RADARNTT, Kupang – Awal Desember 2025 mendatang, warga Kelurahan Bello, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) akan menggelar Festival Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional bertajuk “Teras Main Kota Kupang”.
Kegiatan yang dipusatkan di Lapangan Bola Nunhala Bello itu bukan hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga diproyeksikan sebagai penggerak ekonomi lokal melalui keterlibatan pelaku UMKM dan peningkatan perputaran ekonomi masyarakat.
Festival ini mempertandingkan dua permainan tradisional, yaitu gasing dan sikidoka. Panitia menargetkan kegiatan ini menjadi magnet bagi masyarakat Kota Kupang dan sekitarnya sehingga mampu mendorong transaksi ekonomi sektor informal seperti kuliner, kerajinan lokal, penyewaan perlengkapan, serta jasa kreatif yang ikut membuka stan di lokasi acara.
Dukungan Penuh dari Penyelenggara dan Pemerintah
Ketua RW 003 Bello sekaligus Ketua Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Daerah (KPOTI) Kota Kupang, Goris Takene, menyatakan bahwa pelaksanaan Teras Main Kota Kupang yang digelar di Bello akan memberi dampak ekonomi nyata bagi warga.
“Teras Main Kota Kupang yang digelar di Bello bukan hanya agenda budaya, tetapi sekaligus ruang pertumbuhan ekonomi kerakyatan. Kami berharap dengan kehadiran peserta, pengunjung, dan UMKM, perputaran uang di tingkat lokal meningkat signifikan,” tegas Goris di Kupang, Jumat (21/11/2025).
Ia menambahkan bahwa di sejumlah daerah, festival permainan tradisional terbukti meningkatkan pendapatan pelaku usaha kecil sehingga kegiatan budaya harus terus didorong sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Dukungan serupa disampaikan Sekretaris Lurah Bello, Deny Patty, yang menilai bahwa Teras Main Kota Kupang digelar di Bello menjadi momentum strategis bagi pembangunan ekonomi masyarakat.
“Kami mendukung penuh inisiatif KPOTI. Teras Main Kota Kupang yang digelar di Bello sangat bermanfaat karena membuka peluang ekonomi bagi warga sekaligus menjadi sarana membangun karakter generasi muda,” ujar Deny.
Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda rutin untuk menghidupkan sektor ekonomi masyarakat dan menjaga kelestarian budaya.
Sementara itu, Ketua KPOTI NTT, Sandro Wanga, menuturkan bahwa festival budaya harus dipandang sebagai sumber ekonomi potensial bila dikemas secara profesional.
“Teras Main Kota Kupang yang digelar di Bello harus menjadi momentum membangun ekonomi kreatif daerah. Identitas budaya lokal adalah aset ekonomi yang perlu dikelola untuk kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.
Harapan menjadi Model Pengembangan Ekonomi Budaya
Festival permainan tradisional di Bello diharapkan menjadi model pengembangan ekonomi berbasis budaya yang mampu diterapkan di daerah lainnya di NTT.
Menurut Sandro, setiap daerah di NTT memiliki budaya permainan tradisional masing-masing yang unik dan ada yang memiliki kemiripan sehingga perlu mendorong pengaktifan kembali sebagai permainan rakyat yang menghibur dan olah raga.
Setidaknya ada 100 permainan tradisional yang tersebar di 22 kabupaten/kota se NTT, yang potensial dikembangkan dan menjadi daya tarik wisata baik domestik maupun macanegara yang memberi efek berganda.
“Kita perlu menarasikan semua permainan tradisional secara tertulis untuk bisa dipelajari oleh anak sekolah sebagai muatan lokal dan juga untuk diketahui masyarakat umum,” ujarnya. (TIM/RN)







