Kotbah Misa Ziarah Tahunan Keuskupan Maumere

oleh -455 Dilihat
banner 468x60

Kotbah ini dibawakan saat Perayaan Misa Ziarah Tahunan Keuskupan Maumere yang selalu dibuat pada 13 Oktober setiap tahun. Perayaan tahun ini bertepatan dengan Perayaan Tahun Yubileum 2025 yang mengusung tema umum: Peziarah Harapan, maka tema perayaan misa ziarah ini adalah: Bersama Bunda Maria Berziarah Menuju Sumber Pengharapan.

Inspirasi kotbah ini diambil dari bacaan I : Roma 12:9-16 dan Injil : Lukas 1:39-56.

Ubur-ubur ikan Lele,
Hai umat Keuskupan Maumere,
Mari berziarah bersama Maria, Ine Du’a Ngga’e.

Ubur-ubur ikan Lele,
Mai sai kita lei sawe,
Lele Ngga’e pera pawe.

Ubur-ubur ikan Lele,
Sawe-sawe potat dese,
Poi Amapu gera hude.

Bapak Uskup yang terkasih,
Para Imam, Biarawan/wati,
Umat beriman,
Para putra dan putri Bunda Maria yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus…

Sawe-sawe potat dese, poi Amapu gera hude. Kata-kata ini, saya terjemahkan: semuanya akan hilang lenyap, hanya Tuhan yang tinggal tetap. Ini adalah kata-kata yang bisa kita baca di depan pintu gereja tua Paroki Sikka.
Kalau yang belum pernah lihat gereja tua Sikka yang menjadi salah satu ikon pariwisata rohani Kabu[aten ini, silahkan setelah acara ini bisa berkunjung ke sana. Pastor paroki di sana, bersama tim-nya akan memberi penjelasan yang bagus tentang sejarah gereja itu.

Sawe-sawe potot dese, poi Amapu gera hude, sungguh sangat menginspirasi. Kata-kata ini seakan mengingatkan kita bahwa kehidupan yang sedang kita jalani ini pada waktunya akan berakhir. Hilang, lenyap. Tapi Tuhan yang memiliki keabadian akan tetap tinggal, diam dan hidup sampai kekal. Maka pertayaannya, mengapa kamu mencari yang sementara, sedangkan yang kekal kini hadir di sini. Di tengah hidup ini? Di mana Dia? Dia hadir pada wajah sesama yang lemah, miskin dan menderita. Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudaramu yang paling hina ini, itu kamu lakukan untuk Aku. (Mat. 25:40) Sawe-sawe potat dese, poi Amapu gera hude.

Rabu 9 Oktober 2025, Paus Leo XIV secara resmi telah menerbitkan Seruan Apostolik-nya yang pertama dengan nama Dilexit te, yang berarti “Aku telah mengasihi engkau” Dokumen ini ditandatangani beberapa hari sebelumnya – pada Sabtu 4 Oktober 2025, ketika Gereja merayakan Peringatan Wajib, Pesta St. Fransiskus dari Asisi.

Tentu bukan kebetulan kalau Paus Leo XIV memaknai perayaan wajib santo yang terkenal miskin, meskipun berasal dari turunan bangsawan di Asisi, Italia – yang menyebut bumi sebagai ibu, matahari sebagai saudara dan bulan sebagai saudari itu – dengan meresmikan dokumen-nya yang terbaru. Ini menandakan arah pastoral gereja di bawah kepemimpinan Paus asal Chicago, Amerika itu yakni: Gereja yang rendah hati, dekat dengan rakyat, dan berpihak pada mereka yang paling membutuhkan.
Komunitas Gereja model ini terungkap melalui suara profetis, suaranya sebagai nabi, menyeruhkan kebenaran, bersuara atas ketidakadilan yang terjadi. Gereja menjadi figur voice of the voiceless. Suara dari mereka yang tak mampu bersuara.

Seruan apostolik Dilexi te, aku telah mengasihi mu, diambil dari teks Wahyu 3:9. Dalam nomor pertama Dokumen ini, Paus Leo XIV menulis, “Aku telah mengasihi kamu (Why 3:9). Tuhan mengucapkan kata-kata ini kepada suatu komunitas Kristiani yang, berbeda dengan yang lain, tidak memiliki pengaruh atau sumber daya, dan malah diperlakukan dengan kekerasan serta penghinaan: Engkau memang tidak mempunyai banyak kekuatan, tetapi Aku telah mengasihi engkau…Aku akan membuat mereka datang dan sujud di depan kakimu. (Why 3:8-9).”

Teks ini mengingatkan kita pada nyanyian pujian Maria yang kita dengar dari bacaan Injil tadi.

Dokumen Dilexi te, mengisyaratkan pesan sentral mengenai cinta kasih ilahi dan solidaritas terhadap mereka yang lemah dan menderita.

Paus Leo XIV menulis, “Saya pun mengganggap penting untuk menegaskan jalan kekudusan ini, sebab dalam panggilan untuk mengenali Tuhan di dalam diri orang miskin dan menderita, tersingkaplah hati Kirstus yang mendalam – perasaan dan pilihan Kristus – yang ingin diteladani oleh setiap orang kudus.” (Dilexi te, No.3) Pada bagian lain Paus Leo XIV menulis, “Kasih kepada Tuhan tak terpisahkan dari kasih kepada orang miskin. …”Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk-Ku. (Mat.25:40) Lebih lanjut Paus menulis, “Ini bukan sekedar kebaikan manusiawi, melainkan suatu wahyu: perjumpaan dengan mereka yang hina dan tak berdaya merupakan cara mendasar untuk berjumpa dengan Tuhan. Dalam diri orang miskin Tuhan terus berbicara kepada kita (Dilexi te, No.5)

Paus Fransiskus, ketika menjelaskan alasan pemilihan nama kepausannya, berceritera bahwa setelah terpilih, seorang kardinal, sahabatnya, memeluk dan mencium dia sambil berkata, “Jangan lupa orang miskin.”
Seruan apostolik pertama dari Paus Leo XIV ini, yang memberi perhatian istimewa bagi kaum miskin itu seakan mengingatkan kembali kita semua tentang situasi yang sedang dihadapi dunia saat ini yakni: ada banyak orang yang tak seberuntung kita, ada banyak yang sedang menderita akibat dari:
Krisis ekonomi dan krisis kepemimpinan yang sedang melanda di berbagai negara di dunia. Terutama krisis kepercayaan kepada para penyelenggara public. Dunia sedang sakit.
Ada berbagai praktek penyalagunaan kekuasaan demi keuntungan pribadi sedang dipertontonkan kepada kita secara telanjang.
Peperangan. Konflik antar negara yang tak kunjung henti.

Human trafficking – perdagangan manusia dengan segala dampaknya. Pergi sehat, sendiri, pulang dalam peti mati.
Mandeknya pertumbuhan ekonomi dan macetnya peredaran uang di tengah masyarakat.

Tanpa takut dan malu mengambil hak orang lain.

Angka pertumbuhan ekonomi rendah yang mengakibatkan jumlah penduduk miskin bertambah secara signifikan. Ada ME: Miskin Ekstrim.

Dunia sedang tidak baik-baik saja.
Dalam situasi dunia seperti inilah kita berjalan, berziarah. Dalam situasi seperti itulah, kita hidup.

Dalam situasi seperti inilah mendiang Paus Fransiskus mengumumkan tahun 2025 sebagai tahun Yubileum Harapan.
Paus Fransiskus mengajak umat katolik untuk tetap memiliki pengharapan di tengah dunia yang kian memprihatinkan ini.

Spes non confundit. Harapan tak pernah mengecewakan. Inilah panggilan spiritual yang mendalam: untuk menghidupkan kembali harapan yang terlupakan, menyalakan kembali lentera kasih, dan menjadikan pengampunan sebagai jalan menuju masa depan yang lebih manusiawi.
Para Peziarah, Putra dan Putri Maria yang terkasih…

Mendengar kabar bahwa Elisabet saudaranya yang sudah tua dan mandul, tapi sekarang sedang mengandung, Maria yakin akan kuasa Allah dan segera bertindak. “Maria segera berangkat dan dengan cepat menuju pegunungan, ke sebuah kota di Yehuda.” (Lukas 1:39)

Perjalanan ini jauh dan menanjak, kemungkinan dari Nazaret di Galilea ke daerah Hebron atau Ein Karem di wilayah Yehuda — kira-kira 90–150 km jaraknya. Waktu tempuhnya bisa beberapa hari, bahkan bisa se-minggu berjalan kaki. Ini menunjukkan ketaatan, keberanian, dan kerendahan hati Maria — seorang gadis muda yang rela menempuh perjalanan berat untuk melayani saudaranya.

Setelah menerima kabar dari malaikat bahwa ia akan mengandung Anak Allah, Maria tidak menyombongkan diri, tidak juga kebingungan mencari kehormatan, mencari panggung bagi dirinya. Sebaliknya, ia menyanyikan sebuah lagu-lagu pujian, syukur, dan iman. Magnificat. Magnificat, dimulai dengan:

“Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.”
Inilah lagu dari hati yang telah disentuh kasih Allah. Lagu dari seorang gadis sederhana yang percaya bahwa Allah benar-benar bekerja dalam dirinya — dan melalui dirinya, Allah bekerja bagi dunia.

“Sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.”

Dunia sering menilai manusia dari jabatan, kekayaan, dan status. Tetapi Allah tidak melihat seperti manusia. Ia melihat hati yang rendah, hati yang bersedia menjadi tempat bagi karya-Nya.

Maria bukan siapa-siapa di mata dunia: seorang perempuan muda dari Nazaret, sebuah kota kecil yang bahkan tidak terkenal seperti halnya Yerusalem. Namun justru di situlah Allah bekerja.

Ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak mencari yang besar di mata manusia, tetapi yang bersedia di hati. Allah selalu mulai karya-Nya dengan orang yang MAU bukan terutama yang MAMPU

Magnificat bukan hanya nyanyian pribadi, tapi deklarasi teologis yang radikal.
“Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya, dan meninggikan orang-orang yang rendah.”

Inilah cara kerja Allah: membalikkan tatanan dunia yang tidak adil. Yang sombong direndahkan; yang lapar dikenyangkan; yang kaya dikosongkan.

Maria mengerti bahwa kehadiran Yesus bukan sekadar membawa keselamatan rohani, tetapi juga pembaharuan sosial dan keadilan bagi mereka yang tertindas.
Saudara, ini panggilan bagi kita: Jika kita mau memuliakan Tuhan seperti Maria, kita juga harus mau menjadi bagian dari pembalikan itu, memperjuangkan keadilan, menolong yang lemah, dan memberi suara bagi yang tak terdengar.

Bagian akhir Magnificat:
“Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”

Allah tidak pernah melupakan janji-Nya.
Magnificat menunjukkan bahwa sejarah keselamatan bukan kebetulan, tetapi rencana Allah yang setia dari zaman ke zaman. Kelahiran Yesus adalah bukti bahwa janji Allah tidak pernah gagal.

Mungkin kita sering merasa janji Tuhan lambat datang — tapi Magnificat mengingatkan kita: Allah bekerja dalam waktu-Nya sendiri, dan ketika Ia bertindak, seluruh dunia berubah. Waktu Tuhan pasti yang terbaik, walau kadang tak mudah dimengerti. (Lewati cobaan, kutetap percaya. Waktu Tuhan pasti yang terbaik)
Saudara-sauariku yang terkasih….
Magnificat adalah lagu iman, lagu keadilan, dan lagu harapan.

Melalui Maria, Allah menunjukkan bahwa yang kecil bisa menjadi besar, yang hina bisa dimuliakan, dan bahwa kasih-Nya lebih kuat dari semua kuasa dunia. Karena itu, mengutip kembali apa yang dinasehatkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma pada bacaan pertama tadi, sekali lagi mari kita renungkan nasehatnya itu:

Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! (pura-pura kudus, pura-pura taat, pura-pura suci. Bangun pagi angkat hp, posting status – “jangan lupa baca Firman Tuhan hari ini”- tetapi sendiri tidak buka dan baca. Kitab Suci belum menjadi sumber inspirasi bagi kehidupan sehari-hari.

Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Kalau pakai Bahasa saudara kita, mereka bilang, amal ma’ruf – nahi mungkar. Lakukan yang baik, hindari yang jahat. Tapi yang kerap terjadi saat kita berdoa Bapa Kami, “…janganlah masukan kami ke dalam pencobaan, dalam sikap sehari-hari kita seakan berkata, sebagai kelanjutannya….”biarlah kami masuk sendiri…”

Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. (Yang terjadi adalah beri hormat kalau ada maunya. Beri salam kalau ada kepentingannya. Segala sesuatu ditakar dengan uang: mani piro? Memang di dunia ini tidak ada yang gratis. Kecuali rahmat dari Allah. Dan benar bahwa segala sesuatu butuh uang, tapi ingat, UANG bukan segala-galanya.
Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan, yang terungkap dalam melayani sesama mu yang kini hadir di tengah hidupmu.

Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa. Doa memang tidak serta-merta menyelesaikan masalah. Tapi Doa memberi inspirasi untuk mengatasi soal. Doa adalah kekuatan bagi orang yang berpengharapan. Doa adalah ekspresi kerendahan hati di hadapan Allah. Doa menjadi inner beaty, keindahan yang mempengaruhi orang dari dalam diri, yang mempengaruhi karaktek seseorang.

Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama. Komunitas terbentuk dari sini. Ada persekutuan antar anggotanya. Sehati sepikir dalam keluarga. Bapak dan mama saling berinteraksi. Anak-anak bertumbuh dalam situasi komunikasi yang sejati. Komunikasi dalam keluarga tidak tergerus dengan keasyikan bermain gadget, hp. Yang membuat jauh jadi dekat, tapi yang dekat jadi sangat jauh. Sehati sepikir dalam lingkungan kerja. Sehati sepikir membangun dunia. Sehati sepikir melahirkan belarasa, compassion, solidaritas.

Engkau susah saya bantu. Saya senang engkau gembira. Di saat hidup saling menolong. Di saat duka, saling mengunjungi.
Dan yang paling akhir, – the last but not list : Janganlah menganggap dirimu pandai. Di atas langit masih ada langit. Jagalah tutur-mu, peliharalah lakumu. Ahklak mempengaruhi kata, sikap menunjukan karakter.

Berziarah bersama Bunda Maria menuju Sumber Pengharapan berarti berjalan bersama Maria dalam hidup ini menuju Bapa di surga yang telah mengutus Putra-Nya Tuhan kita Yesus Kristus. Bapa di Surga adalah sumber dan tujuan harapan kita.
Kalau kamu berpikir bahwa doa rosario adalah doa yang membosankan karena mengulang-ngulang doa Salam Maria yang sama, maka ingatlah akan seorang ibu yang setia di bawah kaki salib putra-Nya karena dosamu – kesalahanmu – kesombonganmu – yang kamu lakukan berulang-ulang.
Per Mariam ad Jesum. Per Jesum ad Patrem in caeli.

Bersama Maria menuju Yesus. Bersama Yesus menuju Bapa di surga.

Sawe-sawe potat dese, poi Amapu gera hude.
Semoga Tuhan memberkati dan Bunda Maria mendoakan kita selalu.
Amen.

Lela, 13 Oktober 2025
Oleh: RD. Yanuarius Hilarius Role

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.