Politik di Era FYP: Antara Edukasi dan Manipulasi Algoritma

oleh -1662 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Erik Saju

Dunia digital secara eksistensial berdampak pada cara manusia menjalankan hidupnya. Cara kita berkomunikasi, mengonsumsi informasi, dan berpartisipasi dalam kehidupan publik juga dapat terjadi dalam dunia digital. Kehadiran For You Page (FYP) di platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi basis utama manusia menjalankan hidupnya. Di ruang ini, konten tidak muncul berdasarkan pilihan kita secara langsung, melainkan dipilih oleh algoritma berdasarkan preferensi, kebiasaan menonton, dan interaksi. Di sinilah politik menemukan panggung barunya. Dengan adanya panggung baru bagi politisi, pertanyaan yang muncul yakni apakah media sosial, khususnya FYP, menjadi sarana edukasi politik yang efektif atau justru alat manipulasi?

Tidak bisa disangkal bahwa FYP memberikan peluang besar untuk menyebarkan informasi politik secara luas dan cepat. Di tangan yang tepat, media sosial bisa menjadi alat atau ruang edukasi. Banyak konten kreator muda yang menggunakan platform ini untuk menjelaskan konsep-konsep politik, membedah isu-isu kebijakan publik, hingga membongkar hoaks atau disinformasi. Mereka menyampaikan pesan dengan gaya yang ringan, menarik, dan bahasa yang mudah dipahami. Hal ini sangat efektif untuk menjangkau generasi muda yang seringkali merasa bahwa politik itu rumit, membosankan, atau jauh dari kehidupan sehari-hari.

Lebih dari itu, media sosial memberi ruang bagi suara-suara yang sebelumnya terpinggirkan. Aktivis, jurnalis independen, akademisi, hingga masyarakat sipil kini memiliki akses yang sama untuk menyampaikan pandangannya kepada publik. Dalam hal ini, algoritma bisa berperan sebagai “pendemokrasi informasi”.

Di balik potensi edukatif tersebut, tersembunyi bahaya yang serius yakni manipulasi algoritma. Algoritma media sosial tidak lagi menampilkan konten-konten edukatif. Tujuan utamanya adalah konten politik yang kontroversial, emosional, dan penuh konflik. Tampak begitu logis, namun esensinya adalah malum atau kejahatan.

Menurut Jürgen Habermas, ruang publik ideal adalah arena di mana warga berdiskusi secara rasional dan terbuka demi membentuk opini publik yang kritis. Kini algoritma media sosial menjadikan ruang ini mengalami distorsi karena diskusi publik kini didorong bukan oleh rasionalitas, melainkan oleh viralitas, emosi, dan logika pasar. Algoritma menciptakan gelembung informasi yang memecah ruang bersama dan menghambat komunikasi lintas pandangan, sehingga demokrasi kehilangan fondasi deliberatifnya. Bagi Habermas, ini menunjukkan bagaimana sistem digital telah mengkolonisasi kehidupan sosial dan melemahkan kualitas demokrasi.

Inilah yang memunculkan fenomena “politik sebagai hiburan.” Perdebatan tentang kebijakan digantikan oleh adu sindir antar tokoh. Isu-isu serius dikemas dalam bentuk video lucu yang justru mereduksi kompleksitas persoalan. Bahkan, dalam banyak kasus, penyebaran hoaks atau disinformasi politik menjadi lebih mudah dan cepat karena disampaikan dalam format yang viral.

Lebih parah lagi, algoritma media sosial adalah sistem yang tertutup. Kita tidak tahu secara pasti bagaimana konten dipilih untuk ditampilkan. Kita hanya tahu bahwa apa yang sering kita lihat membentuk cara kita berpikir. Dalam konteks politik, ini menciptakan apa yang disebut sebagai filter bubble atau ruang gema (echo chamber), di mana seseorang hanya terpapar pada informasi yang sejalan dengan pandangannya sendiri. Perbedaan pendapat dianggap ancaman, bukan sebagai hal wajar dalam demokrasi.

Tidak hanya itu, kekuatan algoritma juga dapat merugikan kita. Hal ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak berkepentingan. Konten berbayar terselubung, akun bot, dan buzzer politik dapat memanfaatkan sistem ini untuk membentuk opini publik secara sistematis. Tanpa literasi digital yang baik, publik bisa dengan mudah digiring untuk mempercayai narasi tertentu yang sebenarnya tidak berbasis pada kebenaran. Ada hal lain yang dapat merusak mindset kita yakni penyakit Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Orang dengan ADHD cenderung mengalami Kesulitan memusatkan perhatian dalam waktu lama, Kebutuhan untuk terus-menerus mendapat rangsangan baru, Kecenderungan cepat bosan terhadap konten yang panjang atau kompleks. Salah satu penyakit ini atau kondisi psikologis/neurologis yang membuat seseorang cenderung hanya tertarik menonton konten pendek seperti reels, shorts, atau FYP adalah penurunan rentang perhatian (shortened attention span), yang sering dikaitkan dengan kondisi seperti. Ini juga dipengaruhi oleh algoritma yang sering mengundang rasangan ke otak secara terus-menerus.

Kondisi ini menuntut kewaspadaan kolektif. Kita tidak bisa menyerahkan pendidikan politik generasi muda hanya kepada algoritma dan konten viral. Diperlukan upaya sistematis untuk membangun literasi digital dan literasi politik sejak dini. Pendidikan formal perlu memperkenalkan siswa pada cara kerja media sosial, logika algoritma, serta kemampuan berpikir kritis dalam menyikapi informasi.

Politik di era FYP menampilkan wajah paradoksal yakni di satu pihak baik dan di lain pihak buruk. Ia mencerminkan wajah zaman: serba cepat, visual, dan mudah viral. Tapi justru karena itu, kita harus semakin kritis dan aktif memilih bukan hanya memilih pemimpin lima tahun sekali, tetapi juga memilih konten setiap hari. Dalam era digital, menjadi warga negara yang baik berarti juga menjadi pengguna yang bijak.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat dan Calon Imam Keuskupan Weetebula

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.