Konsep Cinta Menurut Erich Fromm: Menghindari Tindakan Kekerasan dalam Pacaran

oleh -497 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ferdinandus Ovan Gawo, S.Fil

Kekerasan dalam pacaran (Dating Violence) merupakan pelecehan fisik, emosional atau verbal dari pasangan romantik. Beberapa faktor menjadi penyebab munculnya kekerasan dalam pacaran baik dari faktor eksternal, (konstruk budaya), maupun faktor internal (individu). Ketidak pahaman dalam membangun konsep cinta yang keliru sebagai basis terbentuknya hubungan pacaran yang diskriminatif. Pemaknaan dalam hubungan romantik seharusnya memahami pemaknaan tentang cinta sebagai sebuah proses menjadi (To Be); bukan sebagai tujuan untuk memiliki (To Have) sehingga memungkinkan individu lebih mampu memaknai hubungan pacaran dengan konsep cinta yang produktif, sehingga terbebas dari tindak kekerasan dalam berpacaran; baik sebagai korban maupun pelaku.

Fenomena kekarasan dalam pacaran menjadi refleksi kita bersama dalam melihat sejauh mana individu memahami hakekat cinta sebagai basis dalam menjalin relasi pacaran. Banyak munculnya kekerasan dalam pacaran mengantarkan refleksi bagaimana seharusnya memahami hakekat cinta, agar bisa terbentuk relasi pacaran yang seimbang dan setara tanpa tindak kekerasan. Cinta menurut Erich Fromm merupakan kekuatan aktif dalam diri manusia. Kekuatan yang meruntuhkan tembok yang memisahkan manusia dari sesamanya, yang menyatukan dirinya dengan yang lain. Cinta membuat dirinya mengatasi perasaan isolasi dan keterpisahan namun, tetap memungkinkan dirinya menjadi dirinya sendiri dan mempertahankan integritasnya.

Dalam cinta terdapat paradoks, yaitu bahwa dua insan menjadi satu, namun tetap menjadi dua. Pengertian cinta menurut Erick Fromm tersebut memberikan gambaran tentang bagaimana cinta itu bekerja, yaitu menyatukan dua orang namun tetap menjadi dirinya sendiri. Sehingga, dalam hubungan pacaran yang terjalin, tidak ada kepemilikan mutlak diantara dua individu yang kemudian menjadi legitimasi untuk memaksakan kehendak maupun melakukan dominasi. Cinta sebagai dasar adanya relasi pacaran tetap memberikan kesempatan kepada individu menjadi dirinya sendiri atau menjadi individu yang otonom.
Erich Fromm mengemukakan bahwa cinta adalah suatu tindakan bukan suatu kekuatan pasif. Cinta berarti bertahan di dalam (standing in) bukan jatuh (falling for). Karakter asli dari cinta adalah memberi bukan menerima.

Pemahaman tentang konsep memberi kemudian dapat disalah artikan dalam hubungan pacaran. Dua individu dalam pacaran selalu memahami makna memberi dengan menyerahkan dan mengorbankan segala sesuatu. Penolakan pada kemampuan individu memberikan segalanya dalam hubungan pacaran, kemudian akan dilegitimasi bahwa individu tidak benar-benar mencintainya. Konsep memberi yang dikemukan Fromm, bukan berarti menyerahkan segalanya dan memberikan hidup pada orang lain, tetapi memberikan apa yang ada dalam dirinya, memberi kebahagiaan, pemahaman, pengetahuan atau kesedihan. Cinta sebagai sebuah karakter aktif dalam individu memiliki beberapa unsur-unsur dasar diantaranya adalah perhatian, tanggung jawab, rasa hormat dan pengetahuan.

Erich Fromm juga mengemukakan bahwa dua modus eksistensi manusia yang kemudian dikaitkan dengan hubungan pacaran yakni “memiliki” (to have). Dimana konsep memiliki ini cenderung tidak sehat karena eksistensi manusia menjadi utuh dengan membeli, memiliki, terobsesi pada sesuatu. Sedangkan “menjadi” (to be), konsep ini cenderung bersifat positif, sehat dan mengaktualisasikan kesejatian manusia.

Konsep To Have (memiliki) sering manjadi basis individu dalam menjalin relasi pacaran. Apabila seseorang berada dalam relasi pacaran, maka pasangannya akan dianggap sebagai obyek miliknya, sehingga tujuannya adalah mencari kepuasan dan keserakahan dengan tujuan akhir memiliki. Kepuasan tersebut terwujud dalam tindakan-tindakan dominatif dan manipulatif dan tindakan ini tidak ada akhirnya, karena kepuasan tersebut selalu mencari obyek pemenuhan. Kekerasan dalam pacaran dalam bentuk psikis, fisik, ekonomi, adalah perwujudan dari hubungan cinta yang terjalin dengan tujuan eksistensi manusia untuk dapat memiliki. Sehingga individu dalam relasi tersebut merasa berhak untuk melakukan pemaksaan, manipulasi emosi, serta mengekang segala aktivitas yang dilakukan pasangan karena pasangan tersebut dianggap sebagai properti yang ingin selalu dimiliki dan dikuasai.

Dalam konsep To Be ‘menjadi’’ hubungan yang terjalin mengacu pada kemampuan individu memahami otonomi dan kedirian orang lain secara utuh. Terdapat persyaratan dalam menjalin hubungan terutama relasi cinta dengan individu lain, dengan memungkinkan adanya kemerdekaan, kebebasan, dan alasan kritis dalam bertindak. Relasi dengan individu lain dalam konsep menjadi ini akan menjadi bentuk relasi yang saling mendukung pasangan untuk mengembangkan kemampuan dan potensi pribadi tanpa melihat sebagai bentuk kompetisi antar pasanagan. Dalam hubungan yang memberi kemerdekaan dan kebebasan kritis pada setiap individu, tentunya tidak ada satu pihak mendominasi di dalam relasi yang dibangun karena memposisikan individu sebagai pribadi yang otonom, yang berhak mengambil keputusan secara merdeka.

Salah satu objek cinta yang dikemukan oleh Erich Fromm adalah cinta diri. Mencintai diri sendiri bukan berarti narsisme, sikap mencintai diri sendiri akan ditemukan pada semua orang yang mampu mencintai orang lain. Menyebutkan bahwa cinta sejati adalah unkapan sikap yang produktif yang menunjukkan kepedulian, rasa hormat, tanggung jawab dan pengetahuan. Cinta sejati bukanlah rasa dalam arti yang ditimbulkan oleh seseorang, melainkan upaya aktif demi pertumbuhan dan kebahagiaan pribadi yang dicintai, yang berakar pada kemampuan untuk mencintai.

Pada akhirnya, cinta yang diakui sebagai basis dari munculnya hubungan pacaran, haruslah merupakan cinta dalam bentuk yang produktif. Cinta yang merawat, menghormati, membebaskan, menanggapi, dan menegaskan otoritas individu dalam hubungan dengan individu lain sebagai pasangan.

Penulis adalah Alumnus Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang, Nusa Tenggara Timur

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.