Melki Laka Lena dan “Ilusi NTT Bangkit”

oleh -865 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Munir Sara

John Maynard Keynes pernah menulis, ekonomi bisa tumbuh dari belanja, tetapi hanya yang berakar kuat yang akan bertahan. Kalimat itu seperti ditulis untuk Nusa Tenggara Timur (NTT) hari ini.

Ekonominya memang tumbuh, tetapi rapuh. Seperti pohon pisang yang hijau daunnya, namun busuk batangnya. Dari luar tampak bergerak, di dalamnya keropos.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan gejala yang tak bisa disembunyikan. Konsumsi rumah tangga di NTT melambat menjadi 3,25 persen pada triwulan II 2025, turun dari 4,18 persen di periode yang sama tahun lalu.

Padahal triwulan II seharusnya menjadi musim panen ekonomi. Ada Paskah, Idul Fitri, Waisak, dan libur sekolah, semua momentum yang biasanya mendorong belanja masyarakat.

Tahun ini, musim ramai justru menjadi musim sepi. Rakyat menahan uang di saku, pasar sunyi, daya beli loyo.

Konsumsi pemerintah justru turun tajam menjadi 2,11 persen. Angka ini memperlihatkan betapa lemahnya peran fiskal daerah dalam menopang ekonomi.

Penurunan tersebut bahkan terjadi ketika pusat telah menyalurkan tambahan anggaran berupa gaji ke-13 dan percepatan tunjangan profesi guru.

Artinya, tanpa bantuan pusat, konsumsi pemerintah di NTT mungkin akan lebih parah lagi.

Pemerintah provinsi tidak benar-benar menggerakkan ekonomi, hanya bergantung pada dana transfer yang menutupi minimnya kebijakan belanja produktif.

Jika dua mesin utama, konsumsi rakyat dan konsumsi pemerintah, sama-sama lemah, maka harapan terakhir seharusnya ada pada investasi.

Tapi di situlah letak masalah paling parah. Pembentukan Modal Tetap Bruto atau PMTB, ukuran utama investasi, justru terkontraksi 2,24 persen.

Dunia usaha berhenti bergerak. Sektor konstruksi menurun, pembelian kendaraan berkurang, proyek fisik mandek.

Para investor sepertinya lebih percaya pada ombak di Laut Sawu daripada pada arah kebijakan ekonomi NTT.

Dalam teori Paul Samuelson, pertumbuhan seperti ini disebut “growth without strength,” tumbuh tapi tanpa otot.

NTT masih mencatat angka positif, tetapi bukan karena pemerintah bekerja, melainkan karena efek sisa dari konsumsi masa lalu.

Tidak ada fondasi baru yang dibangun, tidak ada energi produktif yang lahir. Seperti kapal yang masih melaju karena angin kemarin, bukan karena mesinnya menyala.

Melki Laka Lena sering berbicara tentang transformasi ekonomi biru dan NTT bangkit. Tapi data justru menunjukkan sebaliknya.

Konsumsi rakyat melambat di musim puncak, konsumsi pemerintah turun tajam, dan investasi ikut jatuh. Itu bukan transformasi, melainkan stagnasi yang disamarkan dengan retorika.

Ekonomi yang sehat harus punya tulang berupa produktivitas, investasi, dan kepercayaan. Di NTT, ketiganya rapuh.

Produktivitas rendah karena pertanian jalan di tempat. Investasi macet karena infrastruktur tidak siap. Kepercayaan publik menurun karena pemerintah lebih sibuk berpidato daripada bekerja.

BPS mencatat semuanya dengan tenang, tapi di balik tabel dan angka itu ada kisah getir. Petani tidak menanam lebih banyak karena harga hasil bumi tidak naik.

Pedagang tidak menambah stok karena pembeli makin sedikit. Dunia usaha menunda ekspansi karena tidak percaya pada arah pembangunan.

Semua tanda menuju satu kesimpulan, pertumbuhan yang terjadi di NTT adalah pertumbuhan semu, bertopang pada uang pusat, bukan kekuatan daerah.

Pemerintah provinsi tampak puas dengan angka yang terlihat hidup di atas kertas, padahal ekonomi riil di lapangan melemah. Rakyat di bawah tahu bedanya.

Mereka melihat toko sepi, ladang kering, dan ongkos hidup naik. Di tengah itu semua, gubernurnya masih percaya bahwa optimisme bisa menggantikan kebijakan.

Uang pusat yang diklaim sebagai bukti pertumbuhan justru memperlihatkan ketergantungan yang memalukan.

Ia bukan alat pembangunan, melainkan penyangga semu agar laporan ekonomi terlihat cerah. Menutupi bahwa konsumsi rakyat melemah karena daya beli habis. Menutupi bahwa investasi jatuh karena pemerintah tak punya arah.

Kalau Mahbub Djunaidi menulis hari ini, barangkali ia akan menutup tulisannya begini: ekonomi NTT memang tumbuh, tapi seperti rumput liar di musim hujan, cepat hijau, cepat layu.

Dan jika keadaan ini dibiarkan, maka NTT akan terus mencatat pertumbuhan di atas kertas, sementara rakyatnya tetap berjalan di tempat, menunggu ekonomi yang punya tulang.

Minggu, 5 Oktober 2025

Penulis adalah Mantan Ketua HMI Cabang Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.