Perihal Karya Sastra yang Mendewasakan

oleh -1297 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Indah Noviariesta

Bagi seorang penulis yang baik, sesungguhnya ketahanan mental jauh lebih utama daripada meraih kesuksesan secara cepat. Untuk itu, hidup seorang penulis bukan tentang siapa yang tercepat sampai tujuan, tetapi siapa yang mampu bertahan, berpikir jernih, serta sanggup melahirkan karya-karya yang bernilai. Penulis seperti ini, biasanya berani memutuskan hijrah dan berusaha menjauh dari kehidupan hiper modern yang penuh distraksi dan kebisingan.

Ia paham tentang pentingnya hidup zuhud dan sederhana, agar mampu menggali makna hidup yang lebih mendalam dan esensial. Ia paham bahwa hidup seorang penulis takkan mampu mengendalikan apa yang terjadi, tetapi ia sanggup mengendalikan bagaimana harus merespons sesuatu secara tenang dan bijak. Demikian pula yang tergambar dalam cerpen-cerpen Hafis Azhari, misalnya “Kabar Kematian Seorang Pujangga”, “Maesa Utami” (litera.co.id), “Banjir di Masjid Banten” (nusantaranews.co) atau “Sebatang Pohon yang Ditanam Menjelang Kiamat” (republika.id). Karya-karya genuine itu menjelaskan secara lugas, bagaimana kesulitan hidup ini tak perlu dihindari, tetapi kita harus mengubah suatu rintangan menjadi jalan yang terang dan mencerahkan.

Karya-karya sastra seperti itu takkan alpa mempersoalkan pentingnya ketekunan, hidup istiqomah, disiplin diri guna memperkuat ketahanan mental yang tidak akan lekang oleh waktu. Bagi penulis yang baik, nampaknya tak merasa perlu untuk mengejar-ngejar prestise dan ketenaran. Ia tidak aktif “jualan diri” di media sosial, kecuali jika diniatkan untuk dakwah di jalan kebaikan. Justru lewat ketulusan dan keseriusannya dalam berpikir, karya-karyanya akan membawa pengaruh bagi budaya dan peradaban yang semakin meluas.

Ketahanan mental bagi seorang penulis, bukan berarti tak pernah jatuh atau gagal, tetapi ia tahu caranya kapan harus bangkit setelah terluka, sehingga tetap konsisten menjaga nilai-nilai dalam menghadapi ujian hidup. Dengan begitu, ia akan terampil dalam mengendalikan egonya, tak perlu memupuk hasrat berlebihan agar dirinya terlihat hebat dan terkenal. Baginya, ego dan merasa benar adalah musuh terbesar bagi pertumbuhan diri, serta dari segala hasrat dan hawa nafsu yang tak terkendali.

Hanya penulis yang bijak dapat menemukan kebahagiaan dalam kezuhudan dan kesederhanaan. Melepaskan ego, menerima kenyataan, dan terus belajar adalah bagian dari ketahanan mental yang diperjuangkan sang penulis dalam setiap karya besarnya. Ia tidak mengajari pembaca agar selalu menang dan jaya, tetapi agar selalu sabar untuk terus bertahan (survive). Karena, di tengah iklim persaingan yang tak menentu, gagasan yang disuarakan kebanyakan sastrawan lebih bertumpu pada aliran eksistensialisme demi untuk mencapai kemenangan instan, yang sebenarnya hanya pencapaian ilusi belaka.

Dalam novel “Pikiran Orang Indonesia” (POI) Hafis Azhari memberikan semacam rumusan, bahwa ketika kekuasaan dimulai dengan kecurangan dan kebohongan, kelak ia akan menghadapi pertentangan terus-menerus hingga akhir kekuasaannya. Hal itu pun diprediksi oleh banyak penulis, terutama yang diwartakan dalam cerpen “Dilema Seorang Sastrawan” (ruangsastra.com), ketika novel POI dianggap bumerang yang ditakuti para elit penguasa yang memuja hedonisme belaka. Karya-karya genuine semacam itu setidaknya mengajarkan pembaca agar tetap kukuh dalam pendirian, serta sanggup mengubah setiap rintangan menjadi peluang untuk berkembang. Ia akan menjadi wacana inspiratif yang membuat pembaca teguh hingga sanggup mengatasi tantangan besar dalam hidupnya. Ia akan menyadari, bahwa keberhasilan tidak datang dari menghindari hambatan, tetapi dari menghadapi dan mengatasinya dengan keberanian dan ketabahan.

Karya semacam itu tidak hanya diadopsi oleh para sastrawan maupun seniman, tetapi juga layak bagi kalangan jurnalis, budayawan, agamawan hingga politisi sekalipun. Setidaknya para elit politik, yang masih hidup hati nuraninya akan menyadari betapa kebijakan yang merugikan rakyat akan menimbulkan malapetaka bukan saja bagi mereka yang dipimpin, tetapi justru akan meluluhlantakkan sendi-sendi kepemimpinan itu sendiri. Ia akan memberikan peneguran pada dunia yang seringkali memuja kesuksesan instan dan popularitas semu.

Ia akan mengajarkan pembaca bercermin diri, introspeksi dalam menghadapi dunia yang sarat kebisingan dan kegaduhan. Ia akan menjadi refleksi yang mendalam dalam mencapai hidup yang bermakna dan bermartabat. Untuk itu, seorang penulis yang baik, akan senantiasa menjaga ketenangan sebagai kunci yang dapat mengimbangi guratan penanya, hingga akan terjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan spiritualnya. Ia akan senantiasa berjuang lebih dulu untuk mempersiapkan ruang bagi ketenangan batin. Ia juga pandai memilah-milah beragam informasi yang berseliweran tiada henti di kepalanya.

Di era digital, di mana kita sering merasa kewalahan menghadapi tekanan sosial dan kehidupan pribadi, karya-karya milenial yang memandu kecerdasan dan kedewasaan iman, sangat dirindukan oleh semua kalangan. Sebut saja beberapa gelintir penulis milenial seperti Supadilah Iskandar, Muhamad Pauji, Chudori Sukra, Muakhor Zakaria, yang senantiasa berkarya sambil memandu “jalan terang” untuk menemukan ketenangan dan ketangguhan.

Karya sastra mereka seakan berkumandang, betapa pentingnya kita melepaskan diri dari kecemasan masa depan, serta kekecewaan masa lalu, yang keduanya menjadi batu perintang untuk menciptakan ketenangan dan kedamaian di hari ini. Pesan moral semacam itu niscaya menjadi alat praktis yang dapat diterapkan, juga sangat relevan di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi ini. Tak terkecuali cerpen fenomenal karya Irawaty Nusa, “Hidup Ini Begitu Indah” (nusantaranews.co) yang mengingatkan kita untuk bersyukur atas apa yang kita miliki, mengelola waktu dengan bijaksana, serta tidak terjebak ke dalam ilusi kesuksesan instan.

Karya-karya genuine seperti itulah yang senantiasa mengantarkan kedewasaan dan transformsi spiritual pada bangsa ini. Ia akan menginspirasi jutaan orang untuk menghadapi tantangan hidup dengan penuh keberanian, kebijaksanaan, dan ketenangan. Ia begitu tulus memandu jalan hidup, agar kita tidak mudah terjebak dalam tekanan di era hiper modern, hingga dapat membantu kita semua menjalani hidup yang lebih tenang dan bermakna. ***

Penulis adalah Pegiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa, pemenang lomba cerpen Cagar Budaya Nasional, juga peraih nominasi cerpen terbaik di Litera pada 2021 lalu

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.