Melihat Nilai Tubuh dari Gejala HIV di Kota Kupang

oleh -1810 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Wensislaus Jandi

Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kota Kupang secara resmi merilis data terbaru bahwa jumlah kasus baru HIV/AIDS di Kota Kupang sepanjang Januari hingga September 2025 mencapai 169 kasus. Sekretaris KPAD Kota Kupang, Julius Tanggo Bore, menegaskan bahwa angka 2.539 kasus merupakan total akumulasi selama sepuluh tahun terakhir, yakni dari 2015 hingga 2025.

Lebih memprihatinkan lagi, Julius Bore mengungkapkan bahwa delapan sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Kupang telah terindikasi terlibat dalam praktik prostitusi daring (online). Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak usia remaja kini ikut menjadi korban sekaligus sasaran perilaku menyimpang di dunia digital. Lebih mengkhawatirkan lagi adalah sekitar 30 persen dari kasus tersebut berasal dari hubungan sesama jenis (homoseksual). Fakta ini memperlihatkan bahwa pekerja seks tidak hanya berasal dari kalangan perempuan, tetapi juga laki-laki.

Fenomena meningkatnya kasus HIV di Kota Kupang tidak sekadar berbicara tentang penyakit atau perilaku berisiko, tetapi juga menyentuh persoalan yang lebih esensial yakni nilai tubuh manusia. Tubuh yang seharusnya menjadi tanda kehidupan, keindahan, dan martabat kini semakin sering diperlakukan sebagai komoditas dan alat pemuas. Dalam situasi ini, tubuh kehilangan makna sakralnya dan direduksi menjadi objek ekonomi, kesenangan, atau bahkan eksploitasi digital. Dalam pandangan moral dan kemanusiaan, tubuh bukanlah sesuatu yang terpisah dari martabat pribadi manusia.

Ia merupakan bagian dari diri yang utuh menyimpan identitas, emosi, dan spiritualitas seseorang. Ketika tubuh diperjualbelikan, baik melalui prostitusi online maupun relasi seksual tanpa tanggung jawab, maka yang terluka bukan hanya fisik, tetapi juga nilai kemanusiaan yang terkandung di dalamnya. Bagi Plato filsuf Yunani Kuno menekankan bahwa keindahan tubuh hanyalah pintu awal menuju keindahan yang lebih sempurna, yaitu keindahan jiwa, hingga akhirnya Keindahan itu sendiri (Form of Beauty), yang abadi dan tidak berubah. Sehingga tubuh harus dihargai dan dihormati karena dia bukan alat yang dapat dipakai sebagai pemuas nafsu belaka.

Fakta bahwa pelajar dan mahasiswa di kota Kupang justru lebih banyak terjangkit HIV/AIDS dibanding pekerja seks komersial! Dan beberapa pelajar bahkan mengaku kencan dengan tiga hingga delapan laki-laki dalam sehari serta terlibat dalam praktik prostitusi daring. Hal ini menjadi tanda bahwa generasi muda sedang menghadapi krisis pemaknaan terhadap tubuh dan seksualitas. Mereka hidup dalam dunia digital yang menawarkan kebebasan tanpa batas, tetapi tanpa arah nilai.

Tubuh dipertontonkan, diukur dari tampilan dan keinginan, bukan lagi dari martabatnya sebagai ciptaan yang berharga. Jika demikian maka hal ini tidak jauh dari pandangan Aristoteles yang menyatakan bahwa perempuan merupakan manusia yang tidak sempurna. Menjadi perempuan berarti deprived equality, yakni manusia yang tercabut kualitas-kualitasnya, di mana kualitas-kualitasnya dilihat dari kacamata laki-laki. Artinya eksistensi perempuuan dianggap rendah.

Namun Simone de Beauvoir menolak pandangan ini bahwa esensi kodrat yang bersifat tetap pada manusia tidak ditentukan oleh fungsi biologisnya semata. Penolakan ini bertitik pijak pada pemikiran Rene Descartes yang mengklaim bahwa tubuh manusia tidak lebih dari tubuh biologis yang ditentukan oleh fungsi fisiologis organya. Dengan pandangan ini Descartes menolak pandangan subyektif dan eksistensial dari tubuh manusia yang jika pengalaman itu tidak bisa dijelaskan dengan hukum yang pasti dan obyektif. Karena itu, pendapat Beauvoir dapat dikatakan bahwa manusia bukan tumbuhan dan bukan pula binatang yang dikendalikan oleh insting untuk bertahan hidup.

Melihat kembali data HIV di Kota Kupang, khususnya yang menunjukkan bahwa pelajar dan mahasiswa justru lebih banyak terinfeksi dibanding pekerja seks komersial, maka jelas bahwa persoalan ini tidak lagi sekadar masalah kesehatan semata, tetapi sudah menjadi cerminan hilangnya pemahaman dasar tentang nilai tubuh. Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa generasi muda tidak memiliki kesadaran akan martabat tubuhnya sendiri dan mudah menyerahkannya pada tindakan yang merendahkan harkatnya. Situasi ini menegaskan perlunya fondasi moral dan spiritual yang kuat sebagai penataan kembali cara pandang manusia terhadap tubuhnya.

Dalam pandangan Teologi Katolik bahwa manusia diciptakan menurut citra Allah (imago Dei) (Kej.1:26), karena itu, eksploitasi tubuh termasuk dalam bentuk pelukaan terhadap martabat Ilahi. Sangat menarik Yohanes Paulus II menggarisbawahi peran tubuh manusia untuk mengungkapkan keluhuran martabatnya. Bahwa keluhuran martabat manusia tercermin dalam tubuhnya, kesanggupan manusia untuk bernalar, memilih dan memutuskan, yang ditemukan dalam makhluk hidup lain.

Keluhuran martabat ini mengundang setiap manusia untuk memelihara atau merawat kesehatan tubuh dengan baik dan terlepas dari unsur-unsur luar yang bisa menggangu atau merusak sistem kesehatan manusia. Hal inilah yang tidak diperhatikan oleh kaum remaja dan mereka yang bergejala HIV atau AIDS di kota Kupang. Bagi mereka kepuasan dan kesenagan seks adalah yang utama, tanpa mempertimbangkan konsekuensinya. Mereka tidak melihat nilai tubuh sebagai yang indah dari diri mereka, padahal kalau mereka sungguh-sungguh menghargai tubuhnya sebagai nilai keluhuran dari tubuhnya, maka dengan sendirinya dia akan membentengi dirinya sehingga tidak terjangkit HIV yang sedang merebak di lingkungan sekolah, maupun masyarakat luas.

Oleh sebab itu, untuk menyembuhkan masalah gejala HIV di Kota Kupang maka diperlukan kolaborasi antara keluarga, sekolah, gereja, pemerintah, dan komunitas sosial untuk menegakkan kembali nilai tubuh sebagai anugerah bermartabat. Pendidikan moral dan literasi digital harus diperkuat sejak dini, agar remaja mampu memahami risiko perilaku seksual bebas dan tidak terjerumus dalam eksploitasi daring. Sekolah dan lembaga keagamaan juga perlu menyediakan ruang aman untuk pendampingan psikologis, pembinaan karakter, serta pendidikan seksualitas yang benar dan bermartabat. Dengan pendekatan medis, sosial, dan spiritual yang terintegrasi, upaya pencegahan HIV menjadi gerakan pemulihan martabat manusia.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.