Dua Goris Dorong Transformasi Petani Milenial

oleh -382 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Kupang – Transformasi dari pertanian tradisional menuju pertanian modern berbasis teknologi digital menjadi topik penting dalam diskusi santai dua tokoh lokal di Kelurahan Bello, Kota Kupang, Rabu (24/7/2025). Uniknya, keduanya memiliki nama depan yang sama: Goris.

Adalah Goris Batafor, dosen Politeknik Pertanian Negeri Kupang dan Goris Takene, aparatur sipil negara di lingkungan Pemerintah Kota Kupang sekaligus Ketua RW 003 Kelurahan Bello.

Meski berlatar belakang berbeda, keduanya memiliki perhatian yang sama terhadap kemajuan sektor pertanian di wilayah mereka, khususnya dalam membentuk generasi petani milenial yang adaptif terhadap perubahan zaman.

“Petani kita perlu mulai terbiasa dengan pendekatan teknologi—entah melalui aplikasi prakiraan cuaca, penggunaan pupuk organik secara terukur, hingga pemasaran digital. Ini bukan semata soal tren, tapi kebutuhan riil untuk meningkatkan hasil dan memperluas akses pasar,” kata Goris Batafor dalam perbincangan tersebut.

Sementara itu, Goris Takene menuturkan pengalamannya sebagai pelaku pertanian rumah tangga. Di sela tugasnya sebagai ASN, ia rutin menjual hasil kebun seperti sayur mayur dan tanaman herbal dari depan rumah. Ia memanfaatkan grup WhatsApp dan jaringan pertemanan sebagai sarana pemasaran.

“Lumayan. Selain ada tambahan penghasilan, produk-produk lokal kita jadi makin dikenal. Ini bukti bahwa petani skala kecil pun bisa go digital dengan cara sederhana,” ungkapnya.

Keduanya sepakat bahwa transformasi pertanian di era digital harus dimulai dari basis komunitas, dengan memberikan pelatihan praktis yang menyentuh langsung kebutuhan petani kecil. Menurut mereka, upaya ini membutuhkan dukungan konkret dari pemerintah dan pemangku kepentingan lain.

“Kita butuh pendekatan yang membumi. Mulai dari pelatihan digital, pendampingan usaha tani, hingga penguatan komunitas berbasis teknologi. Ini penting demi membangun kedaulatan pangan lokal yang tangguh dan berkelanjutan,” tegas Goris Batafor.

Mereka juga berharap agar Dinas Pertanian Kota Kupang terus aktif menyelenggarakan program pelatihan, penyuluhan, serta dukungan teknis bagi petani, khususnya generasi muda yang ingin terjun ke dunia pertanian dengan pendekatan baru.

“Kalau tidak didampingi, petani kecil akan tertinggal jauh. Padahal justru merekalah fondasi ketahanan pangan kita,” pungkas Goris Takene. (TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.