Oleh: Hafis Azhari
Film The Brutalist yang meraih Oscar sebagai film drama terbaik (2025), sangat dikagumi oleh penguasa Amerika-Israel, terutama Presiden Donald Trump dan Netanyahu. Pasalnya, film tersebut berkisah tentang kesuksesan seorang warga Yahudi kelahiran Hungaria, yang berhijrah menuju Amerika Serikat, kemudian bekerja serabutan sebagai kuli dan tukang bangunan. Meski kemudian, kecerdasan warga Yahudi itu diakui oleh para pengusaha dan milyarder di Kota New York. Setelah sang tokoh (Laszlo Toth) terbebas dari ancaman Holocaust oleh militerisme NAZI, ia berjuang untuk menggapai impian Amerika, hingga kemudian berjumpa dengan seorang klien yang kaya-raya, yang akhirnya mengakui kejeniusan Laszlo sebagai warga keturunan Yahudi.
Tentu saja film tersebut menggambarkan jejak langkah kehidupan bangsa Israel dari sisi positif. Namun, tak tersentuh sedikit pun bahwa timbunan kekayaan yang diperoleh bangsa Israel (khususnya di Amerika) adalah hasil dari akumulasi riba, kapitalisme, penumpukan kekayaan dari penjarahan imperialisme dan neo-kolonialisme selama berabad-abad. Dan puncaknya adalah ego dan keangkuhan intelektual, yang merasa dirinya sebagai “bangsa terpilih” kemudian merasa berhak menganggap bangsa lain sebagai marjinal dan kaum inlander yang tak layak menempati permukaan bumi ini.
Buku “Homo Sapiens” karya warga Israel, Yuval Noah Harari juga telah membius jutaan pembaca dan intelektual dunia, yang menganggap manusia punya hak sebagai makhluk pemburu dan pengumpul. Adapun mereka yang tak mau berbaris ke dalam “barisan modernitas” dipersilakan untuk hengkang dan menyingkir dari muka bumi ini. Dalam pengertian yang ekstrem, kita bisa memahami ketika legitimasi kekuasaan berada di tangan bangsa Israel, mereka akan seenaknya berbuat semena-mena terhadap warga pribumi Palestina, bahkan secara sembrono meludahi patung Bunda Maria, bahkan menghancurkan bangunan-bangunan situs Kristiani di tempat peribadatan yang bersejarah.
Banyak motivator Indonesia di media sosial yang diilhami dari buku “Homo Sapiens” agar berjuang keras dalam kehidupan dunia ini, kalau perlu menjadi brutal sekalipun. Mereka seringkali meneriakkan prinsip bahwa “hasil tidak akan mengkhianati proses”. Tapi masalahnya, jika Anda manusia beriman, Anda tetap harus berpegang pada kualitas ketakwaan, bahwa sehebat apa pun proses yang Anda lakukan, jika Allah belum menghendaki, Anda harus berjiwa besar dan legawa untuk berputar haluan. Sebab, prinsip hidup dalam Islam sangat jelas, bahwa sesuatu yang terbaik menurut kita, belum tentu menjadi baik dalam pandangan Allah.
Kufur Nikmat
Sikap yang arogan dan angkuh, ketika legitimasi kekuasaan berada di tangan bangsa Israel, bertolak-belakang dengan ajaran Islam yang diteladani Rasulullah, khususnya dalam peristiwa Fathu Makkah. Ketika Khalid bin Walid memimpin pasukan umat Islam, Rasulullah memberi ultimatum agar jangan sampai terjadi pertumpahan darah, baik di kubu muslimin maupun kafir Qurays. Ketika memasuki bangunan kubus (Ka’bah) justru relief dan ukiran gambar Bunda Maria yang menggendong Nabi Isa, dibiarkan tampak di dinding, dan tak boleh dihapus sama sekali.
Ini mencerminkan sikap yang arif dan toleran terhadap pandangan yang berbeda, meskipun legitimasi kekuasaan sudah sepenuhnya berada di tangan pengikut Rasulullah (muslim). Cermin keteladanan ini meretas ke dalam psikologi umat Islam, agar ketika nikmat kemenangan berada di tangan suatu komunitas, jangan sampai manusia terjerumus ke dalam kubang kesombongan yang identik dengan sikap “kufur nikmat”.
Beda dengan karakteristik bangsa Israel yang cenderung pongah dan jumawa, dengan demikian berbahaya jika legitimasi kekuasaan berada di tangan orang-orang semacam itu. Hal tersebut tercermin jelas dalam surat Yunus ayat 24: “Perumpamaan kehidupan duniawi itu hanya seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanam-tanaman bumi dengan subur (karena air itu), di antaranya ada yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, kemudian berhias, lalu pemiliknya mengira bahwa mereka pasti akan menguasai sepenuhnya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam dan siang, lalu Kami jadikan tanaman itu hancur seperti diserabut, seakan sama sekali tak pernah tumbuh. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada kaum yang berpikir.”
Dalam film “The Brutalist” yang memenangkan Academy Award di kalangan sineas dan seniman Hollywood (Amerika) sendiri, tampak jelas sikap-sikap kufur nikmat dari tipikal manusia yang menganggap remeh, bahkan mengingkari nikmat Allah Swt. Mereka justru memanfaatkan nikmat dan anugerah itu demi untuk foya-foya dan kemaksiatan. Ayat di atas secara jelas menggambarkan siklus perubahan sikap, khususnya yang dialami warga Israel (Yahudi), tak terkecuali yang mengalami eksodus dari Mesir, lalu berhijrah menuju Yerusalem.
Jika dicermati dari ayat 21 hingga 25 (surat Yunus), secara jelas menyiratkan karakteristik Homo Sapiens (manusia modern) yang dibangga-banggakan bangsa Israel. Ketika manusia dilanda musibah dan malapetaka, mereka berteriak minta tolong dan memohon ampun pada Tuhan. Namun, setelah mereka diselamatkan dan terbebas dari musibah tersebut, mereka lupa diri dan tak mau berpikir dalam koridor, bahwa keselamatan itu karena pertolongan Tuhan yang telah membebaskannya di kala mereka berseru meminta tolong. Tetapi lagi-lagi, mereka justru berbuat kerusakan di muka bumi, mengorbankan ras dan bangsa lain, dan sama sekali tak mau bersyukur kepada Yang Menganugerahi nikmat tersebut.
Terkait dengan ini, para ulama sufi menegaskan, bahwa seringkali manusia yang lalai, akan terbebas dan terselamatkan dengan sifat “sabar” manakala musibah dan malapetaka menimpa dirinya. Tetapi, justru jarang yang berhasil untuk mensyukuri nikmat Allah, manakala keselamatan dan kebahagiaan hidup diberikan kepada mereka.
Runtuhnya Hedonisme
Gerakan hedonisme tercermin jelas dalam miniatur pulau surgawi yang didesain oleh Jeffrey Epstein dan kawan-kawan. Pulau impian itu didedikasikan untuk kaum hedonis dari kalangan pengusaha, seniman dan selebriti, hingga pengusaha dan politisi Amerika-Israel yang terhimpun ke dalam elit-elit global. Mereka mendambakan pulau impian sebagai “tandingan” dari kebenaran ayat-ayat Tuhan (khususnya Al-Quran). Mereka memanfaatkan rizki dan nikmat Tuhan demi untuk membangun kemegahan duniawi, seakan tak ingin menyia-nyiakan hidup yang hanya sekali ini. Setelah itu, mereka hanya percaya, akan menjadi tulang-belulang.
Mereka seakan menantang Tuhan, bahwa dengan teknologi robot dan Artificial Intelligence (AI), mereka mampu menghidupkan dan mematikan makhluk ciptaannya. Mereka bahkan merancang bayi-bayi tabung dan manusia buatan sebagai Frankenstein, melalui kecanggihan bioteknologi, serta menidurkan manusia agar dapat hidup selama ratusan tahun, seperti yang dialami para penghuni gua yang dikisahkan dalam Al-Kitab (ashabul kahfi).
Tokoh Laszlo Toth yang tergambar dalam film “The Brutalist”, di masa tuanya seakan bicara lantang bahkan menantang Tuhan, bahwa para keturunan Yahudi berhak untuk berhijrah ke negeri yang dijanjikan (Yerusalem), karena mereka belum tersembuhkan dari luka-luka masa lalu (Holocaust), bahkan juga tak pernah minta lahir di muka bumi ini. Mereka seakan ingin hidup dengan “merdeka” dan merasa punya hak untuk memperoleh kesenangan di usia senja.
Hanya masalahnya… dari mana sumber-sumber kekayaan dan kemegahan yang mereka himpun, kalau bukan hasil ekploitasi manusia dan penghisapan berabad-abad, dari kaum penjajah yang mengorbankan jutaan masyarakat terjajah?
Lalu, buku yang ditulis sejarawan Yuval Noah Harari (Homo Sapiens) menggugat: salah sendiri mereka tak mau berbaris bersama kami, menjadi manusia-manusia modern yang giat mengembara dan berburu pundi-pundi, sampai kemudian kami berhak untuk menumpuk dan menimbun kekayaan sebanyak apa pun?
Dengan pernyataan tersebut, tampaknya hanya ajaran Islam yang sanggup bicara lugas, serta menuntut keadilan atas kesewenangan mereka. Diwakili oleh peran aktif bangsa Iran (Persia) yang berani bicara lantang, bahwa kekayaan yang ditimbun dari hasil riba, baik riba materi maupun riba moril, eksploitasi manusia atas manusia lain, harus dikembalikan kepada mereka yang berhak memperolehnya. Sebab, dalam konsep Islam jelas-jelas dinyatakan: “Sesuatu yang menjadi takdir atas hak-hak kita, ia akan menemukan jalannya untuk kembali kepada kita. Sebaliknya, sesuatu yang kita raih, yang sebenarnya bukan hak milik kita, ia akan menemukan caranya untuk menghilang dari diri kita.”
Pernyataan itu bukan hanya rizki dalam pengertian materi yang kasatmata, melainkan juga keberkahan hidup. Untuk apa menimbun harta kekayaan yang sebetulnya bukanlah hak kita, yang dampaknya pasti akan menimbulkan ketegangan dan ketakutan dalam keseharian kita. Disadari atau tidak, ia pasti akan merenggut ketenangan batin dalam hidup kita.
Sebab, sudah dipastikan (dalam Yunus 24) di atas, bahwa di kala mereka sedang bersenang-senang dengan kemegahannya, Tuhan mempunyai banyak cara untuk merenggut kembali harta kekayaan yang telah mereka himpun. Entah melalui kejadian alam, atau dengan mendatangkan kekuatan orang-orang beriman (Iran dan pendukungnya) yang akan “memaksa” mereka agar jangan berlaku sewenang-wenang di muka bumi ini. (*)
Penulis adalah Peneliti historical memory, juga penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten








