaku dirinya yang bersalah. Inilah adab penghambaan yang tidak dilakukan oleh Iblis karena ego dan kesombongannya, sebagai makhluk yang diciptakan dari api yang menyala-nyala.

Padahal, Iblis dan para setan, baik dari kalangan manusia maupun jin, hanyalah makhluk-makhluk lemah; para pendosa yang tidak mau mengakui dirinya yang bersalah; bahkan dengan sombongnya menentang perintah Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Kuasa. Padahal, tanpa mendapat izin dari kekuasaan Tuhan, sang Iblis takkan sanggup menggoda dan mengelabui manusia agar menuruti langkah-langkahnya.

Ketika menghadapi puluhan pasien Covid-19 dalam satu bangsal, seorang pasien yang cukup terpelajar dan pernah berpendidikan di pesantren menyatakan di hadapan saya, “Untuk apa kita berdoa dan meminta kesembuhan, toh hidup dan mati sudah ditentukan oleh Allah? Jika ajal kita sudah tercatat agar mati saat ini juga, lalu apa fungsi doa-doa kita, selain berupaya untuk mendikte dan menentang kehendak Allah? Bukankah Allah Maha Tahu segalanya?”

Kata-kata semacam itu hendaknya tidak diucapkan, dan tak usah didakwahkan di depan umum, karena menyangkut soal “ketundukan” dan “adab penghambaan” tadi. Nabi Muhammad tentu memiliki kualitas makrifat yang lebih luhur ketimbang Al-Hallaj maupun Syekh Siti Jenar, tetapi beliau tak pernah menyatakan diri di depan publik bahwa “Ana al-Haq” (Akulah Kebenaran).

Rasulullah juga melakukan salat sebagai ungkapan rasa syukur; beliau berdoa saat ditimba musibah dan bencana; bahkan beliau berlari dan bersembunyi saat berupaya menyelamatkan diri dari ulah kejahatan kaum musyrikin.

Perlu saya tegaskan di sini, bahwa paham ajaran panteisme dan monisme, yang akhir-akhir ini banyak melanda generasi milenial Indonesia, memang bisa dibenarkan dalam negara kebangsaan, meskipun tidak dinilai baik dalam pandangan agama Islam. Sebab, ketika sang perampok akan berbuat jahat dengan mengambil harta sang pemilik rumah, mereka berpendapat bahwa hakikat perbuatannya itu toh atas kehendak dan kemauan Tuhan juga.

Kaum panteisme berpendapat bahwa si perampok yang menyatroni rumah pada hakikatnya adalah perbuatan Tuhan; sang tuan rumah merupakan hakikat Tuhan; pintu yang diketuk juga ketukan Tuhan; engsel pintu dan bunyi ketukan itu pun suara Tuhan; bahkan harta benda yang dijarah dari rumah itu adalah perwujudan (milik) Tuhan.

Tetapi dalam ajaran Islam, tidak dibenarkan untuk berpolemik perihal hakikat Tuhan yang sesungguhnya. Di dalam monoteisme Islam, tetap perbuatan jahat itu dilakukan oleh tangan, dan atas kehendak sang perampok yang jahat. Sedangkan sang tuan rumah harus membela diri untuk mempertahankan harta benda sebagai hak miliknya.

Jika pun terpaksa ia membunuh sang perampok, maka pembunuhan saat membela diri adalah tindakan yang dapat dibenarkan. Tetapi, seandainya pun tuan rumah yang terbunuh, maka Allah telah menjamin surga sebagai balasan terbaik atas ikhtiar dan jihadnya dalam membela kebenaran dan keadilan.

Prinsip ketakwaan dalam Islam telah dipraktekkan secara nyata oleh pemerintah Iran akhir-akhir ini. Sebagaimana ketegasan sikap Bung Karno yang menentang imperialisme Barat, yang hendak menjarah sumber daya alam kita, melestarikan esploitasi manusia atas manusia lain (neokolonialisme), memberlakukan transaksi perdagangan secara sepihak, bahkan merampok hak atas kepemilikan dan kedaulatan bangsa Indonesia.

Untuk itu, konsep pemikiran Bung Karno selaras dengan perjuangan dan doa-doa para ulama di zamannya (khususnya Hadrotussyaikh Hasyim Asy’ari), bahkan selaras pula dengan jejak-langkah perjuangan bangsa Iran dan Palestina. Bung Karno, Syekh Hasyim, maupun Imam Khamenei telah memberi teladan bagi rakyatnya dan segenap masyarakat dunia, agar kita berjuang membela hak-hak dan kedaulatan bangsa dan negara, serta menjaga harkat dan martabat kemanusiaan kita. ***

Penulis adalah Peneliti historical memory Indonesia, seorang Nahdliyyin dan penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.