Tentang Hak Seorang Intelektual Publik Memilih Posisi Ada saat ketika seseorang tidak kehilangan suaranya, tetapi kehilangan tempat dari mana suara itu dipercaya.
Tag: Denny JA
Mengapa “Ekonomi Kemakmuran Bersama” Ala Prabowo Layak Diberi Kesempatan
Oleh: Denny JA Bayangkan seorang ibu membelah sebutir telur untuk dua anaknya sebelum sekolah. Pisau itu berhenti sesaat. Ia sedang menghitung sesuatu
Datangnya Tatanan Dunia Baru dan Gala Dinner Bersama Tony Blair
Menghadiri Konferensi Gastech, Bangkok 14–17 September 2026 (2) Malam itu, di Bangkok, saya datang untuk sebuah jamuan makan malam. Tetapi percakapan yang
Demokrasi Tidak Selalu Berarti Semua Orang Memegang Kunci
Oleh: Denny JA Ada satu kalimat Gunoto Saparie dalam esainya: Catatan Tentang ART Satupena, yang layak kita simpan baik-baik: kritik bukan penyakit.
Pelukan Terakhir Seorang Ibu di Runtuhan Nusa Tenggara Timur
(Terinspirasi kisah nyata seorang ibu dan dua anaknya yang meninggal dalam gempa NTT, Agustus 2026. Sang ibu ditemukan dengan bayinya masih dalam
Merenungkan BUMN di Pidato Presiden
Oleh: Denny JA Di sebuah desa, mungkin ada anak yang belajar di ruang kelas dengan atap bocor. Ketika hujan datang, buku digeser
Kepuasan atas Prabowo Merosot Tapi Dapat Naik Kembali, Berkaca dari Kisah Ronald Reagan dan Jimmy Carter
Oleh: Denny JA Tidak ada grafik yang terus menanjak. Tidak ada pula grafik yang terus menurun. Begitulah kehidupan manusia, perusahaan, bangsa, dan
Rumah Para Penulis di Era AI
Draft Pertanggungjawaban Ketua Umum SATUPENA 2021–2026: Program, Sumber Dana? Suatu malam, layar Zoom mempertemukan puluhan penulis dari Aceh, Padang, Jakarta, Makassar, Ambon,
Ketika Sepakbola Menjadi Sejenis Agama Modern
Refleksi Final Spanyol vs Argentina di World Cup 2026 Ketika peluit panjang berbunyi menandai kemenangan Spanyol 1-0 atas Argentina, yang bersorak kegirangan
Takdir Di Balik Lionel Messi Memandikan Bayi Lamine Yamal 19 Tahun Lalu
Kini Keduanya Berhadapan di Final Piala Dunia 2026. Seorang bayi berusia sekitar lima bulan menangis pelan ketika tubuh mungilnya dimasukkan ke dalam
Sumatera yang Menangis dan Bunuh Diri Ekologi, Apa Arti Lebih dari 442 Nyawa Melayang?
Oleh: Denny JA Di hadapan jenazah yang disalatkan dan tanah yang masih basah, kita tak boleh lagi bersembunyi di balik kalimat “bencana
- 1
- 2
- Berikutnya
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.











