Menghidupkan Mitologi Nusantara dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

oleh -949 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Heri Isnaini

Di sebuah kelas Bahasa Indonesia, saya pernah mencoba mengajak mahasiswa menyebutkan tokoh-tokoh yang mereka kenal dan kagumi. Nama-nama itu mengalir begitu saja: Naruto Uzumaki, Monkey D. Luffy, Eren Yeager, Gojo Satoru, Sung Jinwoo, Spider-Man, Iron Man, Captain America, Thor, hingga berbagai karakter dari gim dan dunia digital yang akrab dengan kehidupan mereka. Beberapa mahasiswa bahkan mampu menjelaskan perjalanan hidup tokoh-tokoh tersebut secara rinci: konflik yang mereka hadapi, kekuatan yang dimiliki, hingga perubahan karakter yang terjadi sepanjang cerita.

Namun, suasana sedikit berubah ketika saya menyebut nama-nama seperti Ken Dedes, Subanglarang, Sangkuriang, Lutung Kasarung, atau Mundinglaya Dikusumah. Sebagian pernah mendengarnya, tetapi hanya sebagai bagian dari pelajaran sekolah yang samar-samar tersimpan dalam ingatan. Sebagian lainnya tampak berusaha mengingat kembali siapa sebenarnya tokoh-tokoh itu.

Pemandangan semacam ini bukanlah sesuatu yang mengherankan. Generasi muda hari ini tumbuh dalam dunia yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka hidup di tengah arus budaya global yang bergerak melalui film, anime, gim, media sosial, dan berbagai platform digital. Tokoh-tokoh yang mereka kenal tidak lagi terutama diwariskan melalui cerita yang dituturkan orang tua atau guru, melainkan melalui layar yang setiap hari mereka genggam.

Namun, apakah keadaan ini berarti mitologi Nusantara telah kehilangan relevansinya? Saya kira tidak. Justru di tengah derasnya budaya digital, mitologi Nusantara memiliki peluang untuk hadir kembali dengan cara yang baru. Persoalannya bukan pada cerita-cerita itu sendiri, melainkan pada cara kita memperkenalkannya kepada peserta didik.

Selama ini, mitologi sering ditempatkan sebagai bagian dari masa lalu. Ia hadir dalam buku pelajaran sebagai cerita rakyat yang harus dibaca, diringkas, lalu dihafalkan. Akibatnya, mitologi kehilangan daya hidupnya. Ia menjadi benda museum yang diam, padahal pada hakikatnya mitologi adalah sesuatu yang hidup. Manusia selalu hidup bersama mitos.

Bentuknya mungkin berubah, tetapi kebutuhannya tetap sama. Dahulu masyarakat Nusantara mengenal Sangkuriang, Lutung Kasarung, atau Ken Dedes. Hari ini generasi muda mengenal Naruto, Thor, atau Spider-Man. Sekilas keduanya tampak sangat berbeda. Akan tetapi, jika kita melihatnya lebih dalam, keduanya lahir dari kebutuhan manusia yang sama, yaitu kebutuhan untuk memahami dunia melalui cerita.

Pemikiran Carl Gustav Jung membantu kita memahami hal ini. Jung berpendapat bahwa di dalam alam bawah sadar manusia terdapat pola-pola simbolik universal yang disebut arketipe. Arketipe inilah yang membuat tokoh-tokoh dalam berbagai budaya sering memiliki kemiripan meskipun lahir di tempat dan zaman yang berbeda.

Ketika membaca kisah Sangkuriang, misalnya, kita tidak hanya berhadapan dengan legenda tentang asal-usul Gunung Tangkuban Parahu. Kita juga berhadapan dengan kisah tentang pencarian identitas, pemberontakan terhadap batas-batas yang telah ditentukan, serta tragedi manusia yang gagal memahami dirinya sendiri. Tema-tema semacam ini tidak hanya muncul dalam mitologi Sunda. Kita menemukannya pula dalam berbagai kisah besar dunia, dari tragedi Yunani hingga cerita-cerita modern yang hadir dalam film dan anime.

Demikian pula dengan Lutung Kasarung. Di balik kisahnya yang fantastis, tersimpan arketipe pahlawan yang menyamar. Sosok yang dianggap rendah, asing, atau tidak layak, tetapi justru menjadi pembawa perubahan. Pola semacam ini terus muncul dalam berbagai cerita yang digemari generasi muda hingga hari ini.

Ken Dedes menawarkan lapisan makna yang berbeda. Ia sering dikenang karena kecantikannya yang melegenda, tetapi pembacaan yang lebih mendalam menunjukkan bahwa ia merupakan simbol kekuatan feminin yang mengubah arah sejarah. Dalam perspektif Jung, ia dapat dibaca sebagai figur Great Mother, sosok perempuan yang menjadi pusat transformasi, kesuburan, dan kelahiran sebuah tatanan baru. Dari tubuh dan keberadaannya lahir perubahan politik yang menentukan perjalanan sejarah Jawa.

Sementara itu, Subanglarang menghadirkan figur perempuan yang tidak hanya penting secara historis, tetapi juga simbolis. Ia berdiri di persimpangan antara tradisi lama dan dunia baru. Melalui dirinya, kita melihat bagaimana pengetahuan, spiritualitas, dan kebijaksanaan dapat menjadi kekuatan yang mengubah arah sebuah peradaban. Dalam banyak hal, Subanglarang memperlihatkan bahwa perempuan dalam sejarah Nusantara tidak selalu hadir sebagai pelengkap, melainkan sebagai penggerak perubahan.

Jika Jung membantu kita membaca tokoh-tokoh tersebut melalui simbol-simbol universal, maka Joseph Campbell membantu kita memahami struktur cerita yang membentuknya. Melalui konsep hero’s journey, Campbell menunjukkan bahwa banyak cerita besar di dunia memiliki pola yang serupa: seorang tokoh meninggalkan dunia lamanya, menghadapi berbagai ujian, mengalami transformasi, lalu kembali dengan kesadaran baru.

Pola ini mudah ditemukan dalam berbagai cerita populer masa kini. Naruto, Luffy, Harry Potter, hingga para superhero Marvel bergerak melalui perjalanan semacam itu. Menariknya, pola yang sama juga hidup dalam mitologi Nusantara. Mundinglaya Dikusumah yang mencari Layang Salaka Domas, Lutung Kasarung yang menjalani berbagai ujian, bahkan Sangkuriang yang terlibat dalam perjalanan tragis pencarian dirinya sendiri, semuanya menunjukkan bahwa mitologi Nusantara memiliki kedalaman naratif yang tidak kalah kuat dibandingkan berbagai cerita global yang digemari generasi muda.

Pandangan Roland Barthes membawa kita lebih jauh lagi. Barthes mengingatkan bahwa mitos bukan sekadar cerita kuno. Mitos adalah cara sebuah masyarakat memberi makna pada dunia. Karena itu, setiap zaman akan melahirkan mitologinya sendiri. Masyarakat Nusantara melahirkan Sangkuriang, Ken Dedes, dan Lutung Kasarung. Masyarakat modern melahirkan superhero, karakter anime, dan berbagai tokoh budaya populer lainnya. Bentuknya berbeda, tetapi fungsinya serupa: membantu manusia memahami harapan, ketakutan, nilai, dan impian yang hidup dalam masyarakatnya.

Dari sinilah pembelajaran Bahasa Indonesia dapat menemukan perannya. Mitologi Nusantara tidak perlu dipertentangkan dengan budaya populer yang disukai peserta didik. Sebaliknya, keduanya dapat dipertemukan dalam ruang dialog yang produktif. Ketika siswa membandingkan perjalanan Lutung Kasarung dengan perjalanan Naruto, atau membaca Ken Dedes berdampingan dengan berbagai tokoh perempuan kuat dalam budaya populer, mereka sesungguhnya sedang belajar bahwa cerita-cerita manusia saling terhubung melampaui batas ruang dan waktu.

Perspektif Halliday semakin memperkaya pemahaman tersebut. Halliday memandang bahasa sebagai sistem pembentuk makna. Setiap teks merupakan representasi pengalaman sosial yang lahir dari konteks budaya tertentu. Dengan demikian, mitologi bukan hanya kumpulan cerita. Mitologi adalah teks budaya yang menyimpan cara suatu masyarakat memahami kehidupan.

Ketika siswa membaca kisah Sangkuriang, mereka sedang membaca hubungan masyarakat Sunda dengan alam dan identitas. Ketika membaca Ken Dedes, mereka sedang membaca konsep kekuasaan dan legitimasi dalam masyarakat Jawa. Ketika membaca Subanglarang, mereka sedang membaca proses perjumpaan budaya, spiritualitas, dan perubahan sosial. Ketika membaca Lutung Kasarung, mereka sedang membaca gagasan tentang kepemimpinan, kesetiaan, dan keadilan.

Pada titik inilah pembelajaran Bahasa Indonesia melampaui fungsi teknisnya. Ia tidak lagi sekadar mengajarkan struktur teks, unsur intrinsik, atau kaidah kebahasaan. Ia menjadi ruang perjumpaan antara bahasa, sastra, mitologi, psikologi, sejarah, dan kebudayaan. Di tengah dunia yang semakin dipenuhi algoritma dan informasi yang bergerak cepat, mitologi Nusantara menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia mengajak peserta didik untuk berhenti sejenak dan memasuki ruang refleksi yang lebih dalam. Di sana mereka tidak hanya menemukan cerita tentang masa lalu, tetapi juga menemukan pertanyaan-pertanyaan yang masih hidup hingga hari ini, yaitu tentang identitas, cinta, kekuasaan, pengorbanan, dan makna menjadi manusia.

Mungkin itulah alasan mengapa mitologi Nusantara perlu dihidupkan kembali dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Bukan semata-mata untuk melestarikan warisan budaya, melainkan untuk membantu generasi muda memahami bahwa di balik perubahan zaman yang begitu cepat, manusia tetap membutuhkan cerita sebagai cara untuk mengenali dirinya dan memahami dunia tempat ia hidup.

Penulis adalah Dosen Sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Juga merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.