Oleh: Gregorius Nggadung,
Sebagai sebuah desa yang usianya tak dapat dihitung lagi, saya membayangkan, bak pembatas halaman yang sangat berarti bagi pembacanya, Mbengan begitu elok untuk dilukiskan, apalagi sesekali tidur di atas punggung kata-katamu. Mbengan begitu identik dengan kata embeng (sebuah kata kerja) yang dapat diartikan sebagai tindakan mengarahkan musuh/sasaran ke sebuah jebakan. Apakah itu tertulis di balai desa dan ruang tunggu kantor desa? Tak ada tulisan sejarah di dinding-dinding itu.
Ketika Anda berada pada kolom pencarian google, lalu mengetik “Desa Mbengan”, maka Anda sekiranya berhadapan langsung dengan sebuah ringkasan yang bersumber dari Wikipedia, berbunyi “Mbengan adalah sebuah desa yang berada di Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Sekiranya, dalam pencarian maya itu, ada beberapa media yang secara nyata meneropong dan membaca Desa Mbengan dengan begitu sumringah dan memikat hati. Ada yang menulis Desa Wisata Mbengan (Baca ntt.jadesa.com), Mengenal Desa Mbengan di NTT yang Ditetapkan sebagai Desa Wisata (Baca Kompas.com), dan beberapa tulisan lain yang menjadi penuntun ketika Anda membaca desa ini.
Namun, apabila Anda menghapus “Desa Mbengan” dari kolom pencarian, lalu menulis ulang dengan ciri lain, contoh “Opini Desa Mbengan”, maka Anda akan tahu lebih dalam tentang desa ini. Begitu sederhana membaca Desa Mbengan dalam dunia maya ini.
Budaya Lokal
Mungkin, saya terlalu asik dan serius menulis budaya dan kebudayaan di desa ini, seperti “Bahasa Rajong, Meneropong Warisan Linguistik di NTT” (Baca Pos Kupang.com), “Pentingnya Kajian Linguistik di Nusa Tenggara Timur” (Baca Pos Kupang.com), “Metaforik Berita dalam Gelas Kopi: Tradisi Membaca Tanda di Nunur” (Baca banera.id),
“Membaca Desa Mbengan sebagai Desa Wisata: Air Bernyanyi dan Budaya Menari” (Baca banera.id), dan “Menilik Ngeruknge, Ketika Alam Berbisik pada Butiran Hujan” (Baca banera.id). Sampai-sampai, Anda tidak pernah menilik tinta hitam dan enggan menyinggahi dapur romantika budaya, tetapi tergiur dengan porsi narasi politik yang kian membentuk dan selalu terbentur. Hal itu terlihat dalam eksisnya ungkapan wae teku tedeng ‘saling membutuhkan’, tetapi patah, ketika harus bertaut dalam kebisingan politik. Itu bukan sebuah prestasi, tetapi kegagalan. Walaupun Anda mengatakan bekas tinta hitam ini receh dan renyah, tetapi saya menulis dengan begitu kuat, sehingga identitas Mbengan tetap tumbuh di antara pensil dan kertas putih itu.
Bagian lain, saya teringat pada sebuah larik dalam nyanyian budaya lokal di Desa Mbengan. Beor lando bakok dan teti taji wa’i. Secara gramatikal, berarti bolehlah Anda bersaksi, berkekspresi, dan menikmati dengan ketulusan. Sesekali, Anda harus berjalan tanpa rasa takut, sambil menopang identitas, dan menjaga kehormatanmu. Namun, ketika harus berhadapan dengan iklim politik, maka ekosistem budaya itu pun termarginalkan.
Beberapa Potret Budaya di Mbengan
Saya begitu tertaik dan harus mengatakan dengan jujur, bahwa Desa Mbengan menjadi salah satu desa peradaban kebudayaan yang masih terjaga sampai saat ini. Mengingat, tokoh masyarakat dan masayarakatnya, tokoh budaya dan kebudayaanya, tokoh pendidik dan peserta didiknya, sama-sama mengangkat kebudayaan yang ada di Desa Mbengan. Jujur, anak-anak kelas rendah sudah mulai menenal dan mengejawantahkan kebudayannya melaui mimbar pementasan dan ruang akadmik di sekolah.
Anda pernah mengenal tarian wa’i doka’? ‘egrang’dan tarian umbi ro’? ‘tarik tali’ serta beberapa tarian khas lain. Inilah yang menjadi dasar kekuatan budaya di desa ini. Pertanyaan, apakah itu masih ada? Apakah pemaknaanya sudah diteapkan dalam kehidupan sehari-hari?
Sejauh ini, kebudayaan (khusus tarian-tarian) itu layaknya menunggu musim. Jika kita boleh berharap, pemerintah desa bisa mengadakan Pekan Budaya yang harus dijadwalkan dalam kalender lima atau sembilan tahunan. Toh, kita sudah dinobatkan sebagai “Desa Wisata”. Apakah hanya fokus pada wisata alam? Secara sadar, kita lebih cocok menjadi “Desa Wisata Budaya”.
Jika dilihat dalam labolatorium prestasi, Mbengan sudah menciptakan banyak keunggulan, baik yang dipersembahkan oleh SDI Nunur maupun SMAN 2 Kota Komba di Mok. Pertanyaan lanjutan, apakah itu terekam dalam catatan tahunan yang dapat dibaca oleh masyarakat desa? Apakah hanya cukup tahu?
Hemat saya, pemerintah desa seharusnya menjadikan ini sebagai poros pembangunan. Buatkan semacam ruang labolatorium budaya yang berisikan sejarah desa, diari kepala desa dari tahun ke tahun, dan manuskrip, serta kalender prestasi desa.
Toh, kita kerja untuk membangun desa, sehingga wajar mengangkat keunikan-keunikan di desa sebagai wadah promosi dalam mendukung visi desa wisata tersebut. Paling penting, Pemerintah Desa Mbengan menjadi kunci utama dalam meneropong warisan budaya yang ada di Desa Mbengan. Sehingga aspek pemanfaatan dan pengembangan dapat dilakukan dengan baik dan tertata.
Penulis adalah Pembina Komunitas Literasi Sodalitas Sui







