Stasi Bello Sambut Natal dengan Seribu Wajah Satu Iman Terpaut Dalam Simbol Pohon Natal yang Sarat Makna Iman dan Budaya

oleh -381 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Kupang – Perayaan Natal di Stasi Santo Agustinus Bello, Paroki setempat, tahun ini tampil berbeda. Jemaat menghadirkan pohon Natal berbahan bambu dan daun kelapa sebagai simbol iman yang kontekstual, sederhana, namun sarat makna teologis dan budaya lokal.

Koordinator Perlengkapan Stasi Santo Agustinus Bello, Ferdi Lelboy, menjelaskan bahwa pemilihan bambu sebagai bahan utama pohon Natal bukan tanpa alasan. Menurutnya, bambu mengandung nilai simbolik yang kuat dan relevan dengan kehidupan umat saat ini.

“Bambu itu kuat tetapi lentur, tidak mudah patah. Ini melambangkan ketahanan iman umat Kristiani dalam menghadapi berbagai tantangan hidup, sekaligus mengajarkan kita untuk tetap rendah hati dan mampu beradaptasi, seperti teladan Yesus Kristus,” ujar Ferdi Lelboy saat ditemui terpisah, Senin sore (22/12/2025).

Ia menambahkan, penggunaan bambu—yang sering dianggap sebagai bahan sederhana bahkan limbah—menjadi pesan kuat bahwa Natal adalah peristiwa kasih Allah yang merangkul semua orang tanpa terkecuali.

“Kasih Tuhan itu inklusif. Melalui bambu, kami ingin menunjukkan bahwa yang sederhana dan sering dipandang tidak berharga justru bisa menjadi sarana berkat dan keindahan. Natal tidak harus mewah, tetapi penuh makna,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Organisasi Stasi Bello, Martinus Mudu, menuturkan bahwa simbol bambu juga dimaknai sebagai lambang harapan dan kehidupan abadi, sejalan dengan pesan kelahiran Kristus.

“Bambu adalah tanaman yang hijau dan terus tumbuh. Ini kami maknai sebagai simbol harapan dan kehidupan kekal yang dibawa oleh kelahiran Yesus bagi umat manusia,” kata Martinus.

Ia juga mengungkapkan bahwa dalam beberapa budaya, termasuk budaya Tionghoa, bambu melambangkan berkat, keharmonisan, dan keberuntungan, nilai-nilai yang sejalan dengan semangat Natal sebagai peristiwa damai dan sukacita bagi dunia.

Tak hanya bambu, daun kelapa yang digunakan dalam dekorasi kandang dan pohon Natal juga memiliki makna tersendiri. Daun kelapa dipilih sebagai simbol kehidupan, kemenangan, dan kemampuan beradaptasi, sekaligus menjadi bentuk penghargaan terhadap kearifan lokal.

“Kami ingin Natal dirayakan dengan identitas budaya sendiri. Daun kelapa adalah bagian dari kehidupan masyarakat kita, dan itu kami hadirkan sebagai tanda bahwa iman Kristiani bisa tumbuh dan berakar dalam budaya lokal,” tambah Martinus.

Lebih dari sekadar dekorasi, pohon Natal berbahan bambu dan daun kelapa ini menjadi wujud karya bersama jemaat, yang dibangun melalui semangat kebersamaan, kreativitas, dan pelayanan.

“Ini bukan hanya soal hiasan, tetapi tentang bagaimana umat bekerja bersama membangun sukacita Natal dengan semangat persaudaraan,” tutup Ferdi Lelboy.

Melalui simbol-simbol sederhana namun bermakna ini, Stasi Santo Agustinus Bello Paroki Santo Fransiskus Asisi Kolhua Keuskupan Agung Kupang, mengajak umat untuk merayakan Natal secara reflektif: menghadirkan iman yang tangguh, inklusif, membumi, dan penuh harapan. (TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.