Oleh: Enzen Okta Rifa’i, Lc.
Identitas sebagian manusia Indonesia tak ubahnya tanggul sungai yang keropos dan siap ambrol pada saatnya tiba. Jika ada tangan jahil yang mengusiknya, ia akan mudah ambruk dan berantakan secepat mungkin. Tetapi, identitas si tangan-tangan jahil itu pun akan ambrol juga pada waktunya tiba. Hanya soal waktu saja. Sebentar lagi ataukah nanti. Tergantung pada seberapa kuat kemauan manusia untuk merehab tanggul dan memperkokohnya.
Tetapi di sisi lain, tenaga manusia tak punya kewenangan mutlak untuk sanggup menahan kekuatan alam, sehebat apa pun, seperkasa apa pun.
Benteng yang kokoh tak mungkin tembus oleh serangan peluru-peluru bedil maupun meriam, tetapi anak-anak panah akan bisa menembusnya manakala ia dalam keadaan rusak dan keropos. Masalahnya, kekuatan rival untuk menjatuhkan identitas manusia, senantiasa mengintip setiap saat kapan si lawan dalam kondisi alpa maupun lengah.
Penyerangan dengan menjatuhkan lawan kadang dilakukan di luar nalar dan akal sehat manusia, dengan cara apa pun dan di manapun. Bagi mereka, sudah jelas pengelompokannya, hitam dan putihnya, baik dan buruknya.
Aneka macam konflik yang sedang dipertarungkan di era medsos ini, kadang tak disadari para pelakunya bahwa dalam kenyataannya, setiap tindakan buruk dan kesewenangan itu tak ada yang terbebas dari supremasi hukum yang absolut. Mereka bisa saja mengatur siasat secanggih-mungkin, membayar mahal pengacara, menyuap jaksa dan hakim, tetapi itu semua hanyalah supremasi hukum dunia yang fana dan kasatmata belaka.
Setiap bangsa, dari zaman ke zaman, tak terlepas dari karakteristik pembedaan antara sini dan sana, kami dan mereka, bangsaku dan bangsa lain (liyan). Mereka berpolemik, bersengketa, bahkan bertempur (kias dan harfiah) untuk memperebutkan kue keuntungan yang lebih besar dari sarana-sarana produksi. Antara Jawa dan Sunda, Iran atau Amerika, perempuan atas lelaki yang terus berjuang untuk menghapus eksploitasi dan diskriminasi.
Bahkan, dalam soal ras dan warna kulit, antara kulit putih yang memaksakan supremasi atas kulit hitam, kemudian si kulit hitam berjuang untuk pembebasan dirinya.
Hitam dan putih
Identitas kemanusiaan dengan ragam konflik-konfliknya, seakan dengan sengaja dipanggungkan secara intrinsik dan konfrontatif, sehingga dunia harus dipahami dari sudut pandang hitam dan putih, benar dan salah. Karakteristik yang menentang solidaritas ini seakan dipelihara melalui afirmasi ingatan, memori kolektif dan penguatan kisah-kisah. Bahkan secara masif dicatat oleh sejarah maupun sastra yang menolak untuk mementingkan dan mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan yang universal (sense of common humanity).
Untuk itu, kaum akademisi, budayawan, jurnalis dan intelektual, sebenarnya telah terlibat aktif dalam memengaruhi kelompok-kelompok manusia, serta mengilhami memori kolektif untuk menentukan kriteria baik dan buruk, bahkan golongan sini atau sana. Seringkali, lantaran sifat manusia yang lemah dan khilaf tadi – tanpa disadari – dengan masif mempropagandakan legitimasi wacana yang efektif, guna menyusupkan pandangan negatif ke dalam otak kepala masyarakat bangsa.
Selama ini, tidak sedikit sejarawan dan sastrawan kita telah menuruti proyek-proyek penguasa, kemudian – tanpa mereka sadari – telah bertindak sebagai pelayan bagi proyek-proyek politik demi kepentingan status quo (baca: www.kompas.id, “Proyek Propaganda Penguasa”).
Secara implisit, Putu Fajar Arcana menyatakan, bahwa kaum intelektual dan sejarawan telah memainkan peran penting di republik ini, dan telah mendasari pembentukan memori dan watak, hingga pada waktunya menentukan corak dan bentuk dari identitas nasional kita.
Di sisi lain, mereka juga berperan kuat dalam menentukan arah dari kompleksitas politik antarnasional, hingga mengotak-ngotak manusia dalam kategori bangsa-bangsa bersama unit loyalitas kolektif yang baru muncul beberapa abad lalu. Bukankah istilah “nasionalisme” juga baru muncul sekitar tahun 1790-an, dengan segala perangkat teritorial, ras dan etnik, hingga pada soal bahasa sebagai entitas yang terbangun?
Belum lagi, jika kita mempersoalkan hal yang cukup riskan dibicarakan, misalnya soal resesi seksual, feminisme dan historiografi feminis. Semuanya itu bermuara pada problem hubungan gender yang berbeda di setiap negara, yang pada akhirnya – oleh banyak kalangan – dianggap rumit untuk dipecahkan. Tetapi bagaimanapun, mengutip hadits Nabi, bahwa kebenaran harus tegak untuk dinyatakan, sepahit apa pun. Karena bagaimana pun, kita harus berani menjadi bagian dari universalitas yang berkembang, dengan legawa memasuki peran dalam berargumen, biarpun terasa panas untuk diperdebatkan.
Kita juga harus berani menolak karya-karya yang mubazir dan tanpa solusi (nirsolusi), seakan membuang-buang waktu untuk dibaca hingga halaman terakhir, tanpa mengurangi penghargaan pada kebebasan berekspresi. Bahkan dalam soal hidup keberagamaan, kita harus berani menyatakan “tidak” bagi segala tindak intoleransi dan kesewenangan terhadap nilai-nilai kemanusiaan (baca: Kompas, 21 November 2018, “Agama Tanpa Akal dan Hati Nurani”).
Dengan demikian, kini sudah waktunya bagi kalangan sejarawan, budayawan, dan tokoh-tokoh agama, untuk mengejar ketertinggalan dari rekan-rekan intelektual dan akademis mereka, serta merangkul kerangka etik yang dapat melakukan lompatan perubahan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Mereka harus berani untuk beralih (out of the box) dari konstruksi pemikiran status quo, yang seringkali membelenggu nalar dan ruang gerak kita selama ini.
Kasus Ijazah
Identitas kemanusiaan di era milenial ini – menurut Simon Weil (filosof Prancis) – tak ubahnya kartu-kartu domino yang dipasang oleh seorang anak kecil dari nomor 1 hingga 100. Jika ada yang menyentil salah satu dari angka tersebut, maka keseluruhannya akan bertabrakan dan berjatuhan satu sama lain.
Dalam buku “In the Name of Identity”, sastrawan Lebanon berkebangsaan Prancis, Amin Maalou, menyatakan bahwa penyerangan terhadap identitas seseorang – untuk menjatuhkannya – bisa dilakukan atas dasar agama, ras, kelompok, partai, hingga soal keaslian gelar maupun ijazah. Sang rival akan senantiasa mengintip untuk mencari-cari kesalahan sekecil apa pun, hingga ketika merasa pada momentum yang tepat, ia berusaha untuk segera menjatuhkannya.
Penyerangan itu senantiasa berhasil jika menyangkut suatu kesalahan fatal yang dilakukan sang rival. Tak peduli apakah kesalahan itu dilakukan sekarang ataukah di masa lalu, yang kemudian terbuka footprints atau rekam jejaknya.
Terkait dengan ini, orang-orang bijak menyatakan bahwa manusia itu bersifat lemah dan sarat kekhilafan. Seandainya pun ia menjadi besar dan sukses, hal itu semata-mata Tuhan masih menutupi segala kelemahan dan kekurangan yang ada pada dirinya.
Untuk itu, agama melarang sikap ujub dan riya, bahkan menyejajarkan kesombongan dengan perilaku setan (Iblis). Karena kesuksesan setinggi apa pun, pada hakikatnya bukan semata-mata hasil jerih payah manusia sendiri, tetapi karena Tuhan terlibat penuh dalam memberikan rahmat dan kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya.
Namun, jika kasih sayang itu dicabut darinya, sehebat apa pun Dukun dari Gunung Kawi melindungi Jokowi, dan sebanyak apa pun para jin yang dipelihara kroni-kroninya, jika Tuhan sudah menghendaki, mereka akan mudah tumbang dan berjatuhan dalam sejekap mata. (*)
Penulis adalah Pendidik dan Pengasuh di Pondok Pesantren Al-Bayan, Lebak, Banten, juga menulis esai keislaman di berbagai media massa dan online







