Oleh: Do Vicko
Di era digital ini, kita menyaksikan fenomena yang mengkhawatirkan: manusia yang dengan sukarela mempertontonkan tubuhnya di media sosial demi mendapatkan pengikut, views, dengan demikian ia memperoleh uang. Ini adalah “produktivitas” dalam bentuknya yang paling menyedihkan sebuah simulasi pencapaian yang menguras jiwa sementara tubuh dipaksa menjadi komoditas.
Fenomena ini merepresentasikan alienasi modern di mana tubuh tidak lagi menjadi bagian integral dari identitas seseorang, melainkan alat produksi yang harus dioptimalkan. Setiap lengkung tubuh, setiap ekspresi wajah, setiap potongan kehidupan pribadi diukur berdasarkan nilai moneternya. Yang terjadi bukanlah ekspresi diri, melainkan performativitas yang terstandarisasi untuk memenuhi algoritma platform media sosial.
Apa yang tampak sebagai pilihan sukarela seringkali adalah ilusi yang dibentuk oleh sistem ekonomi baru yang lapar akan perhatian. Dalam ekonomi perhatian ini, tubuh dan pengalaman pribadi diubah menjadi “modal sosial” yang harus dikapitalisasi. Produktivitas diukur bukan dari nilai yang dihasilkan bagi masyarakat atau perkembangan diri, tetapi dari kemampuan memancing dopamine orang lain dalam bentuk like, share, dan komentar.
Inilah paradoksnya: di satu sisi, mereka terlihat sangat produktif dan sukses dengan metrik digital; di sisi lain, mereka mungkin mengalami kehampaan karena aktivitas ini seringkali tidak memiliki telos atau tujuan yang memberi makna, selain akumulasi angka dan uang. Tubuh yang seharusnya menjadi medium untuk mengalami dunia, dikurung dalam peran tunggal sebagai objek tontonan. Fenomena ini merepresentasikan alienasi modern di mana tubuh tidak lagi menjadi bagian integral dari identitas seseorang, melainkan alat produksi yang harus dioptimalkan.
Konsep alienasi Karl Marx menemukan wujudnya yang baru. Jika dulu buruh teralienasi dari produk yang mereka buat, kini individu teralienasi dari tubuh dan identitas mereka sendiri. Tubuh dipisahkan dari “diri” yang utuh; ia menjadi aset, mesin konten, atau canvas yang harus terus-menerus di-upgrade dan di-display untuk tetap relevan. Hubungan dengan tubuh pun berubah dari “being” (menjadi) ke “having” (memiliki), kita memiliki sebuah tubuh yang harus kita kelola dan pasarkan, alih-alih menjadi tubuh itu sendiri.
Setiap lengkung tubuh, setiap ekspresi wajah, setiap potongan kehidupan pribadi diukur berdasarkan nilai moneternya. Di sini, logika pasar menyerap segalanya. Yang intim (seperti momen keluarga, pergulatan pribadi) dan yang estetis (seperti keindahan tubuh, senyuman) kehilangan nilainya yang intrinsik dan direduksi menjadi nilai tukar. Ekspresi diri yang autentik, yang seringkali berantakan, kompleks, dan tidak selalu fotogenik, digantikan oleh “performativitas” yang diarahkan algoritma.
Algoritma bukanlah entitas netral; ia menghukum keragaman dan menghargai keseragaman yang terbukti “viral”. Hasilnya adalah homogenisasi kreativitas dan penampilan: pose, filter, trend challenge, dan formula konten yang itu-itu lagi, karena itulah yang “jual”. Individu pun terjebak dalam pertunjukan abadi, di mana panggung depan di media sosial telah sepenuhnya melahap panggung belakang kehidupan nyata. Jiwa terkuras karena harus terus berakting, tanpa pernah bisa beristirahat dari peran yang dipaksakan oleh pasar perhatian ini.
Biaya Tersembunyi dari Popularitas Digital
Di balik angka followers dan pendapatan yang menggiurkan, terdapat pengorbanan psikologis yang jarang diungkap seperti terjadi disosiasi diri, di mana pelaku perlahan kehilangan kemampuan membedakan antara dirinya yang autentik dengan persona yang dijual. Proses ini bukan sekadar “berakting,” melainkan erosi identitas yang halus. Ketika respons pasar (berupa likes dan komentar) menjadi satu-satunya cermin untuk mendefinisikan diri, individu mulai mengukur nilai dirinya berdasarkan validasi eksternal yang fluktuatif. diri online yang sukses itu akhirnya bisa menjadi penjara yang mewah, sebuah versi diri yang dipoles dan dipaksakan, yang justru mengubur keunikan, kerentanan, dan kompleksitas manusia asli di balik layar. Lambat laun, suara batin yang jujur mungkin tenggelam oleh narasi yang lebih “layak jual”.
Konsekuensi logisnya adalah kelelahan eksistensial. Ini bukan sekadar fisik lelah, melainkan kehampaan mendalam yang muncul ketika aktivitas produktif kehilangan hubungannya dengan makna. Tubuh mungkin tetap sibuk menghasilkan konten, tetapi jiwa terkuras karena bekerja bukan untuk ekspresi atau pertumbuhan diri, melainkan untuk memenuhi siklus lapar algoritma dan ekspektasi audiens yang tak pernah puas. Kelelahan eksistensial adalah dampak dari hidup dalam kontradiksi: terlihat sangat “hidup” dan produktif di dunia digital, namun merasa kosong dan teralienasi dalam kesendirian.
Dalam “ekonomi perhatian” yang mendorong manusia menjadi merek dagang, nilai intrinsik seseorang, pemikiran, perasaan, hubungan, dan kekayaan batin direduksi menjadi sederet metrik engagement yang dingin: like, share, dan sedertan komentar. Reduksi inilah yang mengabaikan sepenuhnya kompleksitas dan kedalaman manusia seutuhnya, mengubah perjalanan hidup yang multidimensional menjadi garis datar pada dashboard analitik.
Mencari Kembali Makna Produktivitas Sejati
Produktivitas tanpa jiwa adalah paradoks yang berbahaya. Tubuh yang terus dipaksa berproduksi sementara jiwa semakin kosong hanya menciptakan manusia-manusia yang terfragmentasi. Kita perlu mengingat kembali bahwa produktivitas sejati harus melibatkan seluruh diri: tubuh, pikiran, dan jiwa dalam aktivitas yang memberikan makna, bukan sekadar mata uang digital. Produktivitas yang bermakna adalah yang memiliki umpan balik internal perasaan berkembang, berkontribusi, atau terhubung bukan hanya umpan balik eksternal berupa validasi angka. Ia harus menjadi sarana penumbuhan diri dan pelayanan, bukan alat eksploitasi diri.
Masyarakat kita memerlukan kesadaran kolektif untuk tidak mengukur keberhasilan semata-mata dari popularitas digital atau pencapaian material, tetapi dari integritas diri dan kontribusi yang substantif. Karena pada akhirnya, tubuh yang dipaksa dan jiwa yang terkuras hanya akan meninggalkan manusia yang hidup dalam kehampaan meski dikelilingi oleh angka-angka yang tampak mengagumkan di layar. Kita boleh bangga karena dikenal oleh banyak orang tetapi diri kita telah menjadi budak dari keegoisan diri kita. Keberhasilan sejati bukanlah ketika dunia mengenal wajahmu, tetapi ketika engkau masih mengenal jiwa sendiri di balik semua sorotan itu.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang







