Sastra, Hafis Azhari dan Imajinasi yang Menyesatkan 

oleh -1463 Dilihat
Chidren and a book of imagination. Concept idea art of kid,learning, adventure, education, freedom, inspiration and dream. Conceptual artwork. surreal painting. fantasy 3d illustration. boy
banner 468x60

Oleh: Alim Witjaksono

Ribuan karya sastra diproduksi dan diterbitkan di era hiper modern yang mengacu pada aliran eksistensialisme barat (Eropa-Amerika). Ribuan adegan film dan sinetron yang ditayangkan lebih banyak mengadopsi karya-karya mereka, khususnya tentang seluk-beluk kehidupan modern dan post-modern, setelah bangkit dari puing-puing reruntuhan perang dunia I dan II.

Karya sastra Eropa (khususnya Prancis) sangat dominan melahirkan tema-tema chaos dan absurd, bahwa kehidupan dunia ini hanyalah kekacauan yang tumpeng-tindih tak beraturan. Nietzsche, Camus hingga Sartre bahkan menyatakan dirinya konsekuen pada paham atheisme, sebab jika mereka beriman pada Tuhan, justru Tuhan yang akan mereka percayai adalah Dia Yang selalu menimbulkan luka, hingga manusia terseret ke dalam arus kesengsaraan yang tiada akhir.

Pilihan bijak bagi mereka adalah tidak memercayai sama sekali, dan paham itu telah dianut dan dihidupkan dalam jutaan karya-karya sastra, dengan kemampuan estetika dan ukiran kata yang menawan, lalu mengilhami ratusan bahkan ribuan para penulis dan sastrawan asia hingga wilayah Indonesia Raya. Karya-karya yang menimbulkan luka diniscayakan mengilhami pembaca pada kebenaran sesuai versi yang mereka yakini, dalam imajinasi dan pikiran mereka.

Pada gilirannya telah melahirkan jutaan karya sastra (baik prosa maupun puisi), hingga layak saya simpulkan, bahwa pada prinsipnya manusia Indonesia sering merasa terluka atau ketakutan yang ditimbulkan oleh imajinasinya ketimbang oleh kenyataan yang sesungguhnya.

Hal ini perlu saya sampaikan secara jujur di era yang penuh hiruk-pikuk dan distraksi digital yang merambah pemikiran masyarakat dunia secara global. Jadi, rasa takut dan cemas seringkali muncul bukan karena sesuatu yang benar-benar terjadi, tetapi karena apa yang dibayangkan seolah-olah akan terjadi. Melalui karya prosanya yang berjudul “Pikiran Orang Indonesia” (POI), seakan penulis Hafis Azhari mengingatkan kita, bahwa pikiran manusia adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, dapat dijadikan alat untuk memahami kebenaran dan keadilan, tetapi di sisi lain, bisa menjadi sumber kesengsaraan dan malapetaka.

Dalam banyak hal, pembaca karya sastra atau penonton film, seringkali mengalami stres, kecemasan, dan bahkan depresi, bukan karena realitas obyektif yang dihadapi, melainkan karena narasi negatif yang mereka kembangkan oleh pikirannya sendiri. Banyak manusia hiper modern yang takut akan kegagalan yang belum terjadi, kehilangan yang belum datang, serta penolakan yang belum tentu nyata. Inilah bentuk penderitaan imajinatif yang menjadi racun, yang tanpa disadari sebenarnya para penulis dan sastrawan turut bertanggung jawab atas ide dan gagasan yang telah mereka goreskan.

Luka imajinatif

Dalam gambaran novel POI, kita semakin terbantu oleh khazanah sastra yang menyiratkan rasa takut dan cemas, justru diakibatkan sistem kekuasaan yang sengaja menciptakan iklim ketakutan dan kebodohan publik, agar menjadi komoditas politik semata.

Dalam orasinya saat peluncuran novel tersebut di pesantren Al-Bayan, Rangkasbitung (baca Kompas.id: “Memahami Skizofrenia dari Karya Sastra”) penulisnya menegaskan, bahwa ketakutan adalah penyakit jiwa yang bisa lebih melumpuhkan daripada luka fisik. Ketika kita membiarkan rasa takut menguasai pikiran, kita tidak hanya kehilangan ketenangan batin, tetapi juga kehilangan akal sehat dan pola pikir rasional.

Akibatnya, generasi muda milenial jadi takut untuk memulai bisnis, mengambil langkah strategis, serta menggeluti cita-cita dan Impian mereka. Bahkan, secara eksplisit takut menyatakan cinta karena ditakut-takuti oleh skenario imajinatif yang mereka bangun dan ciptakan sendiri.

Ketika rasa takut datang, orang jadi gentar untuk menjalani hidup sesuai realitas, melainkan terus diliputi asumsi dan kekhawatiran. Dalam iklim politik semacam itu, penguasa dapat berlenggang kangkung untuk memuluskan ambisi-ambisi politiknya, di tengah masyarakat yang buta untuk membedakan mana yang benar, salah, atau yang keliru.

Novel POI mengajarkan kita, bahwa luka-luka imajinatif yang berpangkal pada khayalan, bukan saja tidak berguna, tetapi justru sangat merugikan secara spiritual dan emosional. Banyak penulis dan sastrawan milenial yang sulit menyeimbangkan otak depan (prefrontal cortex) dengan otak tengah (amigdala), hingga karya-karya mereka tersusupi oleh berita-berita miring tentang konflik politik global, spekulasi pasar, hingga krisis iklim, yang sebenarnya tak perlu dikonsumsi secara konstan jika sang penulis konsisten menjalankan kebaikan dari diri sendiri, dan dari hal-hal kecil di sekitarnya.

Fakta dan fiksi

Novel POI sekan mengajak kita agar hening dan berhenti sejenak, serta mencoba melakukan sanering tentang mana yang nyata dan mana yang sekadar mimpi dan imajinasi belaka. Bagi Hafis Azhari, kalau generasi muda terus-menerus hidup dalam kecemasan dan kekhawatiran, mereka akan kesulitan menikmati hidup, meskipun masa depan belum tentu seburuk yang mereka bayangkan.

Lebih lanjut Hafis menandaskan, bahwa dalam banyak karya sastra Eropa-Amerika yang diterjemahkan untuk dikonsumsi bangsa ini selama beberapa dekade, dalam banyak kasus justru lahir dari bayangan imajinasi sang penulis yang sibuk membangun ketakutan dan penderitaannya sendiri. Memang dikemas dengan estetika yang apik dan menarik, tetapi dari sisi etika, rasa takut yang dibesar-besarkan oleh pikiran bisa lebih menyakitkan daripada luka itu sendiri.

Oleh karena itu, para penulis dan pembaca milenial harus pandai memilah-milah, agar mereka dapat melatih pikiran dan akal sehatnya (baca Kompas: “Membangun Akal Sehat”). Latihlah pikiran agar selalu berpijak pada kenyataan, bukan malah dibutakan oleh imajinasi yang menyesatkan. Dengan menerima apa yang ada dan meninggalkan imajinasi yang tak perlu, kita bisa menjalani hidup dengan lebih tenang dan berani, sesuai dengan tuntutan akal dan hati nurani kita. []

Penulis adalah Peneliti dan Pengamat Sastra Milenial, menulis prosa dan esai di berbagai media nasional, luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.