Kebenaran di Tengah Hiruk-Pikuk Viralitas: Refleksi Agustinus di Era Media Sosial

oleh -386 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Aprianto Y. Nome

Di era digital dewasa ini, manusia semakin mudah mengakses informasi melalui internet dan media sosial. Beragam kabar, gambar, dan video hadir setiap saat di layar perangkat. Media sosial pun berubah menjadi open room tempat manusia menampilkan diri, membentuk opini, bahkan menentukan apa yang dianggap nyata dan benar. Namun ironisnya, dalam hiruk-pikuk arus informasi itu, batas antara yang benar dan yang palsu justru semakin kabur. Sesuatu yang sebenarnya tidak nyata sering diperlakukan sebagai kebenaran, sementara yang asli justru diragukan karena tidak ramai dibicarakan. Ukuran kebenaran pun rapuh: bukan lagi soal benar atau salah, melainkan soal viral atau tidak.

Maka Santo Agustinus memahami kebenaran sebagai sesuatu yang tidak tergantung pada banyaknya orang yang setuju. Bagi dia, kebenaran bukan hasil voting, bukan pula soal banyak orang. Kebenaran itu tetap benar walaupun hanya sedikit orang yang mempercayainya. Sebaliknya, sesuatu tetap salah meskipun dipercaya oleh banyak orang. Kebenaran sejati, menurut Agustinus, berasal dari Allah dan dapat dikenali oleh manusia melalui akal budi yang jujur, hati nurani yang bersih, serta keterbukaan pada terang ilahi. Karena itu, kebenaran tidak ikut berubah hanya karena zaman berubah tidak statis.

Pandangan ini berbeda dengan cara berpikir banyak orang di zaman media sosial sekarang. Di dunia digital, kebenaran sering diukur dari seberapa viral suatu informasi. Yang banyak di-like, di-share, dan dikomentari dianggap penting, bahkan dianggap benar. Sementara itu, informasi yang tidak ramai sering diabaikan, walaupun sebenarnya lebih akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Perlahan-lahan, orang menjadi terbiasa menilai kebenaran dari keramaian, bukan dari isi atau sumbernya.

Di media sosial, tidak sedikit orang yang dengan sengaja menyebarkan informasi palsu demi perhatian, ketenaran, atau keuntungan ekonomi. Selama mendapat tanggapan banyak orang, informasi itu dianggap benar untuk terus disebarkan. Akibatnya, yang palsu sering dibenarkan karena menguntungkan, sementara yang benar justru kalah karena tidak menarik. Dalam situasi seperti ini, kebenaran tidak lagi dicari, tetapi dikalahkan oleh keramaian.

Orientasi hidup manusia pun ikut berubah. Banyak orang tidak lagi bertanya apakah suatu informasi benar atau salah, melainkan apakah informasi itu sedang viral. Unggahan di Instagram, TikTok, WhatsApp, atau Facebook sering dipercaya begitu saja, bahkan lebih dipercaya daripada penjelasan secara riil. Orang jarang memeriksa ulang, jarang membaca secara mendalam, dan jarang bertanya dengan kritis. Yang penting cepat, ramai, dan sesuai dengan keinginan.

Contoh paling nyata dapat dilihat dalam penyebaran berita bohong atau hoaks. Pesan bertahap tentang bahaya vaksin, isu penculikan anak, atau video hasutan lainnya sering langsung dipercaya dan dibagikan. Alasannya sederhana: karena sudah banyak orang yang meneruskannya. Padahal, sering kali informasi tersebut tidak benar dan sudah dibantah oleh pihak berkuasa. Namun karena isinya menakutkan atau menyentuh emosi, orang lebih mudah percaya. Di sini, kebenaran dikalahkan oleh rasa takut dan keramaian.

Masalah menjadi semakin serius ketika kebenaran diserahkan kepada algoritma. Media sosial tidak bekerja untuk mencari kebenaran, tetapi untuk menarik perhatian pengguna selama mungkin. Konten yang mengundang emosi, kemarahan, atau sensasi lebih mudah muncul dibandingkan konten yang tenang dan rasional. Akibatnya, kebohongan yang menarik sering menyebar lebih cepat daripada kebenaran yang disampaikan dengan hati-hati.

Jika keadaan ini terus dibiarkan, manusia berisiko kehilangan daya kritis dan kepekaan moral. Orang tidak lagi bertanya, Apakah ini benar?, tetapi hanya, Apakah ini sedang ramai dibicarakan?. Sikap seperti ini bertentangan dengan pemikiran Agustinus yang menekankan tanggung jawab pribadi dalam mencari kebenaran. Bagi Agustinus, manusia dipanggil untuk berpikir, merenung, dan mendengarkan suara hati nurani, bukan sekadar ikut arus.

Pada akhirnya pemikiran Agustinus menjadi sangat relevan di era media sosial. Ia mengingatkan kita bahwa kebenaran tidak boleh ditentukan oleh ketenaran atau algoritma. Manusia ditantang untuk berani berdiam sebentar, memeriksa informasi, dan berpikir jernih sebelum mempercayai atau menyebarkan sesuatu. Di tengah dunia yang ramai dan bising oleh informasi, setia pada kebenaran memang tidak mudah. Namun justru di situlah keberanian dan tanggung jawab manusia diuji: berani tidak selalu ikut suara mayoritas demi menjaga kebenaran, meskipun tidak viral.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.