Kurban dan Persembahan pada Tuhan

oleh -216 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ahmad Rafiuddin

Dalam surah al-Hajj ayat 37, Allah berfirman, “Daging dan darah kurban itu sekali-kali tidak akan sampai pada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.” Ayat ini dengan jelas mengandung perintah agar membagi-bagikan hewan kurban yang disembelih, terutama kepada mereka yang paling membutuhkan. Itulah esensi ketakwaan yang dimaksud, bahwa manusia yang mampu selayaknya berbagi kepada mereka yang tak mampu.

Konsep kurban dalam Islam dan agama Abrahamik justru bertolak-belakang dengan kurban dan tumbal (darah) yang dipersembahkan kepda para dewa. Bukti ketakwaan harus dimanifestasikan dengan mewujudkan cinta-kasih dan berbagi kebahagiaan dengan mereka yang dirundung kemalangan. Untuk itu, kita bisa memahami ketika ketika Gus Dur menyatakan bahwa “Tuhan tak Perlu Dibela”. Dalam konteks kurban, kata-kata Gus Dur tersebut mengindikasikan, bahwa Tuhan tak membutuhkan darah kurban, seakan-akan Dia adalah sosok yang haus darah.

Akhir-akhir ini, kita menyaksikan bersama setelah terbukanya Epstein’s Fail, dengan gambar-gambar bayi yang dipersembahkan kepada Dewa Ba’al. Konon, persembahan itu dilakoni penganutnya untuk meredam kemarahan Dewa Baal. Menurut keyakinan mereka, jika Dewa Baal marah maka akan meminta pengorbanan banyak nyawa bayi, entah karena wabah maupun pandemi. Daripada banyak nyawa bayi yang jadi korban,  lebih baik mereka mengorbankan satu bayi untuk meredam kemarahan sang Dewa.

Kehadiran agama Abrahamik, khususnya dalam Islam, perlakuan kurban yang tidak manusiawi itu sudah dihapuskan, meskipun spirit berkurban itu tetap dipertahankan. Untuk itu, pengorbanan Ismail yang kemudian diganti dengan domba gemuk adalah pola pergeseran atau perubahan format ritual, khususnya mengenai benda yang dikorbankan. Bahkan, konsep “larung” berupa persembahan hasil panen, baik padi, buah-buahan maupun umbi-umbian, yang dilemparkan di bawah laut, tidak dibenarkan dalam ajaran Islam, serta dinilainya sebagai kemubaziran.

Revolusi Ibrahim

Mengapa Nabi Ibrahim sangat dikenal sebagai Bapak Tauhid yang visioner, memandang jauh ke masadepan? Kemudian apa pengaruh kekuatan Tauhid bagi pengembangan diri, serta kemaslahatannya bagi pendidikan anak-anak bangsa kita?

Ketika kita diperintahkan untuk memperkuat iman dan takwa, hal ini sangat identik dengan perintah Allah kepada hamba-hamba-Nya, untuk memperkaya wawasan ilmu tentang ketuhanan, atau yang sering kita sebut “Tauhid” atau “Ma’rifatullah”. Julukan Bapak Tauhid untuk Nabi Ibrahim inilah yang menjadi cikal-bakal perjuangan Rasulullah Muhammad, yang juga memiliki garis keturunan dari Nabi Ismail, putera dari Siti Hajar r.a.

Pengorbanan Ismail yang kemudian diabadikan dalam perayaan “Idul Qurban”, mengindikasikan kewajiban manusia untuk selalu mendekatkan diri (qaruba) kepada Sang Pencipta. Nabi Ibrahim dikenal sebagai manusia agung dan mulia, bukan karena kedudukan, pangkat dan kekuasaannya, tetapi justru karena kedekatan dan keakraban dirinya dengan Allah Swt.

Salah satu manifestasi dari kedekatan dan keakraban Nabi Ibrahim dengan Allah, tercermin dari pengorbanannya yang begitu besar untuk memakmurkan dan menyejahterakan umat manusia.

Kita mengenal dari sejarah, bagaimana sosok Ibrahim yang sangat dermawan dan sangat loyal dalam menyantuni dan menafkahi kaum dluafa dan para masakin di zamannya. Hingga pada suatu hari, beliau pernah bernazar: “Kalaupun suatu hari nanti, saya dikaruniai anak, kemudian Allah memerintahkan untuk mengorbankan anak saya, bagaimana pun saya harus siap melaksanakannya. “

Tak lama kemudian, benar saja, istrinya Siti Hajar mengandung bayi Ismail, hingga kemudian sang anak lahir dan tumbuh remaja. Nabi Ibrahim teringat oleh nazarnya dulu hingga berkali-kali mengalami mimpi untuk menyembelih anak yang sangat dicintainya. Dengan sikap demokratisnya sebagai ayah, dalam surat as-Shaffat ayat 102 Nabi Ibrahim meminta pertimbangan Ismail.

Kita bisa bayangkan, anak yang dinantikan kehadirannya selama bertahun-tahun, seperti nilai harta kekayaan yang tiada terhingga, kemudian setelah tumbuh dewasa tahu-tahu diperintahkan agar segera dikorbankan di hadapan Allah.

Di sini kita bisa memahami, bahwa logika berkurban, sama saja dengan logika perjuangan atau keberanian untuk melepas dan mengikhlaskan apa pun yang paling kita cintai dalam hidup ini, untuk dipersembahkan bagi kemajuan agama Allah, baik melalui lembaga pendidikan, pesantren, yayasan anak yatim piatu, atau bantuan untuk korban anak-anak Gaza dan seterusnya.

Loyalitas Ibrahim

Jiwa pengorbanan Nabi Ibrahim dengan mudah ditransfer oleh kecerdasan anaknya, hingga Ismail pun menyadari akan tingginya kualitas ketakwaan dan spiritualitas pada diri ayahnya. Inilah contoh dari tipikal anak yang peka dan saleh. Anak yang patuh dan taat pada kehendak orang tuanya. Karena itu, warisan pendidikan Tauhid dan pengorbanan Nabi Ibrahim itulah yang kemudian melahirkan cikal-bakal generasi yang kuat dan tangguh. Menumbuhkan watak dan karakter yang mandiri dan Ikhlas. Menumbuhkan jiwa-jiwa kepemimpinan dan leadership, sampai kemudian, dari keturunan Nabi Ismail kelak akan lahir manusia terbaik dan termulia sepanjang sejarah, yakni Rasulullah Muhammad Saw.

Jadi pada prinsipnya, pengorbanan Nabi Ismail, yang kemudian diganti oleh Allah dengan seekor domba gemuk yang dikirim dari surga, harus diartikan dalam konteks pengorbanan, atau berani mengorbankan apa pun yang kita miliki di dunia ini. Bahkan, sesuatu yang paling kita cintai sekali pun, demi untuk berjalannya agama Allah, atau agar frekuensi kita selaras dengan kehendak Allah.

Pada hakikatnya, kita hidup ke dunia ini tidak membawa apa-apa, dan ketika kita pulang pun dipastikan tidak membawa apa-apa. Karena itu, tidak ada tempat kembali yang baik, kecuali hanya kembali kepada Allah. Setelah apa yang kita rencanakan, apa yang kita khawatirkan, bahkan apa yang kita perjuangkan mati-matian, pada akhirnya kita harus berani berserah diri dan berkorban untuk Allah. Itulah satu-satunya jalan yang menguatkan hati dan pendirian kita semua.

Mendapatkan ketenangan batin dengan berserah diri pada Allah, adalah anugerah terbaik dalam hidup ini. Sebab, kita sudah merasa yakin bahwa Allah-lah pemilik dan pengatur rencana yang terbaik, dan tidak ada jalan lain bagi ketenangan dan kedamaian hati kita, kecuali kita sanggup berkorban dan berserah diri kepada Yang Maha Mengatur dan Merawat kehidupan kita.

Berserah diri kepada Allah, bukan berarti kita berhenti berharap. Tetapi justru kita lebih banyak berharap, namun bukan untuk kepentingan duniawi, tetapi berharap pada kasih sayang Allah, kepada ampunan-Nya, juga kepada janji-janji Allah yang tidak pernah ingkar sedikit pun. Jadi, apa pun yang berani kita korbankan, pasti akan diberikan balasannya, serta dilipatgandakan pahala yang terbaik dari Allah.

Kini, di akhir zaman ini, sedang terjadi gelombang kesadaran manusia di mana-mana. Mereka mengalami frekuensi yang sama, sedang berlomba-lomba untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi, bahwa apa yang terbaik menurut kita, belum tentu menjadi yang terbaik bagi Allah. Tetapi sebaliknya, apa yang terbaik bagi Allah, sudah pasti akan menjadi yang terbaik bagi keselamatan hidup kita, baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang dilimpahkan rahmat dan maghfirah-Nya, serta mendapat syafaat yang terbaik dari baginda Rasulullah Saw. (*)

Penulis adalah Pengasuh Ponpes Tebuireng 09, Rangkasbitung, Banten, penulis buku Marwah Pesantren (2024), juga pengulis opini untuk media lokal dan nasional

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.