Gereja Harus Berani Turun Tangan: Menjadi Tempat Berteduh bagi Rakyat Kecil

oleh -187 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Agustinus Bili Mude

Pada tahun 2013 lalu, Paus Fransiskus pernah bicara hal yang sangat menyentuh nurani dalam sebuah wawancara. Beliau bilang: “Saya melihat Gereja sebagai sebuah rumah sakit lapangan setelah pertempuran.” Beliau bicara begitu karena merasa Gereja waktu itu terlalu sibuk dengan urusan administrasi, aturan-aturan kaku, atau sekadar urusan kantor di dalam gedung, sementara orang-orang di luar sana sedang terluka parah. Bagi Paus, tugas pertama Gereja adalah menyembuhkan luka. Kalau ada orang sekarat di depan mata, kita tidak perlu tanya apa agamanya atau berapa banyak dosanya, yang penting selamatkan dulu nyawanya.

Di Nusa Tenggara Timur (NTT), kita butuh semangat seperti ini. Belajar agama atau bicara tentang Tuhan tidak boleh cuma berhenti di ruang kelas atau di mimbar gereja saja. Ilmu ketuhanan itu harus punya kaki untuk jalan ke pasar, ke sawah, dan ke rumah-rumah penduduk yang sengsara. Kita harus berani keluar untuk menjemput mereka yang terabaikan di tengah “pertempuran” hidup yang sangat berat ini. Gereja harus keluar dari Aku Ke Akuan menerobos dinding penghalang dan harus berjumpa dengan mereka yang suara seruanya butuh didengarkan, Gereja harus terluka dan sengsara bersama mereka.

Bukan Nasib, Tapi Salah Sistem Satu hal yang harus kita sadari, kemiskinan di NTT ini bukan karena Tuhan tidak sayang, dan bukan semata-mata karena rakyat malas. Kalau kita mau jujur, kemiskinan massal di sekitar kita sering kali terjadi karena sistem yang tidak adil. Ada kebijakan yang salah, ada hak petani yang dirampas, dan ada praktik korupsi yang memakan jatah rakyat kecil.

Inilah yang kita sebut sebagai dosa di dalam sistem masyarakat,Bhakan milik pribadi masyarakat yang ada Di tanah masyarakat itu sendiri dijadikan milik sistem pemerintah, Tambang emas, Tanah, Hutan, bahkan ada masyarakat kecil yang coba menghalangi pembabatan hutan oleh sistem divonis hukum penjara. Disinilah peran Gereja dibutukan.

Di India, ada kelompok yang disebut kaum Dalit, orang-orang yang dibuang dan tidak dianggap oleh masyarakat. Di NTT, “kaum Dalit” itu adalah saudara-saudara kita yang jadi korban perdagangan orang, anak-anak kita yang menderita stunting karena kekurangan gizi, sampai para pekerja migran yang pulang hanya tinggal nama dalam peti jenazah. Kita tidak boleh bilang “ah, itu sudah nasib mereka”.

Tidak. Tuhan pasti menangis melihat manusia ciptaan-Nya menderita karena sistem yang tidak adil. Di sini, Gereja harus hadir bukan untuk menyuruh rakyat pasrah, tapi untuk membela dan mencari jalan keluar dengan cara, Gereja harus hadir selalu dan berjalan bersama-sama โ€œsinodalitasโ€ untuk menciptakan โ€œBonum comonioโ€

Allah yang Memihak Rakyat Kecil Tuhan yang kita imani adalah Tuhan yang memihak kepada orang kecil. Dia tidak menunggu kita di dalam gedung-gedung indah yang tertutup rapat, tapi Dia hadir di tengah debu jalanan, di dalam tangisan ibu yang kehilangan anaknya, dan di dalam keringat buruh yang upahnya tidak seberapa.

Yesus sendiri mati di kayu salib karena Dia berdiri bersama orang-orang yang terpinggirkan. Karena itu, Gereja harus punya keberanian untuk jadi “rumah sakit lapangan” tadi. Gereja tidak boleh cuma menunggu orang datang minta tolong, tapi harus aktif turun ke lapangan, melihat langsung siapa yang lapar dan siapa yang ditindas oleh keadaan.

Bukan sekadar bagi-bagi sembako, peran Gereja di NTT tidak boleh berhenti hanya pada bagi-bagi sembako atau sumbangan uang saat ada bencana. Itu memang baik, tapi tidak menyelesaikan akar masalah. Kita butuh Gereja yang berani bicara keras kalau ada ketidakadilan. Gereja harus mendampingi umat agar mereka tahu harga diri mereka dan berani memperjuangkan hidupnya yang lebih layak.

Ibadah kita setiap hari Minggu akan jadi sia-sia kalau kita tidak peduli dengan urusan sosial. Kalau kita makan roti yang diberkati di gereja, tapi kita tenang-tenang saja melihat tetangga sebelah rumah tidak punya beras untuk dimasak, berarti ada yang salah dengan iman kita. Perayaan di gereja harus membuat kita makin bersemangat untuk berbagi keadilan di kehidupan nyata sehari-hari.

Berani terluka demi sesama. Menulis ini adalah cara saya untuk mengingatkan kita semua: jangan sampai kita jadi orang beriman yang sibuk berdoa tapi tutup telinga dari jeritan sesama. Selamat itu bukan cuma nanti kalau sudah mati masuk surga, tapi selamat itu juga berarti bebas dari kelaparan dan penindasan sekarang juga di bumi ini.

Lebih baik kita punya Gereja yang “memar” dan kotor karena sibuk bantu orang di lapangan, daripada Gereja yang terlihat bersih tapi mengurung diri karena takut kotor. Mari kita cari Tuhan di tempat-tempat yang paling sulit, di tengah perjuangan rakyat yang rindu keadilan. Karena pada akhirnya, iman kita tidak dinilai dari megahnya gedung gereja, tapi dari berapa banyak orang yang merasa terbantu dan merdeka karena kehadiran kita.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.