Puisi dan Kedangkalan Kritik Sastra

oleh -1966 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Irawaty Nusa

Ya, Jesusmu adalah juga Jesusku/Ia telah menebusku dari iman yang jumawa dan tinggi hati/Ia membuatku cinta pada yang dinista!/Semoga Semua Hidup Berbahagia dalam kasih.

Bait-bait puisi tersebut adalah karya Ulil Abshar Abdalla yang pernah viral beberapa waktu lalu. Bagi Gus Muwafiq, seorang da’i kondang Nahdlatul Ulama (NU) yang banyak memperkenalkan kata-kata nyeleneh dari ajaran-ajaran tasawuf, tampaknya puisi paskah tersebut adalah hal yang lumrah saja. Puisi religius itu tak ubahnya suatu pujian atas keagungan Nabi Isa sebagai salah satu Rasul yang terpilih dan kekasih Allah.

Ulil Abshar seakan menempatkan hati nurani sebagai cermin untuk berkaca diri. Bait-bait puisi tersebut sarat dengan metafora agar kita memandang dunia dengan penuh kerendahan-hati dan jiwa yang pemaaf. Untuk itu, membaca teks sastra tak bisa dikaitkan dengan makna umum, atau sebatas bahasa yang kopong karakter, lantaran cenderung bersifat normatif.

Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya berlangsung dari penghayatan yang kadang bersifat magis dan spiritual. Itulah yang disebut “syatahat” dalam istilah sufistik, yakni suatu gagasan dan ide-ide mulia dan agung yang terilhami dari simbol-simbol yang terbentuk dalam imajinasi sang pengarang.

Puisi sufistik

Dalam dunia tasawuf, syatahat-syatahat itu kadang menimbukan konflik dan sengketa disebabkan ketidakmampuan masyarakat awam dalam menafsir esensinya. Misalnya, sosok Al-Hallaj yang menyatakan “Akulah Kebenaran” di saat dirinya merasakan penyatuan diri dengan keagungan Tuhan. Ketika menjalani proses penyaliban oleh penguasa tiran, Al-Hallaj tak henti-hentinya mengucapkan kalimat religius tersebut di hadapan algojo yang mengeksekusinya.

Puisi sufistik Ulil Abshar memerlukan penghayatan dan  pendalaman akan ilmu tasawuf. Dalam konteks kehilangan akan kesadaran diri, hingga melebur dalam kesadaran-Nya, seorang analis sufistik, William James pernah menulis dalam bukunya “The Varieties of Religion Experience” sebagai berikut: “Pengalaman mistis kaum sufi memang sulit diuraikan dengan kata-kata yang memadai untuk bisa mengisahkannya. Kualitas kesufian semacam itu harus dialami secara langsung, karena pengertian cinta dan kasih Tuhan yang sulit terjamah oleh cinta manusia biasa.”

Jadi, ada semacam perasaan yang sulit diungkap dengan bahasa normatif, kecuali oleh orang yang mendapatkan wawasan tentang kedalaman hakikat kebenaran. Puisi paskah yang menimbilkan kontroversi tersebut, juga sulit termaknai oleh kemampuan intelektual yang bersifat diskursus.

Meminjam istilah William James, pada saat menggoreskan puisinya seakan-akan Ulil Abshar terkondisikan oleh situasi mistik, dengan pemusatan pikiran yang fokus dalam konsentrasi tinggi. Sebagaimana Jesus sebagai sang mistikus dan juru selamat, yang merasa dikuasai oleh Kekuatan Yang Maha Tinggi.

Pilihan diksi

Langkah filosofis yang dilakukan Ulil Abshar tercermin dari pilihan-pilihan diksinya yang sarat estetika kepenyairan. Ia merasa direngkuh dalam pangkuan sang perawan suci yang membangkitkan harapan. Dalam penderitaan Jesus, justru melahirkan kebangkitan demi kebangkitan yang menaklukkan raja-raja duniawi.

Gagasan pluralisme atau kemanunggalan adalah sesuatu yang sering digeluti Ulil Abshar, terutama saat mengkaji pemikiran-pemikiran cendekiawan muslim Al-Ghazali hingga Ibnu Arabi. Terkait dengan puisi paskah tersebut, Ibnu Arabi pernah pula menulis bait-bait syairnya:  Seorang sufi melihat Allah dalam Kakbah/dalam Masjid/dalam Gereja/dan Kuil-kuil. Secara tendensius, Al-Hallaj pernah menegaskan bahwa semua agama adalah milik Allah. Setiap golongan memeluknya bukan karena pilihannya, tetapi dipilihkan Tuhan. Orang yang mencaci orang lain dengan menyalahkan agamanya, dia telah memaksakan kehendaknya sendiri.

“Ingatlah, bahwa Yahudi, Nasrani, Islam dan lain-lain, hanyalah sebutan-sebutan dan nama-nama yang berbeda,” ujar Al-Hallaj.

Puisi paskah tersebut seakan membawa Ulil Abshar kepada maqam makrifat, dan itu hanya mungkin dicapai oleh seorang religius yang mampu melewati sekat-sekat formalitas dan materialisme. Namun di sisi lain, secara moril Ulil Abshar seakan sudah mempersiapkan mental terhadap kemungkinan munculnya sikap intoleran yang hendak kasak-kusuk menjegal niat-niat luhurnya.

Akal bulus dari orang-orang dangkal semacam itu tidak menyadari bahwa nilai kepenyairan tak bisa disekati oleh batas-batas otoritas manapun, termasuk oleh agama. Karena bagaimanapun, puisi itu bersifat subyektif sekaligus universal. Ia merupakan goresan pena dari seorang pribadi namun dapat dibaca dan dicerna oleh siapapun. Setiap mazhab dan aliran apapun, sah-sah saja memaknainya secara merdeka dan apa adanya.

Untuk mereka yang menganggap puisi paskah Ulil Abshar sebagai “karya sesat”, maka saya ingin menyumbangkan puisi singkat sebagai dukungan moril bagi penciptanya: Tenanglah sahabatku/dalam sejarah manapun/orang-orang besar/selalu punya musuh orang-orang bodoh. []

Penulis adalah Peneliti historical memory Indonesia, menulis prosa dan esai di berbagai media nasional, luring dan daring.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.