Oleh: Indah Noviariesta
Algoritma lebih mengutamakan umpan klik sensasi ketimbang diskursus yang membahas dunia sastra. Jejaring sosial menyediakan lahan subur bagi misinformasi, bahkan hoaks dan kabar palsu semakin mengusik emosi dan kepribadian manusia Indonesia. Akibatnya, sulit bagi konsep-konsep kompleks yang menyuarakan kebenaran untuk dapat menembus kebisingan dan kegaduhan.
Ekosistem media digital membiasakan otak manusia semakin asing dengan gaya membaca yang fokus dan kontemplatif. Perhatian kita meloncat-loncat dari satu postingan ke postingan lain, tanpa sempat menyelami lebih dalam suatu artikel yang membahas kedalaman karya sastra.
Situs-situs dan aplikasi sengaja didesain untuk mengeksploitasi kerentanan psikologis kita. Notifikasi menginterupsi proses perenungan dengan hal-hal yang bersifat sepele dan angin lalu saja. Batin kita seakan terjerat dalam pengondisian yang semakin terobsesi pada distraksi. Konten-konten tak bermakna disusupkan melalui tampilan aplikasi yang sengaja didesain semenarik mungkin demi memperpanjang durasi keterlibatan kita. Ada semacam paksaan agar kita bertahan menonton video-video repetitif yang membosankan, bahkan tak jarang memberikan saran-saran yang menyesatkan.
Saat ini, oase yang menyajikan ruang pembacaan bagi karya sastra, kian terasa asing bagi pikiran modern yang telah terbiasa dengan stimulasi sensorik konstan. Kedalaman wacana sastra, memang mensyaratkan kesabaran dan daya analisis. Sejumlah penelitian mengonfirmasi bahwa para pelajar dan mahasiswa merasa kesulitan untuk menyaring distraksi, serta agar fokus pada tugas-tugas yang memeras daya pikir imajinatif. Mereka hanya tahu karya-karya sastra, semisal Pikiran Orang Indonesia, hanya dari sisi permukaannya saja, tanpa sanggup menganalisis kedalaman makna dan esensinya.
Penerbitan karya sastra lebih mementingkan untuk mengejar profit ketimbang Ikhlas berkarya demi kepentingan khalayak. Pelajaran sastra, baik di sekolah dan kampus perguruan tinggi, kian menghadapi tekanan besar untuk memenuhi tuntutan ujian yang terstandarisasi. Mereka lebih sering dinilai dengan kuantitas hafalan daripada kualitas analisis sebuah karya sastra. Sistem seperti ini melemahkan keingintahuan intelektual dan daya pikir imajinatif, yang sangat dibutuhkan untuk aktivitas membaca yang komprehensif.
Banyak orang menganggap aktivitas membaca dan mengapresiasi karya sastra, sebagai upaya intelektual yang tidak keren. Tak jarang, pembaca sastra dianggap sebagai orang aneh dan senewen. Stigma sosial menciptakan friksi psikologis bagi mereka yang ingin mendalami dunia sastra. Permasalahan ini menampakkan jalinan rumit benang-benang sosial. Padahal, tanpa kemampuan dan kecenderungan untuk menganalisis karya sastra, bangsa ini akan kehilangan kapasitas mendasar untuk menjadi manusia berbudaya dan berperdaban luhur.
Sementara, debet-debat politik, diskursus bercampur baur dengan slogan-slogan sensasi dan tribalisme. Selama beberapa dekade, dunia politik menjebak masyarakat agar terperangkap di alam bawah sadar, hingga mereka alpa dan khilaf seakan tak lagi menyadari, serta kehilangan sumber informasi bersama, bahkan terpecah tanpa pemahaman yang mendasar atas kebenaran.
Asupan misinformasi dari para penguasa dan elit politik, membuat masyarakat semakin apatis, tak mau terlibat, bahkan sinis. Tantangan sosial yang kompleks mengalami oversimplifikasi menjadi sekadar isu pemecah belah kerukunan. Memang ada gerakan masyarakat yang memperjuangkan tuntutan yang didasari niat baik, namun seringkali sesat arah akibat pemahaman yang dangkal.
Tanpa elit politik dengan kemampuan memahami nuansa, kebijakan negara akan disusun hanya berdasarkan capaian-capaian jangka pendek. Pertimbangan etis tersingkir ketika para pemimpin tak punya kerangka filosofis. Rekayasa finansial mengalahkan inovasi nyata yang lebih memprioritaskan daya nalar maupun literasi kebangsaan.
Hilangnya gairah mendalami karya sastra, membuat kekayaan diksi kian menyusut, diskursus dikuasai emosi dan debat kusir, bahkan analogi menggantikan fakta. Kita kehilangan persentuhan dengan seni, kebudayaan hingga sejarah. Gerakan anti intelektualisme melonjak akibat membaca karya sastra dianggap aktivitas kelas tersendiri. Masyarakat kita tak bersabar membaca teks panjang, serta kesulitan memahami dunia dengan metode yang memerlukan penilaian yang bijak.
Jika tidak diteladani kelas atas (pihak pemerintah), tampaknya harapan akan Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi ilusi belaka, sebagaimana kita pernah berilusi tentang “revolusi mental” yang bermuara pada kehilangan daya nalar dan akal sehat manusia Indonesia. (*)
Penulis adalah Penggiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa), penulis esai dan prosa di berbagai media lokal dan nasional, seperti Republika, Suara Merdeka, Kaltim Pos, Bangka Pos, Tangsel Pos, inilampung.com, litera.co.id, ruangsastra.com dan lain-lain








