Menavigasi Era Society 5.0: Relevansi Filsafat Islam di Tengah Badai Disrupsi Digital

oleh -359 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Moh. Ali Wafa

Kita saat ini berada di masa Society 5.0, sebuah fase peradaban di mana manusia dituntut untuk hidup berdampingan secara harmonis dengan teknologi cerdas seperti Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) demi memecahkan masalah sosial. Namun, kemajuan ini sering kali menciptakan kekosongan spiritual dan krisis etika. Fenomena ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari tantangan modernitas yang ditandai dengan rasionalitas dan sekularisasi yang cenderung memisahkan Tuhan dari alam.

Di sinilah Filsafat Islam Modern hadir bukan untuk menolak kemajuan, melainkan sebagai perjalanan moral dan intelektual. Sejarah mencatat bahwasaannya filsafat ini muncul sebagai merespons terhadap kolonialisme Barat dan kemunduran umat Islam sejak abad ke-18. Gerakan tajdid (pembaruan) menjadi fondasi bagi usaha sistematis untuk mengintegrasikan tradisi keislaman dengan pemikiran modern tanpa kehilangan nilai wahyu.

Integrasi Wahyu dan Sains: Menghapus Dikotomi Ilmu

Kunci utama menghadapi disrupsi digital adalah integrasi-interkoneksi antara sains dan agama. Islam tidak pernah memisahkan antara ayat qouliyah (wahyu) dan ayat kauniyah (alam semesta). Hal ini cocok dengan upaya para pemikir modern untuk membangkitkan kembali rasionalitas yang pernah menjadi fondasi kejayaan Islam yang mana sekarang mulai di tinggalkan.

Paradigma Wahdatul Ulum: Paradigma ini bertujuan menghilangkan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Dalam pandangan ini, riset tentang AI dipandang sebagai ibadah intelektual untuk memahami kebesaran Pencipta. Hal ini didukung oleh pemikiran Sir Sayyid Ahmad Khan, yang menegaskan bahwa wahyu dan hukum alam (sunatullah) tidak mungkin bertentangan karena keduanya adalah manifestasi kehendak Tuhan.

Epistemologi Tiga Pilar: Menjawab tantangan teknologi memerlukan penggunaan teks suci (Bayani), logika rasional/sains (Burhani), dan intuisi spiritual (Irfani) secara bersamaan.
Sains Berbasis Etika: Memastikan pengembangan teknologi tetap berada dalam koridor tujuan syariah untuk menjaga jiwa, akal, dan keturunan. Sebagaimana ditekankan oleh Muhammad Abduh, Islam adalah agama rasional yang selaras dengan ilmu pengetahuan dan menuntut penafsiran kontekstual sesuai sunatullah.

Pendidikan Karakter dan Literasi Digital sebagai JihadDigital sebagai Ladang Amal Baru

Di era Society 5.0, teknologi bukan lagi sekadar alat, melainkan lingkungan hidup kita. Oleh karena itu, literasi digital bukan hanya soal mahir menggunakan perangkat canggih, tapi bagaimana kita membawa adab dan akhlak ke dalam setiap ketikan dan unggahan.

Mengapa Ini Penting?

Akhlaqul Karimah di Ruang Siber: Media sosial dan internet adalah cermin diri. Integritas seorang Muslim diuji saat ia berinteraksi tanpa tatap muka. Menjaga lisan (dalam bentuk tulisan), menghindari hoaks, dan menebar kedamaian adalah wujud nyata dari iman di era digital.

Ijtihad Kontemporer: Menyesuaikan ajaran Islam dengan teknologi adalah bentuk perjuangan intelektual (ijtihad) masa kini. Tujuannya agar nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadist tidak hanya tersimpan di kitab suci, tapi hidup dalam algoritma dan interaksi digital kita.
Dakwah Melalui Keteladanan: Menjadi pribadi yang santun di internet adalah cara paling efektif untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang relevan dan mencerahkan, kapan pun dan di mana pun zamannya.

Intinya: Literasi digital di era 5.0 adalah cara kita beribadah melalui teknologi—memastikan bahwa kemajuan digital membawa kita lebih dekat kepada kemanusiaan dan Tuhan, bukan malah menjauhinya.

Digital Adab (Etika Siber): Menerapkan konsep tabayyun (verifikasi) terhadap hoaks dan hifzhul lisan (menjaga lisan/tulisan) di media sosial. Hal ini merupakan antitesis dari pola pikir pasif yang dilarang oleh Jamaluddin al-Afghani, yang menekankan pentingnya pemikiran kritis dan perubahan sosial.

Kurikulum Integratif: Sekolah dan pesantren masa kini tidak hanya mengajarkan “kitab kuning”, tetapi juga etika pemrograman dan keamanan data sebagai tanggung jawab moral.

Literasi sebagai Jihad Intelektual: Memandang kemampuan memilah informasi sebagai perjuangan menjaga akal sehat umat di tengah banjir informas

Pembentukan Insan Kamil yang Cakap Teknologi

Tujuan akhir dari filsafat Islam modern adalah membentuk insan yang sempurna. Sosok ini tidak hanya mampu mengoperasikan algoritma, tetapi juga memastikan teknologi tersebut bekerja demi kemaslahatan umat (rahmatan lil ‘alamin) yang di maksud imanusia yang sempurna adalah Memiliki keseimbangan antara kemampuan teknis dan kepekaan nurani.

Dinamika Kreatif: Sebagaimana digagas oleh Muhammad Iqbal, umat Islam harus memiliki keberanian berijtihad dan membangun dinamika pemikiran yang kreatif untuk menolak stagnasi. Digital Leadership Mencetak pemimpin yang mampu mengambil keputusan berbasis data tanpa kehilangan empati dan nilai kemanusiaan.

Kesimpulan: Jembatan Menuju Masa Depan

Filsafat Islam modern berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan warisan intelektual Islam dengan tuntutan modernitas. Ia menawarkan rekonstruksi cara berpikir yang mengintegrasikan akal, wahyu, dan realitas empiris secara harmonis.

Dengan menghidupkan kembali tradisi rasional dan semangat ijtihad, umat Islam tidak akan kehilangan identitas spiritualnya di tengah disrupsi digital. Sebaliknya, teknologi akan menjadi sarana untuk membangun kembali peradaban Islam yang maju dan tetap berpegang pada nilai-nilai Ilahiah.

Penulis adalah Mahasiswa INSTIBA Bangkalan, sekaligus KOSMA PAI Angkatan 2025

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.