Menilai Karya Hafis Azhari secara Obyektif

oleh -875 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Supadilah Iskandar

Narasi-narasi yang dituturkan Hafis Azhari, berikut dialek tokoh-tokohnya sangat mencerminkan khas ibukota Jakarta. Dia sendiri berasal dari Banten Utara (Cilegon), suatu wilayah pendudukan tentara Cirebon yang dipimpin Sultan Hasanuddin, yakni satu-satunya kota di provinsi Banten yang seluruh penduduk kecamatannya berbahasa Jawa Banten, di wilayah bekas kekuasaan raja-raja Sunda Pajajaran.

Corak sastra Hafis, baik dalam novel maupun cerpen-cerpennya yang banyak ditayangkan media daring, cenderung menampilkan kalimat-kalimat lugas dan halus. Kadang mengesankan pembaca dengan rasa misteri yang mendalam, tetapi tidak pernah meninggalkan rasa frustrasi maupun putus asa. Meskipun ia mendalami ilmu sastra secara otodidak, ia terus saja berkiprah menulis karya-karya sastra yang levelnya sepadan dengan karya-karya penulis senior dan profesional, bahkan sanggup beradaptasi dengan era sastra milenial saat ini.

Kehidupannya yang cukup mapan di lingkungan pesantren (Rangkasbitung) membuatnya mampu berkreasi dengan ketenangan dan keheningan yang tak tertandingi oleh para penulis yang disibukkan oleh kejar tayang produksi penerbitan dan perbukuan yang bersifat oligarkis. Ada kompresi bahasa dan emosi yang sehaluan antara cerpen dan novel-novelnya. Tetapi, ia lebih menyukai esai-esai Y.B. Mangunwijaya maupun Pramoedya ketimbang karya-karya sastra mereka yang dinilainya klasik, serta sarat dengan dialek-dialek zaman Hindia Belanda.

Penulis Lekra

Di tahun 2000-an, beberapa tahun setelah kejatuhan Orde Baru, ia pernah mengadakan studi ilmiah tentang sejarah dan sastra Indonesia, berjumpa dengan para penulis Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang dulu dikucilkan di penjara Salemba maupun Pulau Buru. Itulah titik balik yang membuat Hafis mengurungkan niatnya untuk menerbitkan karya-karya novel perdananya. “Kadang kita menulis beratus-ratus halaman, tetapi ketika berjumpa dengan orang-orang tertentu yang menjadi rival pemerintah Orde Baru, tiba-tiba dalam sekejap pikiran kita berubah tentang makna dan hakikat kehidupan,” tegas Hafis Azhari.

Novel otobiografisnya yang banyak menjadi perbincangan publik adalah Pikiran Orang Indonesia (POI). Novel itu ditulis setelah dirinya mengadakan penelitian ilmiah tentang korban-korban politik Orde Baru, bersama sejarawan Asvi Warman Adam, Goenawan Mohamad, Hermawan Soelistyo dan beberapa pakar sejarah lainnya (baca: “Memahami Skizofrenia dari Karya Sastra”kompas.id). Sebagai seorang penulis yang pernah kuliah S1 pada jurusan Filsafat (UIN Jakarta) selama lima tahun, Hafis mengaku belum sempat menulis banyak tentang kehidupan di saat mahasiswa dulu, karena dunia kampus di era Orde Baru diakuinya tidak meninggalkan kesan apa pun dalam kehidupan emosionalnya.

Beberapa kritikus sastra menyerang novel POI yang katanya banyak menggambarkan wajah Indonesia yang serius, tanpa senyum dan joget-joget, seakan banyak mengungkap manusia-manusia Indonesia yang gagal dan tak berhasil. Di sisi lain, novel Perasaan Orang Banten diserang juga sebagai gambaran cerita tentang populasi yang tenggelam, orang-orang kesepian yang tidak selalu memiliki sahabat untuk diajak bicara secara terbuka.

Tetapi pada prinsipnya, apapun yang dia tuliskan dan gambarkan tentang fenomena rakyat Indonesia, Hafis hanyalah seorang saksi yang menjelaskan kehidupan yang ia jalani untuk rentang waktu setelah peristiwa politik 1965, tampilnya kekuasaan Soeharto, hingga beberapa dekade “reformasi” yang bersentuhan langsung dengan era milenial saat ini.

Bagaimana pun, Hafis tak pernah menampilkan dirinya selaku juru bicara, tetapi hanya sebagai penulis sekaligus saksi sejarah dalam konteks kekinian dan keindonesiaan.

Setelah menghadiri peluncuran novelnya (Perasaan Orang Banten) di Rumah Dunia atas inisiatif Gola Gong (2012), saya menelusuri karya pertamanya itu bagaikan bangunan arsitek, yang kata-katanya disusun seperti tumpukan batu yang membentuk sebuah candi maupun masjid agung. Untuk novel POI, Hafis mengakui banyak memiliki rahasia yang masih disimpannya, karena ia tak mau menciptakan kesan skeptisisme dalam menyikapi keadilan dan kasih sayang Tuhan. Baginya, penciptaan semesta makro, di mana manusia Indonesia berperan selaku semesta mikro, memiliki harmoni dan keterkaitan rahasia imajiner yang hanya ada di benak orang-orang dengan jiwa-jiwa terpilih.

Gerakan sastra

Untuk itu, Hafis tak mau menulis prosa yang mengandung kesan absurd. Kalaupun ada unsur seks dan cinta terlarang, seperti pada cerpen “Maesa Utami” (litera.co.id) atau “Cinta Itu Buta” (ruangsastra.com), kisah itu tidak menimbulkan kesan vulgar yang memantik keterangsangan. Bagi Hafis, menulis prosa bagaikan suatu petualangan yang menghasilkan penemuan mutakhir. Dia sendiri mengaku tidak memiliki program apapun ketika menggarap tulisan, tiba-tiba mengalir dari satu kalimat ke kalimat berikutnya, bahkan sama sekali tak tahu akan mencapai ending seperti apa.

Hafis menampik dirinya seakan membangun gerakan pembaharuan sastra Indonesia di era milenial ini. Dia sendiri mengaku sebagai penulis yang “pemalu”, meski beberapa penulis muda menilainya memiliki gaya dan genre tersendiri, dengan kesederhanaan yang bercorak minimalis. Tetapi, apapun penilaian orang tentang karyanya, baginya setiap penulis memiliki kekhasan dan spesifikasi yang tak lepas dari latar belakang kepribadiannya.

Memang dia menolak untuk bergabung dalam komunitas dan kelompok sastra tertentu, tetapi baginya sebagai penulis tetap ada kesatuan dan keterpaduan yang saling mengikat, terutama dalam soal kenikmatan menulis, atau menghargai adanya penemuan yang beragam dan unik dari para penulis muda milenial, khususnya dalam corak dan bentuk penulisan prosa (cerpen). “Para penulis milenial itu telah menyerap banyak bentuk dan gaya, baik yang bersifat klasik maupun kontemporer. Mereka banyak mengadopsi karya-karya saya, tetapi jangan lupa, mereka juga adalah guru-guru saya,” ujar Hafis dengan rendah hati.

Ia berusaha menghargai para penulis muda milenial, baik yang menampilkan dirinya secara terbuka, maupun mereka yang masih merahasiakan wajah dengan menampilkan sosok selaku “hamba Tuhan”. Kadang sekelompok penulis mengunjungi kediamannya, meski masing-masing tampil selaku juru bicara untuk dirinya sendiri. Mereka seakan terobsesi untuk menciptakan kembali dunia anak muda Indonesia, meski mereka harus menyadari keragaman kaum terpelajar dan mahasiswa di era distraksi informasi yang makin semarak ini.

Namun demikian, Hafis menyadari bahwa kondisi keindonesiaan maupun global sudah semakin berubah. Jika sebagian penulis di era 1990-an banyak mempedulikan cita-cita sosio-politik, tetapi saat ini tampaknya mereka lebih mengacu pada petualangan ke dalam diri, secara psikologis, terutama yang terkait dengan hubungan kekerabatan dan persaudaraan dengan teman-teman sebaya mereka. (*)

Penulis adalah Pengamat dan peneliti sastra mutakhir Indonesia, juga menulis prosa dan esai di berbagai media nasional luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.