Gereja dan Kultur Digital: Menampilkan Wajah Sukacita di Dunia Baru

oleh -42 Dilihat
banner 468x60


Oleh: Paskalis Setiawan Mamput

Kemajuan dunia dewasa ini berlangsung begitu cepat. Wajah perubahan tampak begitu kontras dalam peralihan dari satu dekade ke dekade berikutnya. Itulah zaman baru, zaman yang semakin memenuhi ekspektasi manusia yang menghendaki sesuatu terlaksana secara cepat, mudah, ringan, dan berkualitas. Apa yang diinginkan saat ini tidak lagi membutuhkan waktu yang lama untuk dapat terpenuhi. Apalagi kehadiran Artificial Intelligence (AI) yang telah merambah berbagai lini kehidupan manusia.

Kemajuan yang terjadi saat ini tentu saja memberikan dampak positif yang begitu besar dalam berbagai dimensi kehidupan manusia baik di bidang ekonomi, politik, agama, kesehatan, dan lain sebagainya. Perkembangan industri pun menunjukkan perubahan yang semakin cepat. Ketika sebagian besar negara masih berfokus pada konsep Industri 4.0, Swiss mulai melangkah menuju Industri 5.0 yang bertumpu pada kecerdasan buatan, robotika, serta kolaborasi antara manusia dan mesin cerdas.

Melalui Swiss Smart Factory di Biel, Kanton Bern, Indonesia pun mulai membuka peluang kerja sama untuk mempelajari dan mengembangkan teknologi tersebut. Kerja sama ini menjadi langkah penting dalam memperkuat ekosistem industri sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Kehadiran Industri 5.0 menunjukkan bahwa dunia kerja semakin bergerak menuju perpaduan antara manusia dan teknologi cerdas. Perkembangan ini menjadi salah satu gambaran bahwa kehidupan manusia sedang memasuki suatu zaman baru yang semakin terintegrasi dengan teknologi.

Tak mau ketinggalan kereta, gereja pun pelan-pelan menumpang di gerbong yang sama dengan sejuta niat iman dan hasrat pewartaan. Mulai dari Vatikan, keuskupan-keuskupan, institusi hidup bakti, paroki-paroki, hingga lingkungan umat basis, dunia digital telah digunakan sebagai ruang untuk bersaksi dan mewartakan iman yang hidup dan aktual. Konten-kontennya bisa berupa informasi dan formasi kehidupan menggereja. Penggunaan teknologi ini pun sudah banyak digunakan untuk hal-hal yang lain yang mungkin bertentangan dengan ideal kehidupan bersama atau kehidupan pribadi. Yang menjadi pertanyaan bagi kita, bagaimana perkembangan dalam dunia digital bisa menampilkan suatu wajah baru yang membiaskan pesona-pesona sukacita dan bukan wajah sedih yang mencemaskan?

Kultur Baru dalam Dunia Berwajah Baru
Revolusi Industri merupakan wajah baru bagi dunia yang berpengaruh pada perubahan cara hidup dan cara kerja manusia. Kemajuan teknologi informasi sudah mengintegrasikan dunia riil dengan dunia virtual dalam suatu disiplin ilmu. Hal ini menjadi sebuah terobosan baru dalam bidang artificial intelligence, di mana teknologi komputer mengadopsi keahlian seseorang ke dalam aplikasi elektronik yang dikendalikan secara otomatis (Hamdan, 2018). Aplikasi-aplikasi elektronik lebih terasa dalam dunia bisnis pemasaran. Nyatanya, berbisnis dalam dunia digital memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan ada dalam aplikasi digital. Para pemilik produk tidak lagi menjual barang secara langsung tetapi cukup dipajangkan dalam jejaring. Kemajuan ini mempermudah cara kerja manusia yang idealnya memberikan efek kepuasan, kemudahan, sukacita, dan kebahagiaan dalam hidup.

Dalam lingkungan Gereja, kehadiran dunia digital dipandang sebagai sukacita baru. Mendiang Paus Fransiskus pada Hari Raya Komunikasi Sedunia, pada tahun 2016 yang lalu menyebut internet sebagai anugerah dari Tuhan. internet dipandang sebagai situasi dunia baru yang harus dimasuki karena dapat menjadi sarana pewartaan injil (Widyawan, 2019). Dunia digital berhasil memberi harapan baru bagi kehidupan yang lebih baik. Dunia baru yang bisa mengantarkan orang kepada kedamaian, kebebasan, kesuksesan, kemakmuran, sukacita, dan sebagainya.

Pada tahun 1990, Paus Yohanes Paulus II sebetulnya sudah menyatakan bahwa teknologi komunikasi sosial adalah sebuah kultur baru yang akan terus berkembang. Lebih lanjut pada tahun 2002, Dewan Kepausan untuk komunikasi Sosial juga menyatakan bahwa perkembangan teknologi internet adalah ahsil dari ikhtiar manusia untuk menggali pelbagai kekayaan dan nilai yang terkandung dalam ciptaan. Perkembangan teknologi merupakan “anugerah Allah yang sesuai dengan kehendak Allah untuk menyatukan manusia dalam persaudaraan dan membantu keselamatan mereka” (Widyawan, 2019).

Sungguh menarik untuk diperhatikan bahwa dokumen Kepausan melihat internet bukan hanya sebagai media (alat) pewartaan, tetapi juga sebagai sebuah kultur baru dalam kehidupan beriman. Teknologi informatika bukan hanya menjadi medium tetapi merupakan lingkungan budaya yang membentuk karakter kepribadian anak-anak zaman sekarang.

Kemajuan dunia informatika merupakan bagian dari perkembangan kehidupan manusia yang perlu dicermati gereja dari kacamata iman. Jika diyakini dan disadari bahwa Allah hadir dalam segala ciptaan maka kita boleh memaknai kehadiran-Nya juga dalam dunia digital. Meskipun demikian gereja melihat bahwa realitas virtual tidak bisa menggantikan perjumpaan yang riil. Misalnya, Ekaristi (kehadiran nyata Kristus), pelayanan sakramen, dan ibadah yang dilakukan dalam komunitas riil dengan kehadiran fisik (flesh and blood) tidak bisa digantikan begitu saja dengan perayaan virtual. Pengalaman rohani yang terjadi dalam dunia virtual merupakan anugerah dan rahmat Allah yang tidak bisa dipisahkan dari interaksi dengan umat beriman lain dalam persekutuan yang nyata (Laksana, 2016)

Ketidakterlibatan sebagai Tantangan

Barangkali ada yang menganggap bahwa kemajuan teknologi sebagai sebuah tantangan bagi dunia dan Gereja. argumen-argumen skeptis bisa saja bermunculan bersamaan dengan kemajuan yang ada. Tetapi sejatinya itu bukanlah tantangan yang sesungguhnya. Nuansa ini sebenarnya membuat orang-orang tertentu tidak mau terlibat dalam perkembangan zaman. Saat ini semua telah terhubung dengan jaringan.

Di Indonesia penggunaan internet mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil Survei Profil Internet Indonesia 2026 yang dirilis oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia kini mencapai 235,26 juta jiwa atau sekitar 81,72 persen dari total populasi Indonesia. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, ketika tingkat penetrasi internet berada pada 80,66 persen dengan jumlah pengguna sekitar 229 juta jiwa. Dengan demikian, terjadi penambahan sekitar 6 juta pengguna internet dalam kurun waktu 2025 hingga 2026. Hemat saya, angka ini bukanlah sebuah keprihatinan atau tantangan, tetapi sukacita yang patut dibanggakan jika para pengguna mengorientasikan internet pada hal-hal yang membangun kultur kehidupan.

Ketidakmampuan untuk berubah dan beradaptasi dengan kemajuan teknologi informatika akan membuat seseorang minder dan terisolir. Dia tidak mampu masuk dalam gelanggang kompetisi zaman now. Paus Fransiskus mengimbau agar kita tidak segan-segan menjadi warga dunia digital (warganet). Gereja perlu menceburkan diri dalam dunia digital. Patut diakui bahwa perhatian dan kehadiran Gereja dalam dunia komunikasi merupakan upaya untuk berdialog dengan dunia masa kini dan mengantarnya pada perjumpaan dengan Kristus.

Oleh karena itu, kesadaran akan perubahan zaman sangat penting. Gereja dipanggil untuk tidak sekadar hadir dalam kultur digital tetapi juga membawa identitas dan nilai-nilai Injil di dalamnya. Dunia digital hendaknya tidak hanya menjadi ruang untuk menyampaikan informasi keagamaan, tetapi juga menjadi ruang untuk menghadirkan sukacita, harapan, persaudaraan, dan kepedulian. Pada saat yang sama, Gereja perlu mengingat bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan nilai perjumpaan manusiawi yang nyata.

Dengan demikian, persoalannya bukan lagi apakah Gereja perlu hadir dalam dunia digital, sebab dunia digital telah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Persoalan yang mesti dipertimbangkan ialah wajah seperti apakah yang mesti ditampilkan Gereja di dalam dunia digital. Pada dasarnya Gereja dipanggil untuk menghadirkan wajah Kristus yang membawa sukacita, pengharapan, kebenaran, persaudaraan, dan kepedulian.

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.