Oleh: Fridolin Denri Bria
Air yang meluap dan tanah yang runtuh bukan sekadar peristiwa alam; ia adalah bahasa sunyi yang dipakai bumi untuk menyampaikan luka. Ketika banjir dan longsor kembali melanda berbagai wilayah di Sumatera, yang sesungguhnya terendam bukan hanya rumah dan sawah, melainkan juga nurani kolektif kita sebagai manusia yang mengaku beradab.
Secara kasat mata, bencana ini kerap dijelaskan sebagai akibat hujan ekstrem dan kondisi geografis. Namun penjelasan semacam itu terlalu sederhana dan, dalam banyak hal, menyesatkan. Di balik longsor yang merenggut nyawa dan banjir yang memaksa ribuan orang mengungsi, tersimpan jejak panjang pembalakan hutan, alih fungsi lahan yang serampangan, serta tata kelola lingkungan yang lebih tunduk pada kepentingan ekonomi daripada keberlanjutan hidup. Di titik inilah bencana alam berubah menjadi cermin kegagalan etika lingkungan.
Saya berpendapat bahwa krisis ekologis di Sumatera bukanlah musibah yang datang tiba-tiba, melainkan hasil dari akumulasi pilihan-pilihan manusia yang mengabaikan keseimbangan alam. Ketika hutan diperlakukan sebagai komoditas semata dan tanah direduksi menjadi objek eksploitasi, maka bencana hanyalah soal waktu. Alam tidak pernah “marah”; ia hanya bereaksi terhadap perlakuan yang diterimanya.
Lebih ironis lagi, korban terbesar dari bencana ini justru masyarakat kecil yang paling sedikit berkontribusi pada kerusakan lingkungan.
Mereka kehilangan rumah, mata pencaharian, bahkan anggota keluarga, sementara pihak-pihak yang diuntungkan dari eksploitasi alam sering kali tetap berada di posisi aman. Ketimpangan ini memperlihatkan bahwa krisis ekologis selalu berjalan seiring dengan krisis keadilan.
Karena itu, persoalan banjir dan longsor di Sumatera tidak cukup ditangani dengan bantuan darurat dan janji rehabilitasi semata. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang: dari sekadar mengelola alam menjadi merawatnya, dari logika keuntungan jangka pendek menuju tanggung jawab moral jangka panjang. Etika lingkungan harus menjadi dasar dalam setiap kebijakan pembangunan, bukan sekadar slogan pelengkap.
Pada akhirnya, banjir dan longsor di Sumatera mengajukan satu pertanyaan mendasar kepada kita semua: apakah manusia masih ingin menjadi penjaga bumi, atau terus menjadi penyebab luka-lukanya? Sebab selama etika lingkungan diabaikan, air akan terus meluap, tanah akan terus runtuh, dan bencana akan berulang-bukan sebagai takdir, melainkan sebagai akibat dari pilihan kita sendiri.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang







