Hidup Selaras Logos sebagai Jalan Menuju Kebahagian Sejati dalam Perspektif Cleanthes

oleh -60 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Antonius D.F. Missa

Tak dapat disangkal bahwa dunia saat ini bergerak lebih cepat diluar nalar dari apa yang bisa dibayangkan oleh manusia. Ditengah arus perkembangan teknologi yang semakin pesat ini, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu, melainkan telah bermanifestasi menjadi kerangka baru dalam cara manusia berpikir, bekerja, dan merasakan. Dapat dilihat bahwa AI telah mempunyai otoritas atas hidup manusia.

Dikatakan demikian sebab manusia saat ini memiliki ketergatungan yang berlebihan kepada AI dalam usaha pencarian makna hidup mereka, dimana algoritma yang mampu membaca kepribadian setiap orang sehingga ia bisa memberikan penawaran sesuai dengan keinginan setiap orang.

Semua ini terbukti dalam laporan microsoft work trend index tahun 2023, mengatakan bahwa lebih dari 70 persen para pekerja mengaku telah menggunakan AI untuk mempermudahkan dalam tugas-tugas yang menggantikan kerja kelompok menjadi kerja individu. Dalam kasus diatas menunjukan sebuah pergeseran dari kolaborasi manusia beralih ke delegasi kepada mesin.

Manusia kini kehilangan hakikat diri mereka sebagai makhluk sosial, dimana komunikasi dengan chatbot dirasa lebih meyakinkan daripada komunikasi antar sesama manusia. Berangkat dari problem tersebut, lantas muncul suatu pertanyaan mendasar dan reflektif: apakah manusia masih bisa dikatakan bahagia disaat alur pencarian makna hidup, mereka telah diskenariokan oleh kecerdasan buatan (AI)?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita dapat melihat sebuah pemikiran dari seorang pemikir Yunani bernama Cleanthes tentang arti sebenarnya dari kebahagiaan. Menurut perspektif Cleanthes “kebahagiaan sejati lahir dari hidup yang selaras dengan Logos”. Hidup salaras dengan logos adalah sebagai berikut; kita harus hidup sesuai dengan alam kita yang paling dalam. Yang dimaksudkan yakni akal budi, bukan nafsu atau kebiasaan bersosial media.

Dalam aplikasi replika yang dikenal sebagai sebuah chatbot berbasis AI dan dirancang untuk menjadi “teman virtual” dan terbukti lebih dari 30 juta kali diunduh secara global. Penggunaan aplikasi ini mengaku bahwa dijadikan sebagai pengganti percakapan dengan manusia. Maka disinilah terlihat manusia bisa digantikan dengan kecerdasan buatan yang sudah tidak bijaksana lagi oleh manusia.

Cleanthes menggambarkan Logos sebagai api ilahi yang mengatur seluruh semesta dan mengikat segala sesuatu dalam keselarasan. Api Ilahi ini yang kemudian mengalir dalam diri setiap manusia dan mengatur keselarasan hidup manusia dengan alam (kosmos).

Menurut Cleanthes, manusia bahagia bukan karena memiliki banyak harta atau kekuasaan atau harus berpouse diri dalam media sosial, atau menjadikan aplikasi replika dan menjadi bahagia melainkan mampu hidup sesuai dengan alam. Pemikiran Cleanthes ini, mampu menjadi cermin yang sangat tajam ketika kita arahkan ke era kecerdasan buatan (AI).

Pernahkah kita merasa kesepian lalu membuka ponsel, scroling tanpa adanya suatu tujuan dan merasa lebih tenang dan kembali merasa lebih baik? Sadarkah kita bahwa tindakan itu sebenarnya bukan kebahagiaan. Kita perlu bersikap jujur bahwa itu tidak bahagia tetapi hanya meredakan keadaan kita yang kurang stabil. Jelaslah bahwa itu bukan kebahagiaan.
Perlu kita sadari juga bahwa AI dirancang hanya untuk membuat kita merasa nyaman, dipahami, dan terpuaskan, serta dipermudahkan.

Namun, apakah kita tahu bahwa dibalik semuanya itu sebuah paradoks yang tumbuh secara diam-diam? Disini terdapat sebuah penilitian yang datang dari MIT Media Lab menunjukan bahwa setiap orang yang semakin sering berinteraksi dengan AI yang besifat empatik, akan timbul masalah baru yakni rendahnya toleransi mereka terhadap ketidaknyamanan dalam hubungan antarmanusia. Dari paradoks ini Cleantes akan mencap kita sebagai manusia yang hidup melawan alam. Realitas yang nampak justru membuat banyak orang hidup dalam kekosongan dan lebih jauh dari kebahagiaan.

Secara tidak sadar kita sedang melatih diri untuk menghindari kemanusiaan. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa hubungan diantara manusia itu seringkali berantakan, kadang juga menyakitkan, tetapi perlu kita ketahui bahwa disitulah seseorang benar-benar menjadi manusia sehingga kita bisa belajar bersama untuk bertumbuh jauh lebih baik dan menjadi kemsempatan luar biasa bagi kita untuk lebih mengenal diri lebih dalam sambil berdapingan bersama orang lain.

Kebahagiaan sejati menurut perspektif Cleantes “manusia tidak bergantung pada apa yang terjadi padamu, melainkan apa yang ada pada dirimu yakni akal sehat kita yang meresponnya. Kini sudah tiba saatnya kita sebagai manusia harus berhenti bertanya kepada AI tentang bagaimana cara kita bahagia tetapi mulailah bertanya pada diri kita sendiri, bagaimana saya harus bahagia.

Perlu kita pahami bersama bahwa Logos bukan kode yang bisa diprogramkan tetapi sadarilah bahwa AI adalah sebuah api yang menyala ketika dua jiwa manusia saling berhadapan dengan berbagai kekurangan, canggung, dan hadir dalam ketidaksempurnaannya dan jika kita saling melengkapi disitulah timbul suatu kebahagiaan tersendiri inilah yang tidak bisa dan tidak akan pernah bisa diberikan oleh mesin manapun.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.