Kebaikan yang Menembus Pintu Langit

oleh -1509 Dilihat
Cartoon door to heaven in the sky
banner 468x60

Oleh: Hafis Azhari

Ada perspektif lain yang disampaikan Rasulullah tentang kualitas amal perbuatan manusia. Hal tersebut disampaikan langsung kepada para sahabat terdekat, mengenai sosok pemuda sederhana yang tak dikenal oleh khalayak (sebut saja Zayn). Para sahabat terheran-heran ketika Rasulullah sampai tiga kali menyatakan kepada mereka, bahwa Zayn itulah tipikal pemuda yang akan menjadi penghuni surga.

Tentu saja sebagian sahabat penasaran tentang apa-apa yang diperbuat Zayn dalam kesehariannya. Sahabat Anas bin Malik menulis fakta yang dialami Ibnu Amr, ketika ia berusaha memata-matai Zayn, dengan berusaha mendekatinya hingga sempat menginap selama tiga malam di kediaman Zayn yang sederhana.

Sepanjang malam ia mencoba mengamati kebiasaan Zayn, namun ternyata pemuda itu tidur dengan pulas, tak suka bangun malam untuk melaksanakan shalat tahajud. Demikian pula di siang hari, itu bukan tipikal orang yang rajin melakukan ibadah puasa. Sampai kemudian, Ibnu Amr agar memberikan sanksi terhadap kualitas ibadah yang minimal dilakukan oleh pemuda sederhana itu.

“Sebetulnya amalan apa yang membuat Rasulullah memandangmu sebagai ahli surga, wahai Zayn?” Ibnu Amr akhirnya bertanya secara terus terang.

“Betulkah Rasulullah menilai saya seperti itu?” tanya Zayn.

“Ya, bahkan sampai tiga kali Rasul menyatakan bahwa kau adalah ahli surga.”

Zayn terhenyak seraya mensyukuri penilaian Rasulullah yang selalu berhusnudzon kepada umatnya. Tetapi, dari sisi amalan khusus, ia merasa tak melakukan amalan istimewa dibandingkan sahabat lainnya, terutama mereka yang lebih dekat dan akrab dengan Rasulullah seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan seterusnya.

“Jadi, apa yang membuat Rasulullah menilai saya seperti itu?”

“Hanya itulah yang saya tanyakan, Zayn!”

Merasa tak mendapat jawaban yang memuaskan, Ibnu Amr akhirnya pamit dan mengucap terima kasih atas kebaikan hati Zayn yang selama ini menerima dirinya singgah beberapa hari di kediamannya yang sederhana.

Dalam hadist yang diriwayatkan Anas bin Malik mengenai perjalanan hidup Zayn yang diutarakan Ibnu Amr tersebut, bahwa Rasulullah mempunyai banyak perspektif mengenai amalan-amalan sederhana yang membuat seseorang layak menjadi penghuni surga. Kadang-kadang orang biasa seperti Zayn memang tidak memiliki gaya hidup yang dialami para sahabat Nabi yang populer dan terkenal di mata sahabat lainnya. Tetapi di sisi lain, orang-orang terkenal dan istimewa terkadang merasa sibuk dengan persaingan untuk mencapai derajat tinggi, hingga rentan dengan sifat iri dan dengki.

Sedangkan tipikal Zayn hanya hidup di tingkat masyarakat bawah dan jauh dari persaingan. Ia nyaris tidak punya peluang untuk mendengki orang lain karena memang sudah sadar dengan kemampuan terbatas dirinya. Ia juga tak memiliki kepentingan apapun di dunia ini selain menjalankan rutinitas hariannya.

Terkait dengan itu, Allah berfirman dalam surah al-Ahqaf (ayat 19): “Dan bagi masing-masing orang akan memperoleh derajat (di surga) menurut apa yang telah mereka kerjakan.” Tentu saja amal kebaikan Zayn yang tak terlihat itu, tidak membatalkan ayat-ayat yang mengajak manusia berlomba dalam kebaikan (fastabiqul-khairat), karena memang Rasulullah selalu berkata sesuai dengan konteks situasi dan kondisi yang tengah menghadap para sahabat masyarakat ataunya.

Tak mengubahnya dengan kondisi kekinian dan keindonesiaan, di mana para generasi muda Gen Z sedang dilanda mabuk viralitas dan gangguan yang sarat persaingan, tentu karakter Zayn sangat valid dan relevan untuk disampaikan secara terbuka dalam khazanah yang sudah dimodifikasi oleh puluhan dan ratusan intelektual muslim tersebut.

Untuk itu, sesuai dengan kebutuhan akan zamannya, saya merasa berhak dan memandang perlu untuk memodifikasi dalam konteks zaman ini di negeri ini, perihal apa-apa yang diutarakan Ibnu Amr kepada Anas bin Malik. Akhirnya, sang pemuda Zayn berkata terus terang di ambang pintu rumahnya: “Wahai Ibnu Amr, saya juga mengerti mengapa Rasulullah berkata seperti itu, karena hanya apa-apa yang kamu lihat itulah kebiasaan saya sehari-hari di rumah ini, dan saya merasa tidak memiliki amalan istimewa hingga layak dijuluki ahli surga.”

“Tapi yang bicara itu Rasulullah, wahai Zayn, apakah kamu tidak percaya dengan apa yang dia katakan?”

“Tentu saja saya percaya, Ibnu Amr, tapi amalan istimewa apa yang telah saya lakukan?”

Setelah Ibnu Amr melangkah keluar rumah, tiba-tiba teringat dalam ingatan Zayn yang membuat ia memanggil sahabatnya itu, lalu berkata dengan tenang: “Barangkali seperti ini, wahai Ibnu Amr. Saya ini tak punya rasa iri dan dengki dengan kesuksesan dan keberhasilan yang diraih siapapun, karena hal tersebut merupakan anugerah dari Allah…”

“Lalu?” pancing Ibnu Amr lagi.

“Sebelum tidur, kadang saya berdoa agar Allah memaafkan jika saya pernah mengecewakan orang lain. Bahkan, saya pun berdoa agar Allah memaafkan siapa pun, terutama jika ada orang yang pernah mengecewakan saya dalam hidup ini.”

Keduanya diam terhenyak. Ibnu Amr menatap Zayn seraya berlinang air mata: “Itulah amalan kamu yang tidak kami miliki, Zayn, dan kini saya paham apa yang disampaikan Rasulullah tentang kamu selama ini.”

Mungkin saja Zayn bukan tipikal orang yang dikenal dan dihormati oleh penduduk bumi, tetapi sangat mungkin ia dipuji dan dikagumi oleh penduduk langit. Misalnya Rasulullah pernah memuji amal kebaikan Uwais al-Qarni yang tidak ikut mendidik dengan kaum Muhajirin menuju Madinah, karena ia harus menggendong dan memenuhi hajat ibunya yang ingin berangkat haji ke Baitullah.

Seringkali kita berdoa agar Allah memaafkan dan mengampuni segala dosa dan kekhilafan kita kepada orang lain, tetapi terkadang sulit bagi kita untuk rela dan ridho agar Allah mengampuni dan memaafkan orang yang pernah berbuat salah kepada kita. Tetapi Zayn, tentu saja dapat tidur nyenyak setiap hari, ketika dari mulut terucap: “Ya Allah, maafkanlah orang-orang yang pernah berbuat zalim terhadap diri saya selama ini.”

Kini, pertanyaan akan kembali kepada diri kita: mampukah kita memaafkan orang-orang yang pernah merugikan dan mengecewakan diri kita? Kalau tidak sanggup, kenapa kita menghendaki agar Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita di masa lalu?

Bukankah tidak adil, jika di satu sisi kita menghendaki agar Allah memaafkan dan mengampuni dosa-dosa kita, sementara di sisi lain kita masih merasa berkenan untuk memaafkan orang yang pernah berbuat salah kepada kita? Mengapa di satu sisi kita tidak menghendaki agar Allah murka kepada kita, namun di sisi lain kita tidak konsisten melakukan amalan sederhana, yang membuat Allah mencintai diri kita? (*)

Penulis adalah Peneliti kenangan sejarah, juga pengarang novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.