Rumah Para Penulis di Era AI

oleh -80 Dilihat
banner 468x60

Draft Pertanggungjawaban Ketua Umum SATUPENA 2021–2026: Program, Sumber Dana?

Suatu malam, layar Zoom mempertemukan puluhan penulis dari Aceh, Padang, Jakarta, Makassar, Ambon, hingga Papua. Selama hampir dua jam kami bertukar pengalaman, memperdebatkan gagasan, membaca puisi, mengkritik buku, dan belajar dari perjalanan hidup masing-masing.

Tidak seorang pun membeli tiket pesawat, meninggalkan keluarganya, ataupun menyewa ruang pertemuan. Namun pengetahuan yang terkumpul dari ribuan kilometer pengalaman hidup mengalir begitu kaya, begitu cepat, dan begitu hangat.

Saat itulah saya tersadar bahwa teknologi bukan sekadar mengubah cara kita bertemu. Teknologi juga mengubah cara kita belajar, bertumbuh, dan membangun komunitas pengetahuan bersama.

Apa yang dahulu membutuhkan kongres tahunan kini dapat berlangsung hampir setiap pekan. Gagasan yang dahulu hanya didengar puluhan orang di sebuah ruangan kini dapat menginspirasi ribuan orang melalui satu layar.

Organisasi penulis tidak lagi terutama hidup karena sekretariatnya. Ia hidup karena percakapan yang terus berlangsung, melintasi ruang, waktu, dan batas geografis. Barangkali, untuk pertama kalinya dalam sejarah organisasi penulis Indonesia, rumah kami bukan lagi sebuah alamat, melainkan percakapan yang tak pernah berhenti.

Kini, ketika kecerdasan buatan hadir meretas batas imajinasi dan mempercepat proses kreatif, tantangan penulis bukan lagi sekadar cara berkumpul.

AI memaksa kita mendefinisikan ulang batas antara artikulasi mesin dan keotentikahan rasa manusia.

Di sinilah rumah penulis diuji: bukan hanya menjadi arena berjejaring digital, melainkan benteng moral yang merawat kedalaman jiwa, empati, dan kejujuran intelektual yang tak pernah dimiliki algoritma.

-000-

Menyelamatkan Rumah Bersama

Ketika pada tahun 2021 saya menerima amanah sebagai Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, saya membayangkan bahwa tugas terbesar saya adalah menyusun program kerja. Ternyata saya keliru.

Tugas pertama bukanlah merancang agenda baru atau membentuk kepengurusan baru. Tugas pertama justru menyelamatkan keberadaan organisasi itu sendiri agar kembali memiliki satu arah perjalanan.

SATUPENA yang saya warisi bukan organisasi yang sedang berjalan tenang. Ia berada dalam situasi yang oleh banyak orang ketika itu dianggap hampir mustahil dipersatukan.

Ada satu nama organisasi dan satu akta notaris, tetapi terdapat dua kepengurusan yang masing-masing merasa memiliki legitimasi. Dua kongres telah berlangsung, dan dua kelompok berjalan dengan keyakinannya sendiri.

Yang dipertaruhkan bukan sekadar siapa yang menjadi pengurus. Yang dipertaruhkan adalah masa depan sebuah rumah bersama bagi para penulis Indonesia, rumah yang seharusnya menjadi tempat bertemunya gagasan, bukan arena berkepanjangannya perselisihan.

Sejak hari pertama saya belajar bahwa organisasi penulis bukan sekadar kumpulan orang yang pandai merangkai kata. Ia adalah pertemuan berbagai karakter, ego, idealisme, pengalaman hidup, dan kecintaan yang sama besarnya terhadap dunia literasi.

Karena itulah konflik di dalam organisasi penulis hampir tidak pernah sederhana. Ia menyentuh sejarah pribadi, harga diri, dan keyakinan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Saya masih mengingat percakapan-percakapan panjang di ruang tamu yang kadang berlangsung hingga larut malam. Saya mendengarkan kisah-kisah lama, luka-luka lama, bahkan kekecewaan yang telah lama dipendam oleh sahabat-sahabat sesama penulis yang selama ini berada di kubu berbeda.

Ada perdebatan yang keras, ada air mata yang tidak dapat disembunyikan, dan ada pula diam panjang yang jauh lebih berat daripada kata-kata. Dalam setiap perjumpaan itu saya melihat satu kenyataan yang sama.

Semua mencintai organisasi ini. Semua ingin dunia literasi Indonesia tumbuh. Yang berbeda hanyalah jalan yang mereka yakini untuk mencapai tujuan tersebut.

Pada saat itu saya dihadapkan pada dua pilihan. Membiarkan perpecahan terus berlangsung, atau mengupayakan konsolidasi meskipun harus melalui jalan yang panjang, melelahkan, dan sering kali tidak populer.

Saya memilih jalan kedua. Saya percaya bahwa organisasi kebudayaan tidak boleh terlalu lama menghabiskan energinya untuk menyelesaikan konflik internal. Energinya harus kembali diarahkan untuk melayani kebudayaan.

Proses konsolidasi berlangsung tidak singkat. Berbagai tahapan organisasi dan administrasi harus dilalui, dialog dilakukan berulang kali, dan banyak kesabaran diperlukan agar setiap langkah tetap berada dalam koridor konstitusi organisasi.

Pada akhirnya pemerintah menetapkan kepengurusan SATUPENA yang kami pimpin sebagai kepengurusan yang sah. Kelompok lain kemudian melanjutkan kiprahnya dengan nama organisasi yang berbeda.

Saya tidak pernah menganggap hasil itu sebagai kemenangan satu kelompok atas kelompok lain. Saya memilih melihatnya sebagai kesempatan agar SATUPENA kembali mempunyai satu arah perjalanan dan dapat memusatkan seluruh energinya pada kerja-kerja kebudayaan.

Bagi saya, organisasi penulis tidak dibangun untuk memenangkan konflik. Ia dibangun untuk memenangkan masa depan literasi. Semakin cepat konflik selesai, semakin besar kesempatan organisasi melahirkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

-000-

Pertanyaan yang Lebih Besar

Namun setelah konsolidasi selesai, muncul pertanyaan yang jauh lebih besar daripada persoalan kepengurusan. Untuk apa sesungguhnya organisasi penulis hadir pada abad ke-21?

Pertanyaan itu terus mengikuti saya selama lima tahun memimpin SATUPENA. Semakin lama saya mengamati perubahan dunia, semakin saya yakin bahwa tantangan terbesar organisasi penulis bukan lagi konflik internal.

Tantangan terbesar justru datang dari luar, yakni perubahan peradaban yang berlangsung sangat cepat. Internet mengubah cara manusia membaca, media sosial mengubah cara manusia berdiskusi, dan kecerdasan buatan kini mulai mengubah cara manusia menulis.

Perubahan tersebut bukan sekadar menghadirkan teknologi baru. Ia mengubah cara manusia bekerja sama, belajar, menyebarkan pengetahuan, bahkan mengubah alasan mengapa sebuah organisasi masih diperlukan.

Selama puluhan tahun, banyak organisasi dibangun mengikuti logika Revolusi Industri. Informasi bergerak lambat sehingga orang harus berkumpul di satu tempat untuk mengambil keputusan bersama.

Rapat tahunan menjadi pusat kehidupan organisasi. Surat dikirim melalui pos, laporan dicetak di atas kertas, dan keputusan sering kali harus menunggu pertemuan berikutnya.

Hari ini hampir seluruh fondasi itu berubah. Informasi bergerak dalam hitungan detik, dokumen berpindah melalui telepon genggam, dan diskusi berlangsung tanpa mengenal batas negara maupun zona waktu.

Seorang penulis di Sorong kini dapat berdialog dengan penulis di London, Tokyo, atau New York tanpa harus meninggalkan rumahnya. Dunia menjadi jauh lebih kecil, tetapi peluang kolaborasi menjadi jauh lebih besar.

Dalam situasi seperti itu, organisasi tidak lagi hidup terutama karena rapatnya. Ia hidup karena percakapannya. Organisasi juga tidak lagi bergantung pada gedung sekretariat, melainkan pada jaringan kepercayaan yang berhasil dibangunnya.

Ketika kecerdasan buatan mampu membantu menyusun notulen, merangkum diskusi, menerjemahkan naskah, bahkan menyiapkan draf kebijakan hanya dalam hitungan menit, maka nilai sebuah organisasi tidak lagi terutama terletak pada administrasinya.

Nilai tertinggi organisasi justru berada pada hal-hal yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin, seperti kebijaksanaan, empati, tanggung jawab moral, keberanian intelektual, kemampuan mendengarkan, dan kesediaan menghargai perbedaan.

Di sinilah saya melihat perubahan besar itu. Era AI tidak sedang menghapus organisasi penulis, melainkan mengubah maknanya. Organisasi perlahan bergerak dari model birokrasi administratif menuju komunitas pengetahuan yang lebih cair, lebih kolaboratif, dan lebih terbuka.

Sebagian orang mungkin bertanya, apakah perubahan ini berarti organisasi tidak lagi membutuhkan tata kelola. Tentu tidak. Setiap organisasi tetap memerlukan aturan, administrasi yang tertib, dan akuntabilitas yang kuat.

Namun di era AI, birokrasi tidak boleh lagi menjadi tujuan. Ia harus kembali menjadi alat untuk mempermudah lahirnya gagasan, mempercepat kolaborasi, menjaga kepercayaan, dan membebaskan energi manusia agar dapat dipakai menciptakan nilai yang jauh lebih besar.

Di situlah saya menemukan arah baru kepemimpinan SATUPENA. Saya tidak lagi melihat organisasi penulis sebagai sebuah kantor, melainkan sebagai sebuah ekosistem yang mempertemukan pengetahuan, kreativitas, teknologi, dan persahabatan intelektual.

Visi inilah yang kemudian menjadi dasar hampir seluruh program SATUPENA selama lima tahun terakhir. Semua kegiatan yang kami bangun bertujuan menjadikan organisasi ini bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi ruang yang terus-menerus melahirkan percakapan, karya, dan kolaborasi bagi dunia literasi Indonesia.

Banyak yang mengingatkan bahwa masyarakat Indonesia sering merayakan modernitas tanpa merawat rasionalitasnya. Peringatan itu terasa semakin relevan hari ini, ketika teknologi berkembang jauh lebih cepat daripada kesiapan budaya kita menyertainya.

-000-

Dari Gagasan Menjadi Gerakan

Setelah konsolidasi organisasi berhasil dilakukan, saya menyadari bahwa tantangan berikutnya jauh lebih besar. Organisasi tidak cukup hanya kembali bersatu. Ia harus kembali hidup, kembali produktif, dan kembali dirasakan manfaatnya oleh para penulis di seluruh Indonesia.

Saya percaya bahwa sebuah organisasi kebudayaan tidak diukur dari banyaknya struktur yang berhasil dibentuk. Ia diukur dari seberapa sering gagasan dipertemukan, karya dilahirkan, dan semangat anggotanya terus dipelihara. Dari keyakinan itulah hampir seluruh program SATUPENA selama lima tahun terakhir disusun.

-000-

Membangun Indonesia dari Banyak Pusat Gagasan

Keputusan pertama yang kami ambil adalah memperluas jaringan organisasi ke hampir seluruh provinsi di Indonesia. Saya tidak ingin SATUPENA menjadi organisasi yang hanya hidup di Jakarta, sementara daerah sekadar menjadi pelengkap administrasi.

Saya percaya kreativitas tidak pernah lahir dari satu pusat kekuasaan. Kreativitas tumbuh dari banyak titik yang saling terhubung, saling belajar, dan saling menginspirasi. Karena itu, kami memberi ruang seluas-luasnya kepada pengurus daerah untuk merancang kegiatan sesuai kebutuhan masyarakat dan karakter budayanya masing-masing.

Kepercayaan itu ternyata menghasilkan banyak kejutan yang membahagiakan. Berbagai provinsi menyelenggarakan peluncuran buku, diskusi sastra, pelatihan menulis, festival literasi, hingga kerja sama dengan kampus, sekolah, pemerintah daerah, dan komunitas budaya.

SATUPENA Sumatera Barat menjadi salah satu contoh yang paling menonjol. Bersama berbagai mitra, mereka berhasil mengembangkan International Minangkabau Literacy Festival hingga menjadi agenda literasi internasional yang pada tahun 2026 memasuki penyelenggaraan keempat.

Saya semakin yakin bahwa organisasi yang besar bukanlah organisasi yang mengendalikan semuanya dari pusat. Organisasi yang besar adalah organisasi yang berhasil melahirkan banyak pusat kreativitas yang tumbuh secara mandiri, namun tetap bergerak menuju cita-cita yang sama.

-000-

Organisasi yang Hidup Setiap Pekan

Langkah berikutnya adalah membangun ruang percakapan yang tidak pernah berhenti. Pada masa lalu organisasi hidup terutama melalui pertemuan tatap muka. Kini teknologi memungkinkan percakapan berlangsung hampir setiap hari tanpa dibatasi jarak dan biaya.

Kami kemudian menjadikan forum daring sebagai jantung kehidupan organisasi. Hampir setiap pekan penulis, penyair, akademisi, budayawan, jurnalis, seniman, tokoh masyarakat, dan generasi muda berkumpul dalam satu ruang digital untuk berbagi pengalaman dan memperdebatkan gagasan.

Hingga Juli 2026, SATUPENA telah menyelenggarakan 196 webinar nasional melalui Zoom. Selain itu, kerja sama SATUPENA–KEAI telah menghasilkan 30 forum diskusi. Dengan demikian, selama satu periode kepengurusan telah berlangsung 226 forum intelektual nasional yang mempertemukan ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.

Angka tersebut bukan sekadar statistik organisasi. Setiap forum adalah ruang belajar bersama, tempat lahirnya jejaring baru, gagasan baru, dan persahabatan intelektual yang sebelumnya hampir mustahil terjadi tanpa bantuan teknologi digital.

Saya sering mengatakan bahwa Zoom bagi SATUPENA bukan sekadar aplikasi konferensi video. Ia telah menjadi ruang tamu bersama komunitas penulis Indonesia, tempat seorang penyair dari Papua dapat berdialog dengan novelis dari Sumatera, atau seorang mahasiswa di Makassar dapat bertanya langsung kepada profesor di Jakarta tanpa harus membeli tiket pesawat.

Teknologi akhirnya bukan hanya memperpendek jarak geografis. Teknologi juga memperluas kesempatan setiap orang untuk belajar, berbagi, dan berpartisipasi dalam kehidupan intelektual bangsa.

-000-

Mengabadikan Percakapan Menjadi Memori Kebudayaan

Saya percaya bahwa percakapan yang baik tidak boleh hilang bersama berakhirnya sebuah pertemuan. Setiap diskusi yang bermutu merupakan bagian dari memori intelektual bangsa dan layak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karena itulah hampir seluruh kegiatan SATUPENA didokumentasikan secara sistematis. Diskusi direkam, disunting, kemudian dipublikasikan agar dapat diakses secara terbuka oleh masyarakat kapan pun mereka membutuhkannya.

Hingga Juli 2026, melalui SATUPENA TV dan kanal kreator, telah dipublikasikan 223 video. Jumlah tersebut terdiri atas 118 episode “Ngobrol Bareng Penulis”, 50 episode “Ngobrol Bareng Kreator”, serta 55 video yang berisi liputan kegiatan, pelatihan kepenulisan, dokumentasi organisasi, dan berbagai aktivitas literasi lainnya.

Bagi sebagian orang, video mungkin hanya dianggap dokumentasi biasa. Bagi saya, video merupakan arsip kebudayaan. Puluhan tahun dari sekarang, generasi baru masih dapat menyaksikan bagaimana para penulis Indonesia berpikir, berdialog, dan merespons berbagai persoalan pada zamannya.

Organisasi yang gagal mendokumentasikan dirinya sesungguhnya sedang kehilangan ingatan kolektifnya sendiri. Sebaliknya, organisasi yang merawat arsip akan mewariskan bukan hanya sejarah, tetapi juga inspirasi bagi generasi yang datang sesudahnya.

-000-

Dari Diskusi Menuju Tradisi Menulis Bersama

Percakapan merupakan awal yang penting, tetapi organisasi penulis tidak boleh berhenti pada diskusi. Ia harus melahirkan karya yang dapat dibaca, diperdebatkan, dikutip, dan diwariskan kepada masyarakat.

Karena itu kami membangun satu tradisi yang kemudian menjadi ciri khas SATUPENA, yaitu menerbitkan buku bersama. Tradisi ini bukan sekadar proyek penerbitan, melainkan cara mengubah percakapan menjadi warisan intelektual yang dapat bertahan jauh lebih lama daripada sebuah seminar.

Ketika terjadi bencana besar di Sumatra, para penulis menulis bersama. Ketika muncul perdebatan mengenai gelar pahlawan Presiden Soeharto, para penulis kembali menulis bersama. Ketika tragedi kemanusiaan di Palestina mengguncang nurani dunia, SATUPENA sekali lagi menghimpun suara para penulis ke dalam sebuah buku.

Tradisi tersebut terus berkembang sepanjang masa kepengurusan ini. Hingga Juli 2026, SATUPENA berhasil menerbitkan dan menginisiasi 16 buku bersama, terdiri atas 10 buku yang diterbitkan SATUPENA Pusat serta 6 buku yang diterbitkan oleh pengurus SATUPENA di berbagai daerah.

Tema-tema yang diangkat sangat beragam, mulai dari demokrasi, korupsi politik, sastra, kebudayaan, tragedi kemanusiaan, pendidikan, hingga berbagai persoalan lokal yang dihadapi masyarakat di daerah masing-masing. Keragaman tema tersebut menunjukkan bahwa organisasi penulis harus hadir sebagai suara zaman, bukan sekadar menjadi saksi zaman.

Yang lebih membahagiakan, tradisi ini kemudian berkembang secara mandiri di berbagai daerah. Banyak pengurus provinsi mulai menerbitkan buku tanpa harus menunggu arahan dari pusat. Saya melihat gejala ini sebagai tanda bahwa SATUPENA telah berubah menjadi jaringan pengetahuan yang hidup dan produktif.

-000-

Menghormati Para Penjaga Pikiran

Selain membangun ruang dialog dan tradisi menulis, kami juga merasa perlu membangun budaya penghargaan. Bangsa yang ingin kebudayaannya bertahan tidak cukup hanya mendorong orang untuk berkarya; bangsa itu juga harus belajar menghormati mereka yang telah mengabdikan hidupnya pada dunia pemikiran.

Karena itulah SATUPENA setiap tahun memberikan penghargaan kepada para penulis Indonesia melalui panitia dan dewan juri yang bekerja secara independen. Penghargaan tersebut disertai piagam penghormatan dan dana apresiasi antara Rp35 juta hingga Rp50 juta bagi setiap penerima.

Bagi saya, penghargaan bukan terutama soal nilai uang yang menyertainya. Penghargaan adalah pernyataan moral bahwa kerja intelektual masih memiliki martabat di tengah masyarakat. Ia merupakan cara sebuah bangsa mengucapkan terima kasih kepada mereka yang sepanjang hidupnya menjaga api pengetahuan tetap menyala.

Seluruh program tersebut menunjukkan satu hal yang saya yakini sejak awal. Organisasi penulis tidak boleh hanya menjadi tempat orang berkumpul. Ia harus menjadi ruang yang terus menghasilkan percakapan, melahirkan karya, membangun jejaring, mengabadikan pengetahuan, dan menghargai mereka yang memperkaya kehidupan intelektual bangsa.

Seluruh capaian ini kami jalankan sebagai pelaksanaan tujuan SATUPENA dalam Anggaran Dasar: memperkuat kehidupan kepenulisan, mengembangkan kebudayaan, serta memperluas manfaat karya bagi masyarakat Indonesia secara berkelanjutan, terbuka, setara, dan kolaboratif.

Semua capaian itu tentu memerlukan dukungan organisasi yang kuat dan pembiayaan yang tidak kecil. Karena itu, pertanyaan yang paling sering saya terima berikutnya adalah pertanyaan yang sangat sederhana, tetapi sangat penting: berapa dana yang telah digunakan untuk menjalankan seluruh program tersebut, dan dari mana sumber pembiayaannya?

-000-

Akuntabilitas, The Power of Giving dan Masa Depan Organisasi Penulis

Selama lima tahun memimpin SATUPENA, satu pertanyaan hampir selalu muncul setiap kali saya menyampaikan berbagai program organisasi. Pertanyaan itu sangat sederhana, tetapi sangat penting bagi setiap organisasi yang sehat.

Pertanyaan tersebut berbunyi, “Berapa dana yang telah digunakan untuk menjalankan semua program itu, dan dari mana sumber pembiayaannya?” Saya selalu berpendapat bahwa organisasi kebudayaan pun harus menjawab pertanyaan itu secara terbuka.

Transparansi bukan hanya kewajiban organisasi bisnis atau lembaga publik. Organisasi kebudayaan pun memiliki tanggung jawab moral untuk mempertanggungjawabkan penggunaan setiap rupiah yang dipercayakan kepadanya.

Selama masa kepengurusan ini, hingga 12 Juli 2026, total dana yang digunakan untuk menjalankan berbagai program SATUPENA mencapai Rp4.097.885.526. Angka tersebut merupakan akumulasi pembiayaan berbagai kegiatan organisasi selama hampir lima tahun.

Dana tersebut dipergunakan untuk menyelenggarakan ratusan forum diskusi nasional, memproduksi ratusan video literasi, menerbitkan buku-buku bersama, memberikan penghargaan kepada penulis Indonesia, mendukung kegiatan daerah, menjalankan administrasi organisasi, serta membangun berbagai program pengembangan literasi.

Apabila dibandingkan dengan luasnya jangkauan kegiatan yang berhasil dilaksanakan, saya memandang dana tersebut bukan sebagai biaya semata. Dana itu adalah investasi sosial untuk memperkuat ekosistem literasi Indonesia.

Lebih penting lagi adalah pertanyaan mengenai asal-usul pembiayaan tersebut. Sejak awal saya memilih sebuah kebijakan yang mungkin berbeda dengan banyak organisasi profesi lainnya di Indonesia.

SATUPENA tidak mewajibkan anggotanya membayar iuran organisasi. Saya tidak ingin ada seorang penulis muda yang merasa jauh dari rumah intelektualnya hanya karena alasan ekonomi.

Saya memahami bahwa banyak organisasi besar di dunia bertumbuh melalui sistem iuran anggota. Saya menghormati pilihan tersebut, karena setiap organisasi mempunyai sejarah, kebutuhan, dan tradisi yang berbeda.

Namun saya memilih jalan yang lain. Saya ingin organisasi ini menjadi ruang yang terbuka bagi siapa saja yang mencintai dunia literasi tanpa terlebih dahulu dibatasi oleh kemampuan finansialnya.

Karena itu, hampir seratus persen pembiayaan kegiatan SATUPENA selama masa kepengurusan ini berasal dari donasi pribadi saya selaku Ketua Umum, melalui dukungan dari yayasan serta perusahaan yang saya dirikan.

Saya tidak pernah memandang dukungan tersebut sebagai pengorbanan. Saya justru melihatnya sebagai kesempatan untuk mengembalikan sebagian rezeki yang saya peroleh kepada dunia kebudayaan yang telah banyak membentuk perjalanan hidup saya.

Pilihan itu juga lahir dari sebuah prinsip hidup yang telah lama saya pegang. Prinsip tersebut saya sebut The Power of Giving, yaitu keyakinan bahwa memberi merupakan bentuk tertinggi dari rasa syukur.

Semakin bertambah usia, saya semakin percaya bahwa kekayaan bukan terutama diukur dari apa yang berhasil kita miliki. Kekayaan memperoleh makna terdalam ketika berubah menjadi kesempatan bagi orang lain untuk bertumbuh.

Saya selalu merasa bahwa uang hanyalah alat. Nilai sejatinya ditentukan oleh sejauh mana ia mampu mengubah kehidupan manusia menjadi lebih baik, lebih berpengetahuan, dan lebih bermartabat.

Apabila melalui dukungan tersebut lahir ratusan forum intelektual, ratusan arsip digital, puluhan buku bersama, penghargaan bagi para penulis, serta tumbuhnya jaringan literasi dari Aceh hingga Papua, saya merasa telah memperoleh imbalan yang jauh lebih besar daripada nilai materi yang dikeluarkan.

Saya tidak pernah menganggap semua itu sebagai jasa pribadi. Organisasi sebesar SATUPENA tidak mungkin dibangun oleh satu orang, betapapun besarnya dukungan yang ia berikan.

Yang membangun organisasi ini adalah ribuan anggota, ratusan pengurus, para relawan, moderator, narasumber, editor, penerbit, panitia kegiatan, serta semua pihak yang dengan sukarela menyumbangkan waktu, tenaga, pikiran, dan cintanya kepada dunia literasi.

Saya hanya kebetulan memperoleh kesempatan untuk melayani mereka selama satu periode kepemimpinan. Kesempatan itu merupakan kehormatan yang selalu saya syukuri.

-000-

Apa yang Belum Berhasil?

Saya tidak ingin laporan ini terdengar seperti kisah tanpa kekurangan. Ada beberapa hal yang belum berhasil kami tuntaskan.

Kaderisasi kepemimpinan belum berjalan sekuat yang saya harapkan. Ketergantungan pembiayaan pada satu sumber utama menyisakan pertanyaan penting tentang keberlanjutan.

Jangkauan ke penulis muda di daerah terpencil masih terbatas. Sikap organisasi terhadap karya sastra yang ditulis dengan bantuan AI juga belum dirumuskan secara memadai.

Saya mewariskan pekerjaan rumah ini secara terbuka kepada kepengurusan berikutnya. Sebuah organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang selesai, melainkan organisasi yang berani mengakui apa yang belum selesai dan mengajak generasi baru untuk melanjutkannya.

Ada pertanyaan yang belum selesai saya jawab, dan mungkin belum akan selesai dalam waktu dekat.

Bagaimana organisasi ini bertahan tanpa ketergantungan pada satu penyokong? Bagaimana sastra Indonesia menyikapi mesin yang kini ikut menulis? Bagaimana rumah ini tetap terbuka bagi generasi yang belum lahir?

Pertanyaan itu kini menjadi milik kita bersama, dan hanya keberanian kolektif yang dapat menjawabnya.

-000-

Organisasi Dibangun oleh Kepercayaan

Lima tahun terakhir memberikan banyak pelajaran yang mungkin tidak saya peroleh apabila hanya menjadi seorang penulis. Saya belajar bahwa memimpin organisasi berarti belajar mempercayai orang lain sebelum berharap dipercaya oleh mereka.

Saya juga belajar bahwa organisasi tidak pernah dibangun terutama oleh aturan. Aturan memang penting, tetapi ia hanyalah kerangka yang menjaga agar perjalanan bersama tetap tertib dan adil.

Yang benar-benar menghidupkan organisasi adalah kepercayaan. Ketika kepercayaan tumbuh, orang bersedia bekerja melampaui kewajibannya. Mereka memberi bukan karena diminta, melainkan karena merasa memiliki.

Saya semakin yakin bahwa organisasi penulis mempunyai kekayaan yang berbeda dibandingkan organisasi profesi lainnya. Modal utama kita bukan gedung, kendaraan operasional, ataupun rekening bank yang besar.

Modal terbesar organisasi penulis adalah gagasan. Selama gagasan terus lahir, dipertukarkan, diperdebatkan, dan diwariskan, organisasi akan selalu menemukan alasan untuk tetap hidup.

Karena itulah saya tidak pernah terlalu mengkhawatirkan apakah sekretariat kami megah atau sederhana. Saya jauh lebih memperhatikan apakah percakapan intelektual masih terus berlangsung di antara para anggotanya.

Di era kecerdasan buatan, ukuran keberhasilan organisasi tidak lagi terletak pada tebalnya buku administrasi yang berhasil disusun. Ukurannya bergeser kepada seberapa besar organisasi mampu mempertemukan manusia untuk menciptakan pengetahuan baru.

AI akan terus berkembang dengan kecepatan yang mungkin melampaui bayangan kita hari ini. Banyak pekerjaan administratif yang selama puluhan tahun menjadi rutinitas organisasi akan semakin mudah diselesaikan oleh teknologi.

Namun saya percaya bahwa ada wilayah yang tidak akan pernah sepenuhnya diambil alih oleh mesin. Wilayah itu adalah kebijaksanaan, empati, tanggung jawab moral, keberanian intelektual, dan persahabatan antarmanusia.

Karena itulah masa depan organisasi penulis bukanlah mempertebal birokrasi. Masa depan organisasi penulis adalah memperkuat budaya kolaborasi, memperluas ruang dialog, dan menjaga agar manusia tetap menjadi pusat seluruh percakapan.

-000-

Pelajaran yang Saya Bawa Pulang

Apabila ada satu pelajaran yang paling berharga selama memimpin SATUPENA, pelajaran itu adalah bahwa organisasi kebudayaan sesungguhnya sedang merawat harapan sebuah bangsa.

Bangsa tidak hanya dibangun oleh jalan raya, pelabuhan, bendungan, atau gedung pencakar langit. Bangsa juga dibangun oleh buku, gagasan, diskusi, puisi, dan keberanian berpikir yang terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Saya semakin percaya bahwa organisasi penulis mempunyai tugas yang jauh lebih besar daripada sekadar menyelenggarakan kegiatan sastra. Ia ikut menjaga kualitas percakapan publik agar bangsa ini tidak kehilangan kedalaman berpikirnya.

Revolusi Pertanian melahirkan kerajaan-kerajaan besar. Revolusi Industri membentuk birokrasi modern. Revolusi Digital melahirkan masyarakat jaringan, sedangkan Revolusi AI sedang membangun komunitas pengetahuan yang melampaui batas geografis.

Dalam perubahan sebesar itu, organisasi penulis tidak boleh menjadi penonton. Ia harus menjadi salah satu pelaku yang membantu masyarakat memahami perubahan sekaligus menjaga agar nilai-nilai kemanusiaan tidak ikut hilang.

Gedung akan menua. Kepengurusan akan berganti. Teknologi akan terus berubah. Bahkan bentuk organisasi pun mungkin akan berbeda beberapa puluh tahun dari sekarang.

Namun saya percaya bahwa organisasi yang setia merawat gagasan akan selalu menemukan masa depannya. Selama manusia masih mencari makna hidup melalui kata-kata, organisasi penulis akan tetap mempunyai tempat yang terhormat.

Pada akhirnya saya sampai pada kesimpulan yang sederhana. Rumah para penulis bukanlah sebuah gedung, bukan pula sebuah sekretariat dengan papan nama yang megah.

Rumah para penulis adalah percakapan yang tidak pernah berhenti, persahabatan yang terus bertumbuh, dan karya-karya yang terus memperkaya peradaban. Selama ketiga hal itu tetap hidup, saya percaya SATUPENA akan terus menemukan alasan untuk melangkah ke masa depan.

Jakarta, 21 Juli 2026

Oleh: Denny JA

REFERENSI

  1. Benkler, Yochai. The Wealth of Networks: How Social Production Transforms Markets and Freedom. Yale University Press, 2006.
  2. Coyle, Daniel. The Culture Code: The Secrets of Highly Successful Groups. Bantam Books, 2018.
  3. Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA. Anggaran Dasar (AD) Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, Akta Pendirian dan Perubahan Anggaran Dasar yang disahkan oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.
  4. Dokumentasi Internal SATUPENA Periode Kepengurusan 2021–2026, meliputi laporan kegiatan, dokumentasi webinar, data penerbitan buku, arsip SATUPENA TV, dan laporan pertanggungjawaban organisasi.
  5. Data Administrasi SATUPENA per 12 Juli 2026 mengenai penyelenggaraan 226 forum intelektual nasional, 223 video literasi, 16 buku bersama, serta penggunaan dana organisasi sebesar Rp4.097.885.526 selama masa kepengurusan 2021–2026.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.