Perihal Senang Melihat Penderitaan Orang

oleh -2078 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Alfakir Ahmad Rafiuddin

Ada tipologi manusia yang senang menyelesaikan urusan orang lain. Perilaku yang selaras dengan itu adalah susah melihat orang senang dan gembira melihat orang lain susah. Hatinya diselubungi rasa iri dan dengki, hingga menghalangi jalan kebaikan dan kemudahan bagi hak-hak orang lain.

Adakalanya orang seperti itu berbuat baik, namun kualitas kebaikannya tak lepas dari sifat riya dan ingin dipuji orang lain. Orang seperti ini dengan sendirinya tak suka melihat orang lain mendapatkan rizki, serta gemar menghalangi kesuksesan orang lain.

Sifatnya seperti bermutasi kepada sifat buruk lainnya berupa kesenangan m emfitnah, memprovokasi, mengumbar aib, serta menjatuhkan nama baik orang. Ia suka merusak reputasi, sehingga merasa memiliki kemampuan untuk menutup peluang kerja, prestise, dan usaha orang lain.

Tipikal seperti itu juga tidak bisa menjaga amanah bagi kepentingan umat, karena ia gemar me enahan informasi penting, menyabotase informasi kerja kelompok, bahkan tega mengambil hak orang lain. Di sisi lain, ia pun gemar menjegal rekomendasi atau tak memberi dukungan, baik moril maupun materil, bahkan keyakinan tidak adil untuk ikut berlomba dalam kebaikan, apalagi sampai membantu pihak lain.

 Padahal, dengan sedikit bantuan yang diberikan, orang itu bisa mendapat rizki dan peluang yang lebih baik. “Biarkan saja, karena saya juga dulu susah payah mencari kerja,” demikian alasan klise yang sering dikemukakan. Jadi, pada prinsipnya bukan bermaksud memberi edukasi dan pendidikan, melainkan karena didasarkan pada rasa iri dan dengki yang merupakan penyakit hati yang bersemayam dalam dirinya. Ia seakan lupa pada hadits Nabi, bahwa sifat iri dan dengki itulah yang justru menyebabkan kebaikan orang menjadi luntur dan musnah, sebagaimana api yang menghanguskan kayu-kayu bakar.

Berlaku adil

Alih-alih berlaku adil terhadap pihak lain, justru ia gemar memonopoli kesempatan , tak mau berbagi peluang, atau malah menyingkirkan pesaing secara tidak adil, demi mempertahankan posisinya sendiri. Padahal, rizki itu sudah diatur oleh Tuhan, dan hanya Dia yang berwenang memberi kelapangan maupun kesempitan bagi setiap hamba-Nya.

Sifat dengki yang berkembang itu terus bermutasi hingga gemar memfitnah agar orang lain secara tidak proporsional, memutus tali silaturahmi, karena ia percaya bahwa silaturahmi itu dapat membuka pintu rizki. Untuk itu, ia sengaja memutus hubungan atau menghasut agar hubungan orang menjadi rusak, demi kepentingan prestise dan keunggulannya sendiri.

Di sisi lain, seringkali ia menghindari situasi di mana ia bisa dimintai tolong. Ia menjaga jarak agar tak dimintai bantuan, bahkan oleh sahabat maupun teman persahabatan sekalipun. Ia cenderung saklek dan berlebihan dalam menghitung-hitung, mengkalkulasi, bahkan dalam hal yang sekecil apapun.

Secara religius dan kejiwaan, orang-orang seperti itu tidak pernah merasa dirinya cukup. Bukan karena miskin, tapi karena hati tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki pihak lain. Ia segan berinfak, dan kalaupun bersedekah, ia senang mengungkit atau berhitung secara ketat, dampak apa yang akan diberikan buat saya, jika saya bersedekah kepadanya. Padahal, Tuhan menjanjikan pahala dan ganti yang lebih baik, tapi orang semacam itu justru takut rizkinya berkurang jika memberi. Ia lupa bahwa rizki bukan hanya dari usahanya, tapi juga dari keberkahannya yang ia berikan.

Di dalam Alquran (surah al-Maun ), ditegaskan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang riya dan pamer dalam ibadahnya. Ciri-ciri orang semacam itu adalah bakhil dan enggan memberi sesuatu yang bermanfaat bagi kepentingan orang lain.

Arti Schadenfreude

Di era milenial ini, ramai kita mendengar istilah “Schadenfreude”. Schaden artinya rusak atau hancur, sedangkan freude , artinya senang atau gembira. Jadi, mental schadenfreude, ketika melihat orang jatuh dan susah, dorongan harga dirinya naik dan rasa percaya-dirinya akan muncul. Sedangkan, orang yang berjiwa besar, rasa empatinya akan mampu mengendalikan dirinya, sehingga dapat memahami bahwa persoalan menang dan kalah, sukses dan gagal, hanyalah soal waktu yang dipergilirkan.

Pada prinsipnya, schadenfreude adalah emosi yang negatif, setara dengan kemarahan, kejengkelan, keangkuhan dan kesombongan. Tetapi, karena dalam kehidupan manusia ada unsur senang-sedih atau menang-kalah, maka dengan sendirinya ia seolah-olah bersifat manusiawi. sama dengan manusia yang pada umumnya gembira kalau tim sepakbola atau bulutangkis yang disukainya bisa menang. Sebaliknya, ia akan tertawa atau mengakak melihat sang lawan merasa sedih atau mengamuk membanting raket.

Apapun kegagalan yang dialami pihak lawan, tentu tak layak jika mensyukuri kegagalan dan kegagalannya. Tetapi, gambaran schadenfreude, seolah mengingatkan kita, bahwa fitrah manusia selalu menyukai dan membenci keburukan. Dengan sendirinya, kita bisa merasakan senang ketika yang baik menang dan yang jahat kalah. Kita juga akan merasa gembira ketika mereka tertindas dibela, sementara para penindas mendapat hukuman yang setimpal.

Tetapi, dalam ajaran Islam dikenal “akhlaqul adzimah”, yang berupaya menjelaskan kecenderungan sifat seorang Schadenfreude. Bagaimanapun, kita harus berlaku adil, meskipun terhadap orang yang kita benci. Dalam surah al-Maidah ayat 8 disebutkan: “Dan janganlah kebencian kamu kepada suatu kaum, mendorong kamu hingga berlaku tidak adil kepada kaum tersebut. Berlaku adillah, karena adil itu identik dengan takwa….” (*)

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Falah (Tebuireng 09), Rangkasbitung, Lebak, Banten.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.