Oleh: Agustinus Saka Tmaneak
Arus globalisasi saat ini tidak lagi sekadar masuknya budaya asing, melainkan didorong oleh digitalisasi masif melalui Artificial Intelligence (AI) dan teknologi 5G yang merombak struktur batin manusia Indonesia dari akarnya. Di Nusa Tenggara Timur (NTT), transformasi ini memicu pergeseran pola pikir dari tradisi menuju rasionalitas digital yang berdampak pada desakralisasi ritual adat. Fenomena ini sangat mendesak karena nilai-nilai luhur yang telah diwariskan para leluhur kini mulai kehilangan makna mendalamnya akibat penetrasi teknologi yang mengubah cara masyarakat memaknai tradisi mereka sendiri.
Abad ke-21 ini merupakan perkembangan zaman sekarang atau yang sering kita kenal dengan abad atau zaman Kontemporer. Abad ini juga merupakan awal dari perang dunia II itu terjadi. Abad ini adalah zaman transisi besar. Kebudayaan yang ada di Indonesia sekarang ini sedang berpindah dari dunia yang bersifat fisik dan lokal (seperti budaya agraris dan maritim yang dibahas di atas) menuju dunia yang bersifat global. Banyak filsuf yang lahir pada zaman ini dan ada banyak karya yang mereka ciptakan.
Kecerdasan buatan atau AI sekarang ini bukan hanya dipandang sebagai alat teknis, melainkan sebuah sistem atau katalisator yang sementara ini mengubah wajah budaya lokal secara mendasar. Dampak dari AI ini menciptakan ketegangan sekaligus kolaborasi antara tradisi yang bersifat komunal dan fisik dengan teknologi yang bersifat globalisasi dan digitalisasi.
Kehadiran AI ini membawa banyak manusia untuk lebih fokus dengan individualism dari pada komunal. Hal yang sering diungkapkan di zaman sekarang ini adalah “Mendekatkan yang jauh; menjauhkan yang dekat”. Fenomena yang sekarang ini muncul juga istilah Roblok yang artinya “Keuskupan Game”. Orang yang tidak saling kenal juga ada dalam group tersebut. Dan kebanyakan orang itu tidak peduli dengan orang-orang yang disekitarnya melainkan hanya dengan orang yang berada di jauh.
Salah satu dampak yang paling nyata di NTT adalah pergeseran makna tempat-tempat suci menjadi sekadar lokasi rekreasi, seperti yang terjadi pada Gunung Oepuah di Kabupaten TTU. Dahulu, lokasi tersebut dianggap sakral dan hanya boleh dikunjungi untuk ritual adat tertentu, namun kini arus modernitas membawanya menjadi objek wisata publik. Gunung Oepuah yang dulu dikenal dengan tempat sakral atau suci sekarang mengalami pergeseran makna menjadi tempat rekreasi. Gunung Oepuah ini letaknya di Kabupaten TTU desa Tamkesi, ada sebuah gunumg batu “Gunung Oepuah”. Sekarang ini sudah mengalami pergeseran makna, yaitu banyak pengunjung yang berkunjung.
Ketidakmampuan masyarakat dalam membedakan nilai yang baik dan buruk dalam menyerap budaya luar mengakibatkan hilangnya rasa hormat terhadap hal-hal yang bersifat pemali atau suci, yang terkadang berujung pada peristiwa-peristiwa yang tidak diinginkan seperti fenomena kerasukan. Ada banyak sekali kejadian yang terjadi pada orang yang biasanya berkunjung. Contoh yang paling konkret adalah ketika berjalan dalam area daerah tersebut, manusia tidak boleh terantuk, mengeluarkan kata-kata kotor, menjatuhkan barang dan masih ada larangan lain.
Jika seseorang mengalami salah satu kesalahan di atas, maka harus segera melaporkan kepada penjaga kawasan tersebut atau kepada raja supaya diberkati dengan diperciki air. Tahun 2017 sebuah fenomena terjadi, yaitu seorang yang berasal dari luar daerah tersebut pergi berkunjung, iya terantuk dan iya hanya diam saja. Sudah sampai dirumahnya barulah ia menceritakan hal tersebut. Dan pada saat itu juga keluarga ingin membawanya kembali untuk diberkati, namun baru dalam pertengahan perjalanan orang tersebut sudah meninggal. Memang sekarang sudah menjadi tempat rekreasi, namun para pengunjung harus memperhatikan tata cara dan tata tertib ketika berada di atas Gunung Oepuah maupun dalam kawasan Gunung Oepuah.
Deklarasi ritual yang menjadi fenomena terhadap pergeseran pola piker. Fenomena ini sering didorang oleh modernitas dan rational, di mana makna dari budaya lokal yang telah ditetapkan oleh para leluhur itu kehilang makna mendalamnya. Proses hilangnya nilai suci atau hal yang sacral itu sudah menjadi suatu cara yang popular di zaman sekarng terkhusus bagi para generasi penerus bangsa. Selain desakralisasi, NTT juga menghadapi ancaman serius berupa erosi nilai gotong royong dan memudarnya bahasa daerah. Budaya kolektivisme yang menjadi ciri khas masyarakat agraris dan maritim kini mulai tergeser oleh individualisme dan egoisme yang dipicu oleh ketergantungan pada gawai dan media sosial.
Di Kota Kupang, banyak generasi muda hingga lansia mulai kehilangan penguasaan terhadap bahasa asli mereka, lebih memilih menggunakan “bahasa gaul” digital yang dianggap lebih berkelas. Penggunaan alat mekanis dalam pertanian juga mulai menggantikan semangat kerja sama fisik yang dahulu menjadi perekat sosial masyarakat. Zaman sekarang ini, banyak sekali budaya asing yang diterapkan. Seperti pada saat panen padi, sekarng ini alat yang bekerja, sehingga budaya gotong royang itu tidak lagi diterapkan dan sudah mengalami pergeseran makna dan bahkan kedepannya pasti budaya gotong royong itu hilang karena alat yang menguasai manusia.
Kehadiran AI dan platform global turut menciptakan polarisasi budaya serta kesenjangan antargenerasi yang cukup tajam. Generasi muda seringkali merasa malu untuk menunjukkan jati diri budaya lokalnya karena dianggap ketinggalan zaman dibandingkan dengan konten asing yang tampak lebih modern. Fenomena “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat” menjadi realitas pahit di mana individu lebih peduli pada interaksi di dunia maya, seperti dalam komunitas game, daripada memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Jika tidak segera diatasi, jurang identitas ini akan membuat nilai-nilai lokal NTT semakin asing di tanahnya sendiri.
Zaman sekarang ini, banyak sekali budaya asing yang diterapkan. Kehadiran dunia digitalisasi membawa dampak yang baik, namun manusia saja yang terpengaruh dan hanya menginginkan budaya asing tanpa memeikirkan budaya asli atau sendiri. Seperti pada saat panen padi, sekarng ini alat yang bekerja, sehingga budaya gotong royang itu tidak lagi diterapkan dan sudah mengalami pergeseran makna dan bahkan kedepannya pasti budaya gotong royong itu hilang karena alat yang menguasai manusia. Zaman sekarang ini, banyak sekali budaya asing yang diterapkan. Seperti pada saat panen padi, sekarng ini alat yang bekerja, sehingga budaya gotong royang itu tidak lagi diterapkan dan sudah mengalami pergeseran makna dan bahkan kedepannya pasti budaya gotong royong itu hilang karena alat yang menguasai manusia.
Menghadapi tantangan ini, Pancasila harus ditegakkan kembali sebagai elan vital atau penyaring utama terhadap setiap budaya asing yang masuk. Sebagaimana gagang pintu yang memungkinkan seseorang masuk ke dalam rumah, Pancasila adalah alat untuk menyeleksi mana pengaruh luar yang dapat memperkaya dan mana yang dapat merusak tatanan bangsa. Selain itu, kolaborasi antara adat dan iman melalui peran Gereja di NTT sangat krusial, khususnya melalui pendekatan inkulturasi yang memadukan budaya lokal dengan nilai-nilai universal tanpa menghilangkan eksistensi aslinya.
Penggunaan bahasa ibu dalam liturgi Gereja merupakan contoh konkret upaya mempertahankan tradisi agar tetap relevan di zaman modern. Sebagai solusi jangka panjang, kebudayaan lokal NTT tidak boleh dipandang sebagai barang antik yang kaku, melainkan harus diadaptasi secara kreatif melalui digitalisasi budaya. Generasi muda memegang peran kunci untuk berkolaborasi dan membangun kembali semangat bonum commune atau kesejahteraan bersama melalui kegiatan-kegiatan yang menarik minat mereka. Dengan memanfaatkan teknologi sebagai alat pelestarian bukan penghancur budaya asli dapat dipoles menjadi lebih spesifik dan relevan untuk menghadapi tantangan zaman tanpa harus kehilangan identitas lokal yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan. Masyarakat harus berusaha untuk mengkolaborasikan antara budaya asing dan budaya lokal. Sistem akulturasi itu harus diterapkan di tenganh kehidupan masyarakat yang dipengaruhi oleh arus globalisasi saat ini.
Dalam hal akulturasi seni pertunjukan, yaitu menggabungkan ke dua budaya tersebut tanpa menghilangkan eksistensinya masing-masing. Inti dari adaptasi ini adalah bahwa budaya lokal itu tidak boleh dipandang sebagai masa lalu yang terlihat kaku, melainkan suatu budaya kreatif yang bisa dimodifikasi sesuai dengan perkembangan arus globalisasi. Negara Indonesia tidak lagi melihat budaya sebagai barang antik yang hanya disimpan di tempat yang tersembunyi, melainkan budaya ini dianggap atau dilihat sebagai perangkat lunak yang bisa terus dimidifikasi, di update oleh semua orang yang ingin menggali informasi tentang budaya tersebut.
Digitalisasi hanya memastikan bahwa, dalam perkembangan zaman sekarang ini, meski banyak budaya yang bergeser, ada cara tertentu yang masih diciptakan oleh beberapa orang atau kelompok yang membawa harapan bagi identitas bangsa Indonesia. Negara Indonesia tidak lagi melihat budaya sebagai barang antik yang hanya disimpan di tempat yang tersembunyi, melainkan budaya ini dianggap atau dilihat sebagai perangkat lunak yang bisa terus dimodifikasi, di update oleh semua orang yang ingin menggali informasi tentang budaya tersebut.
Bentrokan antara tradisi lama yang dianggap sinkretis dengan berbagai bentuk ajaran modern. Pergeseran kebudayaan sering kali membawa nilai-nilai yang bertentangan dengan jati diri bangsa seperti yang tadi disebutkan di atas yaitu konsumerisme. Untuk mengatasi pergeseran kebudayaan di Indonesia, keduanya harus berjalan sejajar. Adat berperan untuk memberikan pijakan etika komunitas dan ras memiliki.
Sedangkan, Injil berperan memberikan landasan moral universitas dan hal yang kritis terhadap praktik yang dapat merusak kemanusiaan. Keduanya harus berkolaborasi atau bekerja sama untuk menyaring setiap budaya luar yang ingin masuk ke budaya Indonesia. Contoh yang paling konkret dalam kehidupan masyarakat zaman sekarang ini adalah gotong royong yang sudah mulai berkurang itu harus ditegakkan dan mulai menjalakannya demi menjaga satu kesatuan Bangsa dan Negara Indonesia.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang









