Oleh: Indah Noviariesta
Cerpen terbaru Hafis Azhari berjudul “Kematian” tampaknya menarik untuk kembali menjadi perbincangan publik, setelah beberapa media daring menampilkan debut cerpennya berjudul “Detik-detik Akhir Menjelang Kiamat” (NU Online). Karya prosa tersebut kemudian ditampilkan di harian Republika dengan judul yang lebih menarik, “Sebatang Pohon yang Ditanam Menjelang Kiamat”.
Cerpen Kematian bicara tentang wafatnya para jamaah umrah berjumlah 119 orang, karena kecelakaan penerbangan pada saat keberangkatan menuju tanah suci Mekah. Pesawat terjatuh di sekitar Laut Arab, di atas perairan Laut Oman. Travel Al-Mizan menyatakan bahwa keseluruhan penumpang yang akan berangkat umrah berjumlah 120 orang, tetapi peserta nomor 7 yang merupakan narator cerita, ketinggalan rombongan karena terjebak kemacetan selama delapan jam di daerah Puncak, Bogor.
Ketika daftar nama-nama yang menjadi korban diumumkan melalui siaran TVRI, tokoh utama kemudian menguhubungi studio teve melalui ponselnya, bahwa yang menjadi korban dari keseluruhan penumpang adalah 119, karena peserta umrah nomor 7 tidak ikut berangkat ke kota suci Mekah.
“Bagaimana seorang peserta umrah bisa selamat dari kecelakaan pesawat yang mengenaskan itu, Pak?” tanya seorang reporter teve. “Siapakah orang itu?”
“Saya,” jawab sang narator selaku orang pertama.
“Bagaimana Bapak bisa selamat dari musibah itu?”
“Karena saya tidak jadi berangkat,” balasnya kemudian.
“Apa yang menyebabkan Bapak membatalkan keberangkatan untuk ibadah umrah?”
“Saya enggak membatalkan, tapi hanya terjebak kemacetan selama hampir delapan jam di wilayah Puncak.”
“Baik kalau begitu, tapi bisakah Bapak datang ke studio kami untuk menjelaskan pada pemirsa bahwa peserta nomor 7 selamat karena tidak jadi berangkat umrah, dan orangnya adalah Bapak sendiri?”
“Kapan saya harus datang?”
“Sekarang juga, Pak, lebih cepat lebih baik.”
Baru beberapa langkah si tokoh utama turun dari mobil, setelah di lapangan parkir studio TVRI, tiba-tiba puluhan wartawan cetak, daring dan elektronik, menyerbu dan menghalaunya saat hendak menaiki lantai 3 gedung tersebut. Bertubi-tubi pertanyaan menyergap, hingga membuatnya gelagapan untuk menjawab secara spontan dan apa adanya perihal keselamatan yang dialaminya, terutama dari musibah yang mengorbankan 119 penumpang pesawat tersebut.
“Ini bukan musibah, tetapi karomah… ini sungguh mukjizat yang tak disangka-sangka,” seorang wartawan Republika geleng-geleng kepala, sambil memandang si tokoh dengan tatapan berkaca-kaca.
“Bagaimana Bapak bisa menyelamatkan diri dari tragedi besar yang mengenaskan ini?” tanya wartawan Alif.idterkesima.
“Apakah Bapak punya aji-ajian khusus sebagai pengalaman spiritual Bapak?” tanya reporter NU Online berdecak kagum.
“Mungkin Bapak mengantongi jimat tertentu di saku celana Bapak?” tanya wartawan majalah Misteri.
“Barangkali Bapak pernah mengalami transplantasi dengan jantung beruang, sehingga Bapak memiliki kekuatan sakti mandraguna?” kata wartawan Jawa Pos.
“Apakah Bapak seorang atlet renang, hingga sanggup mengarungi Laut Arab hingga ke daratan?” celetuk wartawan Kompas.
“Tentu Bapak mempunyai amalan tersendiri sehingga karomah ini benar-benar menyertai perjalanan hidup Bapak?” ujar repoter Islampos.com.
Dua orang petugas di pintu gerbang TVRI mempersilakan si tokoh untuk duduk menghadap meja. Para wartawan dan reporter saling berdesakan dan berebut mengambil gambar, serta agar mereka menerima info langsung dari orang pertama. Suasana gaduh seketika senyap ketika si tokoh mulai membuka pembicaraan laiknya sebuah acara konferensi pers.
Setelah menghela nafasnya, sang tokoh bertanya ke khalayak wartawan, “Apa yang kalian ketahui tentang karomah dan mukjizat?”
Semuanya diam terpaku. Beberapa wartawan saling berbisik memperingatkan teman sebelahnya agar jangan bersuara. Kini, yang terdengar hanya suara ponsel yang diklik, serta beberapa alat perekam yang mulai dinyalakan. Tak lama kemudian, sang tokoh menjelaskan, “Apa yang saya alami hanya semata-mata soal kemacetan di jalan raya Puncak menuju bandara Soekarno-Hatta di Banten. Kemacetan panjang selama hampir delapan jam itu membuat saya terlambat untuk bergabung dengan rombongan jamaah yang berangkat ke tanah suci Mekah…”
“Tapi, itu pertanda mukjizat, karena Bapak tidak mengalami kecelakaan pesawat?” potong seorang wartawan Koran Tempo.
“Kalaupun ada mukjizat atau karomah yang dialami, justru bukan pada saya tetapi pada 119 jamaah yang mengalami kecelakaan tersebut…”
“Tapi, boleh jadi peristiwa ini semacam restorasi di jalan sufi?” ujar reporter dari Metro-TV.
Semuanya terdiam dalam beberapa waktu. Suasanya senyap, lalu sambung sang tokoh, “Karena ke-119 penumpang pesawat itu akan berangkat umrah, artinya akan menunaikan ibadah menuju rumah Allah. Kematian mereka justru mendatangkan barokah, dan takdir kematian itu merupakan anugerah kesyahidan yang dikaruniakan Allah. Jadi, status kematian mereka menurut Alquran dan hadis Nabi adalah ‘mati syahid’, sedangkan saya dan kalian semua belum tentu menerima kematian yang indah seperti mereka-mereka itu…”
“Maksud Bapak, berarti peristiwa ini bukan sebuah tragedi?” tanya wartawan Solo Pos.
“Ini merupakan takdir yang harus diterima dengan lapang dada. Tentu saja semua keluarga dan handai-taulan tidak menghendaki peristiwa ini menimpa mereka, tetapi takdir Tuhan tak ada yang bisa menolaknya. Sedangkan, takdir kematian yang dialami setiap orang yang akan beribadah menghadap Allah, niscaya Allah dan para malaikat-Nya akan menyambut mereka di pintu surga dengan penuh suka-cita…”
“Berarti bukan peristiwa tragis yang absurd dong?” ulang wartawan Kabar Madura.
“Kalaupun Anda menyebut peristiwa ini sebagai tragedi, semestinya sebutan tragedi itu ditujukan kepada saya yang tidak jadi berangkat, dan tidak ikut-serta bersama mereka untuk mendapat anugerah kesyahidan. Itu artinya, saya boleh dinilai belum pantas atau belum matang sebagai buah yang pada waktunya harus dipetik….”
“Berarti masih mentah?” tanya wartawan majalah Flora.
“Tepat sekali, boleh jadi saya dan kalian semua masih mentah, dan belum waktunya untuk menghadap Allah Sang Pencipta,” tegas sang tokoh.
Para wartawan semakin tertegun mendengar uraian yang filosofis sekaligus religius tersebut. Sang tokoh sendiri tidak menyadari bahwa kejadian yang menimpanya, telah dapat memutar-balikkan logika umum yang menganggap “maut” adalah tragedi yang mengenaskan dan memilukan. Dalam kasus yang menarik ini, justru maut dapat menjelma sebagai anugerah, ketika Tuhan merindukan orang-orang syahid yang siap datang ke pangkuan-Nya beserta ribuan malaikat yang ikut-serta menyambut dan segera melayani mereka.
Di sini, lagi-lagi kita disentakkan oleh corak sastra milenial yang digagas Hafis Azhari. Dari perspektif lain, banyak pengamat sastra menjuluki karyanya sebagai sastra monoteisme yang kentara jelas dalam lakon-lakon yang ditampilkan pada cerpen “Kabar Kematian Seorang Pujangga” (litera.co.id).
Kadang ia pun menggagas persoalan eskatologis dan ilmu tentang akhir zaman secara rileks dan penuh hikmah. Baginya, ketika manusia sudah berserah diri pada Sang Khalik yang Menggenggam jagat raya ini, apa lagi yang mesti ditakuti jika Dia sudah menenangkan dan menentramkan batin hamba-hamba yang dicintai-Nya? Lalu, kekuatan apa lagi yang bisa menolong dan membantu manusia, jika Allah sudah berpaling meninggalkan hamba yang dimurkai oleh-Nya?
Dalam sepanjang sejarah peradaban sastra Barat (Eropa-Amerika), maut atau peristiwa kematian identik dengan kutukan dan malapetaka yang dialami sang tokoh, baik protagonis maupun antagonis. Namun, tidak selamanya hal tersebut terjadi pada karya-karya monoteisme Hafis Azhari. Dalam cerpen “Kematian” justru peristiwa kematian mengandung pertanda, bahwa kasih sayang Tuhan menyertai perpulangan hamba-hamba ke pangkuan kasih-Nya yang terindah.
Tak berlaku logika “kebetulan” yang memantik kegelisahan eksistensial. Justru sang tokoh memberi pencerahan dengan menawarkan alternatif pemikiran kepada khalayak, bahwa tidak selamanya maut dan kematian identik dengan peristiwa tragis dan absurd seperti yang dibayangkan dalam imajinasi manusia modern. Tetapi, justru suatu hikmah dan pelajaran berharga bagi kedalaman spiritualitas pembaca yang menikmatinya. ***
Penulis adalah Pegiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa), juga peraih nominasi cerpen terbaik Litera pada 2021 lalu.








